Bisnis / Makro
Selasa, 30 Juni 2026 | 13:40 WIB
Diskusi bertajuk Circular Economy in Action: Sinergi Kemitraan Multisektoral dalam Akselerasi Pengelolaan Sampah yang Berkelanjutan di Jakarta, Selasa (30/6/2026). [Suara.com/Fakhri]
Baca 10 detik
  • Kementerian Lingkungan Hidup mendorong transformasi pengelolaan sampah menjadi ekonomi sirkular untuk menciptakan nilai ekonomi dan mengurangi limbah nasional.
  • Pemerintah mewajibkan tanggung jawab produsen atas kemasan pascakonsumsi guna memperkuat rantai pasokan bahan baku bagi industri daur ulang.
  • Kolaborasi multisektoral antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat sangat krusial untuk menciptakan peluang usaha di sektor pengelolaan sampah.

Suara.com - Penerapan ekonomi sirkular dinilai tak hanya menjadi solusi untuk mengurangi timbunan sampah, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha baru melalui tumbuhnya industri daur ulang dan pengelolaan kemasan pascakonsumsi.

Direktur Ekonomi Sirkular dan Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup, Agus Rusly, mengatakan pemerintah terus mendorong transformasi pengelolaan sampah dari pendekatan linear menuju ekonomi sirkular yang menempatkan sampah sebagai sumber daya bernilai ekonomi.

"Indonesia terus memperkuat transformasi pengelolaan sampah dari pendekatan linear menuju ekonomi sirkular yang menempatkan sampah sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai," kata Agus dalam diskusi bertajuk Circular Economy in Action: Sinergi Kemitraan Multisektoral dalam Akselerasi Pengelolaan Sampah yang Berkelanjutan di Jakarta, Selasa (30/6/2026).

"Implementasi Extended Producer Responsibility (EPR) menjadi instrumen penting untuk memastikan produsen turut bertanggung jawab terhadap kemasan pascakonsumsi yang mereka hasilkan," lanjutnya.

Ia mengatakan, keberhasilan penerapan ekonomi sirkular membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, pengelola sampah, hingga masyarakat agar target pengurangan sampah nasional dapat tercapai secara efektif dan berkelanjutan.

"Agenda ini membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, industri, pelaku pengelolaan sampah, dan masyarakat agar target pengurangan sampah nasional dapat tercapai secara efektif dan berkelanjutan," ujarnya.

Founder Kita Olah Indonesia, Andriansyah, mengatakan ekonomi sirkular juga menciptakan nilai tambah bagi masyarakat karena membuka peluang usaha di sektor pengumpulan dan pengolahan sampah yang dapat didaur ulang.

Menurutnya, ketika masyarakat memilah sampah, lalu material tersebut berhasil masuk ke rantai daur ulang, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh masyarakat yang terlibat dalam proses tersebut.

"Collection for recycling bukan hanya tentang mengumpulkan material yang dapat didaur ulang. Program ini juga menciptakan peluang ekonomi bagi komunitas pengelola sampah, pengepul, dan mitra daur ulang," jelasnya.

Baca Juga: Label Ramah Lingkungan Bisa Picu Konsumsi Berlebih, Bagaimana Bisa?

Sementara itu, General Manager Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO), Reza Andreanto, mengatakan penguatan sistem pengumpulan kemasan pascakonsumsi menjadi salah satu kunci agar lebih banyak material dapat kembali dimanfaatkan sebagai bahan baku industri.

"Kemasan tidak berhenti perjalanannya setelah dikonsumsi oleh konsumen. Melalui kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak, kami telah memastikan pertumbuhan kemasan yang akhirnya dapat dikumpulkan secara terpilah dan dikelola melalui jalur daur ulang. Semakin banyak kemasan yang berhasil dipulihkan, semakin berkurang pula beban kebocoran pengelolaan sampah yang terjadi pada lingkungan dan tempat pembuangan akhir," kata Reza.

Di sisi lain, General Counsel and Head of Corporate Affairs PT Heinz ABC Indonesia, Mira Buanawat,i mengatakan pihaknya juga terus meningkatkan pemanfaatan material daur ulang sebagai bagian dari implementasi ekonomi sirkular sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap plastik baru (virgin plastic).

"Kami selalu mencari inovasi, mengurangi virgin plastic karena mahal sekali. Kami juga menggunakan recycle PET dan secara bertahap melakukan inovasi desain agar penggunaan plastiknya bisa berkurang," kata Mira.

Namun, ia mengakui pasokan bahan baku plastik daur ulang di dalam negeri masih terbatas sehingga implementasinya dilakukan secara bertahap.

"R-PET juga kan suplainya belum terlalu banyak. Jadi kami berusaha memulainya secara bertahap," ucapnya.

Ia pun menyatakan, mendukung implementasi ekonomi sirkular melalui kemitraan dengan IPRO sebagai platform kolaborasi produsen dalam pengelolaan kemasan pascakonsumsi.

Diskusi bertajuk Circular Economy in Action: Sinergi Kemitraan Multisektoral dalam Akselerasi Pengelolaan Sampah yang Berkelanjutan di Jakarta, Selasa (30/6/2026). [Suara.com/Fakhri]

"Salah satunya melalui kemitraan dengan Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO) sebagai platform kolaborasi produsen dalam pengelolaan kemasan pascakonsumsi. Kami percaya bahwa pengelolaan sampah yang berkelanjutan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja," pungkas Mira.

Load More