Suara.com - Klaim ramah lingkungan kembali jadi sorotan di tengah persoalan sampah plastik yang kian menggunung. Label “dapat didaur ulang” kerap memberi kesan solusi, meski realitasnya tak selalu demikian.
Dalam siaran pers terbaru, Starbucks bersama Waste Management serta sejumlah organisasi daur ulang seperti The Recycling Partnership (TRP), GreenBlue, dan Closed Loop Partners mengumumkan bahwa gelas plastik sekali pakainya kini berlabel “dapat didaur ulang secara luas.”
Pengumuman ini didasarkan pada data bahwa lebih dari 60 persen rumah tangga di Amerika Serikat dapat mendaur ulang gelas sekali pakai di tempat sampah daur ulang pinggir jalan.
Namun, laporan mendalam dari Grist.org menyoroti adanya perbedaan signifikan antara tingkat akses masyarakat dengan tingkat daur ulang yang sebenarnya terjadi di fasilitas pemrosesan.
Akses dan Realitas Daur Ulang
Seorang plastics researcher dari University of Wisconsin-Stout, Alex Jordan mengatakan bahwa statistik mengenai akses bisa menjadi hal yang menyesatkan bagi publik. Meskipun konsumen telah membersihkan dan membuang gelas plastik ke tempat yang tepat, tidak ada jaminan barang tersebut akan diolah menjadi produk baru.
“Mereka dapat mengambil statistik yang akan membuat publik berpikir bahwa semua barang ini didaur ulang. Namun sayangnya, bahkan jika Anda membersihkan, mengeringkan, dan memasukkan barang daur ulang Anda ke dalam tempat sampah daur ulang, kemudian diambil, kemungkinan besar barang tersebut akan berakhir di tempat pembuangan sampah atau dibakar untuk pembangkitan energi,” kata Alex Jordan.
Data menunjukkan bahwa tingkat daur ulang nyata untuk gelas plastik polipropilena masih sangat rendah, yakni di kisaran 1 hingga 2 persen. Sebagian besar sampah ini tetap berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) atau dibakar untuk energi. Hal ini terjadi karena polipropilena sering terkontaminasi sisa makanan, sulit dipilah secara mekanis, dan biaya untuk memprosesnya mahal.
Tantangan Pasar Akhir
Baca Juga: Belanja Tanpa Plastik: Seberapa Efektif Tas Reusable Kurangi Sampah?
Masalah utamanya sederhana, tidak ada cukup pembeli untuk plastik bekas jenis ini. Artinya, meskipun gelas sudah dikumpulkan dan dipilah, banyak yang tetap tidak diproses karena tidak ada pihak yang mau menanggung biaya daur ulangnya.
Seorang manajer pusat daur ulang di California menyebut, klaim ini lebih menguntungkan berbagai pihak, memberi citra ramah lingkungan bagi perusahaan, sekaligus membuka peluang bisnis pengumpulan sampah. Namun pada praktiknya, sangat sedikit pabrik yang benar-benar mau membeli dan mengolah gelas plastik tersebut.
Data Greenpeace (2025) memperkuat hal ini. Seluruh fasilitas daur ulang di AS hanya mampu memproses sekitar 2 persen plastik jenis ini. Ditambah lagi, fasilitas yang tersedia lokasinya terbatas dan jauh, sehingga pengiriman tidak efisien.
Label “Dapat Didaur Ulang” Dipertanyakan
Meski demikian, gelas plastik ini tetap boleh diberi label “dapat didaur ulang secara luas” karena dianggap memenuhi standar akses 60 persen. Masalahnya, label ini tidak diverifikasi langsung oleh pemerintah, melainkan dikelola oleh lembaga seperti How2Recycle yang lisensinya dijual ke perusahaan.
Sejumlah pihak pun mempertanyakan keakuratan angka tersebut. Bahkan, beberapa negara bagian seperti Oregon tidak menerima gelas plastik ini dalam sistem daur ulangnya. Sementara California menetapkan aturan lebih ketat: label hanya boleh digunakan jika terbukti benar-benar didaur ulang dalam praktiknya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
Terkini
-
Cara Baru Traveling: Mengapa AI Kini Jadi Travel Agent Pribadi Anda?
-
Bolehkah Kurban 1 Ekor Kambing untuk Satu Keluarga? Begini Hukumnya dalam Islam
-
5 Parfum Lokal yang Wanginya Awet Nempel di Baju meski Sudah Dicuci
-
Di Tengah Tantangan Industri Herbal, Produk Lokal Mulai Perluas Pasar hingga Internasional
-
5 Lip Cream Lokal Alternatif Tom Ford Liquid Lip Luxe Matte: Transferproof, Awet hingga 14 Jam
-
Ferdy Sambo Kuliah S2 Dimana? Masih Jalani Hukuman di Lapas Dapat Beasiswa Magister
-
6 Basic Skincare Malam untuk Pemula, Simpel tapi Penting untuk Menjaga Kulit Tetap Sehat
-
Bedak Sudah Mengandung SPF, Perlukah Pakai Sunscreen?
-
Mengenal Lululemon, Tas Premium yang Dicuri di Bandara Soetta sampai Rugi Miliaran
-
4 Sunscreen Lokal Alternatif La Roche Posay Anthelios UVMune 400, Murah dan Anti White Cast