- Danantara mengalokasikan dana investasi Rp20 triliun untuk membangun industri perunggasan guna mendukung Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia.
- BRI Danareksa Sekuritas menilai proyek tahap awal Danantara belum akan menekan kinerja emiten peternakan swasta dalam jangka pendek.
- Fokus proyek Danantara pada ekosistem tertutup dan keterbatasan lahan menyebabkan risiko kelebihan pasokan ayam tetap terkendali hingga 2029.
Suara.com - Danantara Indonesia mulai memperlebar sayapnya untuk masuk bisnis industri ayam atau perunggasan. Setidaknya, dana Rp20 triliun akan digelontorkan Danantara untuk membangun industri tersebut.
Masuknya Danantara ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi bisnis emiten-emiten peternakan. Karena, industri yang akan dibangun pengelola BUMN itu sangat besar.
Namun, BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya menilai, langkah Danantara itu belum akan memberikan tekanan terhadap emiten-emiten peternakan dalam waktu dekat.
BRI Danareksa menilai fundamental industri perunggasan dalam jangka pendek masih tetap terjaga meski pemerintah terus mendorong hilirisasi sektor unggas melalui Danantara.
"Proyek perunggasan Danantara diperkirakan akan menyasar segmen yang berbeda dengan perusahaan integrator. Kami tetap mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor ini," tulis analis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya seperti dikutip, Kamis (25/6/2026).
Menurut BRI Danareksa, proyek hilirisasi unggas Danantara yang dijalankan melalui Berdikari masih berada pada fase awal. Meski telah mengantongi komitmen pendanaan sebesar Rp20 triliun melalui pinjaman investasi dengan tenor hingga lima tahun, realisasi proyek di lapangan masih menghadapi sejumlah tantangan.
Salah satu kendala utama adalah ketersediaan lahan di wilayah sasaran yang mayoritas berada di luar Pulau Jawa.
Selain itu, proyek tersebut lebih difokuskan untuk membangun ekosistem tertutup (closed-loop ecosystem) guna mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG), termasuk pembangunan pabrik pakan di Bone, Lampung, dan Gorontalo.
BRI Danareksa Sekuritas juga melihat risiko kelebihan pasokan ayam atau oversupply berpotensi lebih kecil dibandingkan perkiraan sebelumnya. Hal itu seiring target kuota impor Grand Parent Stock (GPS) sebanyak 800 ribu ekor diperkirakan tidak akan terealisasi sepenuhnya.
Baca Juga: DSI Berpotensi Gerus Laba Emiten, Bisnis AALI hingga ITMG Bisa Lesu
"Target awal kuota Grand Parent Stock (GPS) sebesar 800 ribu ekor kemungkinan tidak akan terealisasi sepenuhnya, sehingga kondisi keseimbangan pasokan dan permintaan pada tahun buku 2028 hingga 2029 diperkirakan akan lebih baik," tulis analis.
Selain itu, skema impor soybean meal (SBM) melalui Berdikari yang telah berjalan selama sekitar dua bulan juga diperkirakan mulai memberikan dampak positif terhadap margin bisnis pakan pada kuartal III 2026.
"Impor soybean meal (SBM) melalui Berdikari telah berjalan selama dua bulan, dengan dampak terhadap margin bisnis pakan diperkirakan akan terlihat secara penuh pada kuartal III 2026," lanjut riset tersebut.
Di tengah berbagai inisiatif pemerintah tersebut, BRI Danareksa Sekuritas tetap optimistis terhadap prospek sektor poultry. Saat ini, sektor tersebut diperdagangkan pada valuasi sekitar 3,8 kali, atau sekitar 1,5 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun, sehingga dinilai telah mencerminkan kondisi harga live bird (LB) yang masih rendah.
Analis juga mempertahankan rekomendasi Overweight terhadap sektor peternakan. Mereka menilai sebagian besar proyek pemerintah masih berada pada tahap awal pengembangan dan lebih difokuskan untuk mendukung program MBG serta memenuhi kebutuhan di wilayah yang selama ini belum banyak terlayani.
Sementara itu, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) tetap menjadi saham pilihan utama karena memiliki posisi yang dinilai lebih menarik dibandingkan emiten sejenis. Untuk jangka pendek, analis memperkirakan harga live bird mulai pulih pada Juli 2026 seiring membaiknya permintaan.
Meski demikian, terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati investor, mulai dari potensi tidak berlanjutnya program MBG, tingginya inflasi, hingga pelemahan nilai tukar rupiah yang dapat memengaruhi kinerja industri perunggasan.
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
Arus Peti Kemas Melesat, Ekspor Tapioka hingga Udang Jadi Motor Pertumbuhan
-
Impor Minyak dari Rusia Telah Jalan, Tapi Bukan Pertamina Melainkan Lemigas
-
Skandal 'Bisnis Haram' Izin WNA di Bali, KPK Periksa Enam Saksi Agensi Visa
-
Mengapa Mati Lampu Sering Terjadi di Negeri Eksportir Batu Bara Terbesar Dunia?
-
Purbaya Mau Naikkan Anggaran Transfer ke Daerah hingga Rp 90 Triliun di 2027
-
IHSG Bangkit ke Level 6.000 di Sesi I, Saham TPIA dan TOWR Bersinar
-
Isu Kelangkaan Batu Bara Bikin Listrik Padam, Pengamat Soroti 'Pengusaha Nakal'
-
Produk UMKM Lokal Bakal Diprioritaskan Muncul di Laman Marketplace, Begini Aturannya
-
Setujui Tenor KPR FLPP hingga 40 Tahun, Pemerintah Pertahankan Bunga Rumah Subsidi 5 Persen
-
HSBC Indonesia Nilai Akses Pembiayaan Modal Kerja Penting Buat UMKM