Bisnis / Makro
Kamis, 30 Juli 2026 | 20:47 WIB
COIN membukukan pendapatan sebesar Rp33,15 miliar pada kuartal II-2026. (Dok: COIN)

Suara.com - Kinerja PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) terdampak oleh kondisi pasar aset kripto yang dipenuhi tekanan pada kuartal II-2026. Tekanan tersebut kembali melanjutkan dinamika yang terjadi sejak awal tahun imbas dari pelemahan harga aset kripto, ketidakpastian makroekonomi, serta rotasi portofolio investor ke instrumen yang lebih defensif.

Volatilitas pasar aset kripto telah membuat kapitalisasi pasar aset kripto global susut 12,6%
secara kuartalan dari US$2,4 triliun menjadi US$2,1 triliun pada kuartal II-2026. Sejalan dengan tren global, volume transaksi aset kripto di Indonesia juga mengalami koreksi sebesar 11,6% Quarter-over-Quarter (QoQ), dari Rp75,83 triliun menjadi Rp67,03 triliun.

Sejalan dengan siklus pasar yang tengah melambat, pencapaian pendapatan Perseroan turut terkena imbasnya. COIN membukukan pendapatan sebesar Rp33,15 miliar pada kuartal II-2026, merefleksikan penurunan 20% dari capaian kuartal I-2026 yang sebesar Rp41,49 miliar.

Direktur Utama PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) Ade Wahyu mengungkapkan, di tengah penurunan pendapatan secara umum, Perseroan mengalami katalis pertumbuhan yang positif dari segmen derivatif. Segmen ini terbukti memiliki daya tahan yang baik dan mulai bertransformasi menjadi mesin pertumbuhan baru bagi COIN.

Berbeda dengan tren global di mana volume transaksi derivatif di 10 bursa kripto dunia terbesar terkoreksi 10% secara kuartalan (data CoinGecko), kinerja derivatif COIN justru
bergerak positif. Tercatat, pendapatan dari segmen ini naik 6% secara QoQ menjadi Rp12,1
miliar pada periode April hingga Juni 2026.

“Pencapaian ini memperlihatkan perkembangan positif terhadap minat produk derivatif di Indonesia, yang berhasil tumbuh di saat tren global mengalami koreksi. Saat ini transaksi
derivatif berkontribusi terhadap 36,5% dari pendapatan COIN di kuartal II-2026, memposisikan segmen ini sebagai kunci penting yang mendorong pendapatan Perusahaan ke depan,” jelas Ade.

Untuk memitigasi dampak dinamika pasar, Manajemen COIN juga terus memperkuat posisi neraca keuangan. Perseroan membukukan aset lancar sebesar Rp366,6 miliar, yang menempatkan likuiditas dalam posisi solid, yakni mencapai 17 kali lipat dari total liabilitas. Kondisi tersebut memberikan bantalan pelindung yang kuat bagi kegiatan operasional dan kelanjutan inisiatif strategis Perseroan.

Lebih lanjut, Perseroan secara konsisten menjalankan efisiensi dan langkah deleveraging yang stabil. Pada akhir Juni 2026, COIN berhasil memangkas total liabilitas hingga 61% menjadi hanya Rp21,1 miliar, sehingga total utang Perusahaan tetap terjaga pada level yang sangat terkendali.

Pada kuartal II-2026, COIN juga melaporkan telah merealisasikan dana hasil Penawaran Umum Perdana Saham (IPO) sebesar Rp49,99 miliar, atau setara dengan 24% dari total raupan dana sebesar Rp220,59 miliar. Seluruh dana yang telah direalisasikan tersebut difokuskan untuk penguatan sistem dan infrastruktur pada masing-masing Perusahaan Anak yakni PT Central Finansial X (CFX) selaku Bursa Aset Kripto pertama di Indonesia, dan PT Kustodian Koin Indonesia (ICC) selaku lembaga penyimpanan aset kripto yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca Juga: BRI Perkuat UMKM Kepulauan Talaud Lewat Dedikasi Mantri BRI

“Kami mengedepankan strategi yang prudent dan berlandaskan prinsip kehati-hatian dalam penggunaan dana hasil IPO, guna memastikan pemanfaatan dana dilakukan secara lebih efisien, tepat sasaran, serta mampu memberikan multiplier effect yang optimal dalam mendukung rencana strategis jangka panjang Perseroan dan Perusahaan Anak,” tutup Ade.***

Load More