- PGN-BRIN sulap 32 hektare lahan salin Batang jadi sentra pangan.
- Target panen padi biosalin capai 6-7 ton per hektare.
- Minapadi salin gabungkan padi, nila, dan rumput laut bernilai ekonomi.
Suara.com - PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) terus memperluas kontribusinya di luar sektor energi. Melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), PGN bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Pemerintah Kabupaten Batang meluncurkan Program Minapadi Salin di kawasan Pantai Sicepit, Kelurahan Kasepuhan, Kabupaten Batang.
Program ini menjadi terobosan pemanfaatan lahan pesisir yang terdampak salinitas tinggi menjadi kawasan produktif berbasis pertanian dan perikanan. Tak hanya menanam padi biosalin, program ini juga mengintegrasikan budidaya ikan nila salin dan rumput laut sebagai sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.
Peluncuran program ditandai dengan pelepasan 10.000 benih ikan nila salin serta penanaman benih padi biosalin di lahan seluas 32,26 hektare yang dikelola Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Barokah Mulyo bersama sejumlah kelompok tani setempat.
Program Minapadi Salin merupakan pengembangan dari program serupa yang sebelumnya sukses diterapkan di Mangunharjo, Semarang dan Jepara. Di Semarang, luas lahan yang semula hanya 20 hektare kini berkembang menjadi lebih dari 115 hektare. Sementara di Jepara, panen padi biosalin mencapai 22 hektare dengan nilai ekonomi sekitar Rp 1,23 miliar. Secara keseluruhan, program padi biosalin yang telah berjalan menghasilkan nilai ekonomi mencapai Rp 7,66 miliar.
Bupati Batang M. Faiz Kurniawan menilai program ini menjadi langkah strategis untuk mengubah lahan salin yang selama ini kurang produktif menjadi kawasan pertanian dan perikanan bernilai ekonomi tinggi.
"Program ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat pesisir melalui pemanfaatan lahan salin yang lebih produktif," kata Faiz.
Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Dr. Yopi, mengatakan Program Minapadi Salin membuktikan bahwa hasil riset dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab tantangan di lapangan.
Menurutnya, inovasi pertanian di lahan pesisir mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat.
"BRIN tidak ingin hasil riset hanya berhenti di laboratorium, tetapi harus hadir di tengah masyarakat dan menjadi solusi nyata bagi persoalan daerah," ujarnya.
Baca Juga: Bukan Cuma Megathrust, Sesar Misterius Ini Membentang dari Jakarta ke Surabaya, Seberapa Bahaya?
Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman menegaskan, sebagai Subholding Gas Pertamina, PGN berkomitmen menghadirkan program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
Ia menjelaskan, konsep Minapadi Salin menggabungkan budidaya padi biosalin, pemeliharaan ikan nila salin, dan budidaya rumput laut dalam satu ekosistem ekonomi yang saling mendukung.
"Program Minapadi Salin merupakan wujud nyata komitmen tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional," ujar Fajriyah.
Dalam program ini, PGN dan BRIN menargetkan produktivitas padi mencapai 6-7 ton per hektare. Sementara ikan nila salin diharapkan dapat dipanen dengan bobot rata-rata 300 gram per ekor.
Tak hanya itu, komoditas rumput laut jenis Gracilaria verrucosa yang memiliki nilai ekonomi tinggi juga mulai dibudidayakan. Sebanyak 30 kilogram bibit telah ditebar dengan target panen perdana dalam waktu sekitar tiga bulan.
Ke depan, program ini juga akan diperkuat dengan penanaman mangrove di sekitar kawasan budidaya guna mengurangi abrasi sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
Dengan pendekatan terintegrasi antara pertanian, perikanan, dan konservasi lingkungan, PGN berharap lahan salin yang selama ini dianggap tidak produktif dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
Berita Terkait
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Nadiem Makarim Tantang Audit BPKP di Sidang Banding, Minta Hakim Periksa Ulang Bukti
-
Prabowo dan PM Thailand Sepakati Kemitraan Strategis Baru, Fokus Pangan hingga Energi
-
Jangan Korbankan Nyawa Demi Target! BGN Didesak Usut Tuntas Keracunan Massal MBG di Semarang
-
Trauma Kolektif: Pagar Tinggi Mal Ingatkan Warga pada Kerusuhan Agustus
-
Kasus Bayi Dijual Rp20 Juta Belum Tuntas, Polisi Didesak Usut Sosok Pemberi Uang
-
Dipukul Balok Kayu, Wanita di Palembang Gagalkan Aksi Begal hingga Pelaku Ditangkap
-
Dua Kata Tijjani Reijnders Usai Timnas Indonesia Dibantai Vietnam 0-3
-
Ingin Rumah Terasa Lebih Elegan? Tren Interior Kini Mengandalkan Permainan Cahaya dari Keramik
-
Haykal Ungkap Hal yang Bikin Tak Nyaman di Palembang, Pengemis hingga Sungai Jadi Sorotan
-
Kreativitas Generasi Muda Indonesia Berbuah Manis, Ribuan Pelajar Sukses Bangun Bisnis