Bisnis / Keuangan
Kamis, 25 Juni 2026 | 15:29 WIB
Bos Grup Salim, Anthony Salim. [IST].
Baca 10 detik
  • MNC Sekuritas merevisi turun proyeksi laba bersih PT Indofood Sukses Makmur Tbk tahun 2026 sebesar 7,2 persen.
  • Pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga bahan baku impor membebani margin laba segmen Consumer Branded Products.
  • Potensi pemulihan bisnis agribisnis dan stimulus pemerintah diharapkan dapat menopang kinerja perusahaan pada semester dua 2026.

Suara.com - MNC Sekuritas mengungkapak bisnis consumer goods PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) tengah menghadapi tekanan dari pelemahan nilai tukar rupiah.

Bahkan dalam risetnya, MNC Sekuritas erevisi turun proyeksi laba bersih Indofood tahun 2026 sebesar 7,2 persen. Revisi tersebut mempertimbangkan kenaikan harga gandum, minyak nabati, bahan bakar, kemasan, biaya logistik, hingga volatilitas nilai tukar rupiah.

MNC Sekuritas menilai tekanan biaya akan lebih terasa pada segmen Consumer Branded Products (CBP), mengingat bisnis tersebut memiliki eksposur besar terhadap bahan baku impor seperti tepung terigu, minyak goreng, kemasan, dan bahan baku lainnya.

"Margin Bogasari juga diperkirakan mulai mengalami normalisasi setelah harga gandum meningkat sekitar 14,9 persen sejak awal tahun menjadi 610,5 dolar AS per bushel pada Mei 2026, dibandingkan 531,3 dolar AS per bushel pada Desember 2025. Pelemahan nilai tukar rupiah juga dinilai akan meningkatkan biaya pembelian kontrak berjangka," tulis MNC Sekuritas dalam risetnya yang dikutip, Kamis (25/6/2026).

Indofood [Ist]

Risiko lainnya berasal dari eksposur utang dalam mata uang asing. Hingga kuartal I 2026, total utang berbunga Indofood naik 2,1 persen secara kuartalan menjadi Rp76,2 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar 72,1 persen atau setara 3,2 miliar dolar AS merupakan utang dalam mata uang asing.

Meski utang bersih turun 4,3 persen menjadi Rp25,9 triliun karena kas meningkat menjadi Rp50,2 triliun, MNC Sekuritas mengingatkan pelemahan rupiah lebih lanjut berpotensi menghapus manfaat selisih kurs yang dinikmati pada kuartal I 2026 dan membatasi pemulihan laba pada paruh kedua tahun ini.

Di sisi lain, MNC Sekuritas melihat sejumlah katalis positif yang berpotensi menopang kinerja Indofood pada semester II 2026.

Salah satunya berasal dari pemulihan bisnis agribisnis yang didukung kondisi cuaca yang lebih normal, pulihnya produksi secara musiman, serta kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) dunia.

Analis MNC Sekuritas memperkirakan harga CPO akan berada di kisaran 4.100-4.200 ringgit Malaysia per ton sepanjang 2026, didukung implementasi kebijakan mandatori biodiesel B50.

Baca Juga: IHSG Bangkit ke Level 6.000 di Sesi I, Saham TPIA dan TOWR Bersinar

Selain itu, MNC Sekuritas juga menilai pencairan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) pada kuartal II 2026 dan potensi stimulus pemerintah tambahan pada kuartal III 2026 dapat menopang daya beli masyarakat berpendapatan rendah.

Namun demikian, MNC Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi buy untuk saham INDEF, meski memangkas target harga (target price/TP) menjadi Rp7.800 per saham.

Meski demikian, MNC Sekuritas menilai saham Indofood masih layak dikoleksi karena valuasinya dinilai menarik.

"Kami mempertahankan rekomendasi BUY untuk INDF dengan target harga yang lebih rendah, yakni Rp7.800 per saham, yang mencerminkan FY26E PE/PBV sebesar 6,2 kali/0,9 kali dan FY27F PE/PBV sebesar 6,0 kali/0,8 kali," tulis MNC Sekuritas.

Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.

Load More