Bisnis / Keuangan
Senin, 15 Juni 2026 | 08:13 WIB
Ilustrasi Bank Indonesia. [Suara.com]
Baca 10 detik
  • Nilai tukar rupiah menguat ke level Rp17.865 per dolar AS pada 12 Juni 2026 dibandingkan pekan sebelumnya.
  • Bank Indonesia menerapkan bauran kebijakan moneter yang berhasil menarik aliran modal asing masuk ke instrumen keuangan domestik.
  • Kerja sama keuangan dengan bank sentral Tiongkok dan Hong Kong memperkuat stabilitas serta mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan penyebab rupiah menguat. Pasalnya, nilai tukar rupiah pada hari Jumat 12 Juni 2026 berada pada level Rp 17.865/75 per dolar AS atau menguat sebesar 0,84 persen.

Angka ini menguat dibandingkan penutupan tgl 5 Juni 2026 di level Rp 18.010/20 per dolar AS. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan angka ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan Bank Indonesia.

"Kebijakan tersebut meliputi kenaikan BI-Rate menjadi 5,50 persen penguatan struktur suku bunga SRBI, pemberian insentif hedging swap bagi investor asing, pembukaan akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan, serta peningkatan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing," katanya dalam jawaban tertulis yang diterima, Senin (15/6/2026).

Dia mengatakan, pasca-kenaikan BI Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif, didukung oleh daya tarik instrumen keuangan domestik.

Tingginya minat investor global tecermin dari peningkatan inflows transaksi SRBI nonresiden dan SBN yang pada tanggal 10 dan 11 Juni 2026 masing-masing tercatat sebesar Rp15,11 triliun dan Rp3,91 triliun.

"Aliran masuk modal asing juga terjadi pada obligasi internasional Danantara yang penjualan perdananya berhasil mencapai Rp26,9 triliun. Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik," bebernya.

Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]

Dia menambahkan, ketahanan eksternal semakin diperkuat melalui kerja sama keuangan antara Bank Indonesia, People's Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA).

Terdapat tiga kesepakatan yang dihasilkan, yaitu sinergi memperkuat tidak hanya ketahanan keuangan masing-masing negara melainkan stabilitas keuangan yang regional yang lebih luas, penguatan Bilateral Currency Swap Agrrement (BCSA), serta penguatan komitmen penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui perluasan Local Currency Transaction (LCT).

"Langkah tersebut akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," jelasnya.

Baca Juga: Dasco Puji BI yang Bikin Kuat Rupiah: RI Kini Tak Bergantung Dolar AS

Bank Indonesia akan terus hadir di pasar, mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan secara konsisten dan terukur.

Serta memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.

"Dengan berbagai perkembangan diatas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap dolar AS menuju ke level fundamentalnya," tandasnya.

Load More