- Kementerian Lingkungan Hidup mendorong transformasi pengelolaan sampah menjadi ekonomi sirkular untuk menciptakan nilai ekonomi dan mengurangi limbah nasional.
- Pemerintah mewajibkan tanggung jawab produsen atas kemasan pascakonsumsi guna memperkuat rantai pasokan bahan baku bagi industri daur ulang.
- Kolaborasi multisektoral antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat sangat krusial untuk menciptakan peluang usaha di sektor pengelolaan sampah.
Suara.com - Penerapan ekonomi sirkular dinilai tak hanya menjadi solusi untuk mengurangi timbunan sampah, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha baru melalui tumbuhnya industri daur ulang dan pengelolaan kemasan pascakonsumsi.
Direktur Ekonomi Sirkular dan Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup, Agus Rusly, mengatakan pemerintah terus mendorong transformasi pengelolaan sampah dari pendekatan linear menuju ekonomi sirkular yang menempatkan sampah sebagai sumber daya bernilai ekonomi.
"Indonesia terus memperkuat transformasi pengelolaan sampah dari pendekatan linear menuju ekonomi sirkular yang menempatkan sampah sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai," kata Agus dalam diskusi bertajuk Circular Economy in Action: Sinergi Kemitraan Multisektoral dalam Akselerasi Pengelolaan Sampah yang Berkelanjutan di Jakarta, Selasa (30/6/2026).
"Implementasi Extended Producer Responsibility (EPR) menjadi instrumen penting untuk memastikan produsen turut bertanggung jawab terhadap kemasan pascakonsumsi yang mereka hasilkan," lanjutnya.
Ia mengatakan, keberhasilan penerapan ekonomi sirkular membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, pengelola sampah, hingga masyarakat agar target pengurangan sampah nasional dapat tercapai secara efektif dan berkelanjutan.
"Agenda ini membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, industri, pelaku pengelolaan sampah, dan masyarakat agar target pengurangan sampah nasional dapat tercapai secara efektif dan berkelanjutan," ujarnya.
Founder Kita Olah Indonesia, Andriansyah, mengatakan ekonomi sirkular juga menciptakan nilai tambah bagi masyarakat karena membuka peluang usaha di sektor pengumpulan dan pengolahan sampah yang dapat didaur ulang.
Menurutnya, ketika masyarakat memilah sampah, lalu material tersebut berhasil masuk ke rantai daur ulang, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh masyarakat yang terlibat dalam proses tersebut.
"Collection for recycling bukan hanya tentang mengumpulkan material yang dapat didaur ulang. Program ini juga menciptakan peluang ekonomi bagi komunitas pengelola sampah, pengepul, dan mitra daur ulang," jelasnya.
Baca Juga: Label Ramah Lingkungan Bisa Picu Konsumsi Berlebih, Bagaimana Bisa?
Sementara itu, General Manager Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO), Reza Andreanto, mengatakan penguatan sistem pengumpulan kemasan pascakonsumsi menjadi salah satu kunci agar lebih banyak material dapat kembali dimanfaatkan sebagai bahan baku industri.
"Kemasan tidak berhenti perjalanannya setelah dikonsumsi oleh konsumen. Melalui kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak, kami telah memastikan pertumbuhan kemasan yang akhirnya dapat dikumpulkan secara terpilah dan dikelola melalui jalur daur ulang. Semakin banyak kemasan yang berhasil dipulihkan, semakin berkurang pula beban kebocoran pengelolaan sampah yang terjadi pada lingkungan dan tempat pembuangan akhir," kata Reza.
Di sisi lain, General Counsel and Head of Corporate Affairs PT Heinz ABC Indonesia, Mira Buanawat,i mengatakan pihaknya juga terus meningkatkan pemanfaatan material daur ulang sebagai bagian dari implementasi ekonomi sirkular sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap plastik baru (virgin plastic).
"Kami selalu mencari inovasi, mengurangi virgin plastic karena mahal sekali. Kami juga menggunakan recycle PET dan secara bertahap melakukan inovasi desain agar penggunaan plastiknya bisa berkurang," kata Mira.
Namun, ia mengakui pasokan bahan baku plastik daur ulang di dalam negeri masih terbatas sehingga implementasinya dilakukan secara bertahap.
"R-PET juga kan suplainya belum terlalu banyak. Jadi kami berusaha memulainya secara bertahap," ucapnya.
Ia pun menyatakan, mendukung implementasi ekonomi sirkular melalui kemitraan dengan IPRO sebagai platform kolaborasi produsen dalam pengelolaan kemasan pascakonsumsi.
"Salah satunya melalui kemitraan dengan Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO) sebagai platform kolaborasi produsen dalam pengelolaan kemasan pascakonsumsi. Kami percaya bahwa pengelolaan sampah yang berkelanjutan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja," pungkas Mira.
Berita Terkait
-
Harga Plastik Melonjak, Industri Mulai Beralih ke Kemasan Daur Ulang
-
Potensi Besar Industri Daur Ulang, Mengapa Masih Dianggap Murah dan Berkualitas Rendah?
-
Alasan Danantara Ngebet Jalankan Proyek PSEL: Masyarakat Tak Mampu Bayar Iuran Sampah
-
Pemerrintah China Awasi Baterai Kendaraan Listrik Lewat Sistem Digital
-
Label Dapat Didaur Ulang Starbucks Dipertanyakan, Pakar Ungkap Realitas Sebenarnya
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
Terkini
-
IHSG Jadi Bursa Kinerja Terburuk Global, Aksi Jual Saham Perbankan Tekan Perdagangan
-
BUMI Ambles Terus-terusan, Segini Target Harga Sahamnya
-
ICW Soroti Business Judgment Rule Danantara: Jadi Solusi atau Masalah Baru?
-
IHSG Terus-terusan Anjlok ke Level 5.671 Hingga Sesi I, BBCA Masih Merah
-
Pemerintah Siapkan Aturan Insentif Pendanaan Hijau, Libatkan Perbankan dan Swasta
-
Stok Minyak AS Ambles ke Level Terendah Sejak Era Perang Dingin
-
Pemerintah Intervensi Harga LNG, Apa Jadi Penyebab Harganya Mahal?
-
Dolar AS Perkasa: Rupiah Tertekan, Yen Jepang Jatuh ke Level Terendah dalam 4 Dekade
-
Harga Pangan Nasional Kompak Turun Hari Ini: Cabai Rawit Merah Masih Bertahan di Atas Rp57 Ribu
-
Harga Emas Antam dan Galeri 24 di Pegadaian Turun Lagi! Saatnya Borong atau Tahan Dulu?