Lifestyle / Food & Travel
Selasa, 31 Maret 2026 | 15:30 WIB
Ilustrasi 3R atau Reduce, Reuse, dan Recycle (Elements Envato)

Suara.com - Klaim ramah lingkungan kembali jadi sorotan di tengah persoalan sampah plastik yang kian menggunung. Label “dapat didaur ulang” kerap memberi kesan solusi, meski realitasnya tak selalu demikian.

Dalam siaran pers terbaru, Starbucks bersama Waste Management serta sejumlah organisasi daur ulang seperti The Recycling Partnership (TRP), GreenBlue, dan Closed Loop Partners mengumumkan bahwa gelas plastik sekali pakainya kini berlabel “dapat didaur ulang secara luas.”

Pengumuman ini didasarkan pada data bahwa lebih dari 60 persen rumah tangga di Amerika Serikat dapat mendaur ulang gelas sekali pakai di tempat sampah daur ulang pinggir jalan.

Namun, laporan mendalam dari Grist.org menyoroti adanya perbedaan signifikan antara tingkat akses masyarakat dengan tingkat daur ulang yang sebenarnya terjadi di fasilitas pemrosesan.

Akses dan Realitas Daur Ulang

Starbucks (Pinterest/Christina Carroll)

Seorang plastics researcher dari University of Wisconsin-Stout, Alex Jordan mengatakan bahwa statistik mengenai akses bisa menjadi hal yang menyesatkan bagi publik. Meskipun konsumen telah membersihkan dan membuang gelas plastik ke tempat yang tepat, tidak ada jaminan barang tersebut akan diolah menjadi produk baru.

“Mereka dapat mengambil statistik yang akan membuat publik berpikir bahwa semua barang ini didaur ulang. Namun sayangnya, bahkan jika Anda membersihkan, mengeringkan, dan memasukkan barang daur ulang Anda ke dalam tempat sampah daur ulang, kemudian diambil, kemungkinan besar barang tersebut akan berakhir di tempat pembuangan sampah atau dibakar untuk pembangkitan energi,” kata Alex Jordan.

Data menunjukkan bahwa tingkat daur ulang nyata untuk gelas plastik polipropilena masih sangat rendah, yakni di kisaran 1 hingga 2 persen. Sebagian besar sampah ini tetap berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) atau dibakar untuk energi. Hal ini terjadi karena polipropilena sering terkontaminasi sisa makanan, sulit dipilah secara mekanis, dan biaya untuk memprosesnya mahal.

Tantangan Pasar Akhir

Baca Juga: Belanja Tanpa Plastik: Seberapa Efektif Tas Reusable Kurangi Sampah?

Masalah utamanya sederhana, tidak ada cukup pembeli untuk plastik bekas jenis ini. Artinya, meskipun gelas sudah dikumpulkan dan dipilah, banyak yang tetap tidak diproses karena tidak ada pihak yang mau menanggung biaya daur ulangnya.

Seorang manajer pusat daur ulang di California menyebut, klaim ini lebih menguntungkan berbagai pihak, memberi citra ramah lingkungan bagi perusahaan, sekaligus membuka peluang bisnis pengumpulan sampah. Namun pada praktiknya, sangat sedikit pabrik yang benar-benar mau membeli dan mengolah gelas plastik tersebut.

Data Greenpeace (2025) memperkuat hal ini. Seluruh fasilitas daur ulang di AS hanya mampu memproses sekitar 2 persen plastik jenis ini. Ditambah lagi, fasilitas yang tersedia lokasinya terbatas dan jauh, sehingga pengiriman tidak efisien.

Label “Dapat Didaur Ulang” Dipertanyakan

Meski demikian, gelas plastik ini tetap boleh diberi label “dapat didaur ulang secara luas” karena dianggap memenuhi standar akses 60 persen. Masalahnya, label ini tidak diverifikasi langsung oleh pemerintah, melainkan dikelola oleh lembaga seperti How2Recycle yang lisensinya dijual ke perusahaan.

Sejumlah pihak pun mempertanyakan keakuratan angka tersebut. Bahkan, beberapa negara bagian seperti Oregon tidak menerima gelas plastik ini dalam sistem daur ulangnya. Sementara California menetapkan aturan lebih ketat: label hanya boleh digunakan jika terbukti benar-benar didaur ulang dalam praktiknya.

Load More