Suara.com - Selama ini, label “ramah lingkungan” sering dianggap sebagai tanda bahwa suatu produk lebih baik bagi bumi. Di industri fashion, pendekatan seperti penggunaan bahan daur ulang, penyewaan pakaian, hingga konsep ekonomi sirkular banyak dipromosikan sebagai cara mengurangi limbah dan emisi.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan hasil yang lebih kompleks: produk yang dianggap lebih hijau ternyata juga bisa membuat orang membeli lebih banyak.
Konsep ekonomi sirkular dirancang agar material tetap berada dalam siklus penggunaan lebih lama sehingga kebutuhan produksi baru bisa ditekan. Dalam praktiknya, ini dilakukan melalui penggunaan bahan daur ulang, perpanjangan umur produk, hingga sistem reuse dan rental.
Tetapi penelitian How Circular Economy Innovation Can Backfire on the Environment: Quantifying the Rebound Effect of the Textiles and Clothing Sector menemukan adanya fenomena backfire rebound effect atau efek bumerang.
Fenomena ini terjadi ketika inovasi yang seharusnya menurunkan dampak lingkungan justru memicu peningkatan produksi dan konsumsi.
Salah satu penyebabnya adalah biaya produksi yang menjadi lebih efisien, sementara konsumen merasa lebih nyaman membeli lebih banyak karena menganggap produk tersebut sudah “lebih hijau”.
Ketika Label Hijau Mendorong Konsumsi Berlebih
Sebagai contoh, pakaian berbahan daur ulang sering dipasarkan sebagai produk yang lebih ramah lingkungan. Namun, label tersebut dapat memicu konsumen membeli pakaian lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Akibatnya, permintaan terhadap pakaian baru terus meningkat sehingga manfaat lingkungan dari proses daur ulang menjadi berkurang, bahkan dapat hilang sama sekali.
Penelitian tersebut menghitung rata-rata efek bumerang global sebesar 1,6, angka yang tergolong tinggi. Secara sederhana, setiap peningkatan inovasi lingkungan sebesar satu persen di sektor tekstil justru diikuti kenaikan produksi tekstil baru sekitar 0,6 persen.
Baca Juga: Bea Cukai Sita Ribuan Bal Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp53 Miliar
Temuan ini mengingatkan pada Paradoks Jevons, yang dikemukakan oleh ekonom Inggris William Stanley Jevons dalam buku "The Coal Question" pada 1865. Jevons menemukan bahwa peningkatan efisiensi penggunaan batu bara justru menyebabkan konsumsi batu bara semakin meningkat karena penggunaannya menjadi lebih murah dan meluas.
Fenomena tersebut menjadi perhatian karena industri tekstil merupakan salah satu penyumbang dampak lingkungan terbesar di dunia. Industri ini mengonsumsi sekitar 20 persen penggunaan air global, menghasilkan sekitar 1,7 miliar ton emisi karbon dioksida setiap tahun, serta memproduksi sekitar 92 juta ton limbah tekstil. Ironisnya, kurang dari 1 persen limbah tersebut benar-benar didaur ulang menjadi pakaian baru.
Inovasi Perlu Diiringi Kebijakan dan Perubahan Perilaku
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa ekonomi sirkular bukanlah pendekatan yang harus ditinggalkan. Sebaliknya, inovasi perlu diiringi berbagai kebijakan pendukung, seperti penerapan pajak terhadap produksi yang berdampak besar pada lingkungan, pembatasan produksi pakaian baru, serta pemberian insentif untuk memperpanjang umur pakai produk. Langkah-langkah tersebut dinilai dapat menekan peningkatan konsumsi yang berlebihan sehingga manfaat lingkungan dari ekonomi sirkular benar-benar dapat tercapai.
Kebijakan juga perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing negara. Negara produsen tekstil seperti Bangladesh, misalnya, sangat bergantung pada industri garmen yang menyumbang lebih dari 80 persen nilai ekspornya, sebagaimana dilaporkan Reuters (27/6/2026). Industri tersebut juga menyerap jutaan tenaga kerja sehingga transisi menuju fesyen berkelanjutan perlu mempertimbangkan dampak ekonomi terhadap para pekerja.
Selain kebijakan pemerintah, perubahan perilaku konsumen juga memegang peranan penting. Masyarakat didorong untuk membeli pakaian sesuai kebutuhan, memperbaiki pakaian yang rusak, memanfaatkan kembali pakaian yang masih layak, serta tidak mudah tergoda oleh klaim "ramah lingkungan" semata.
Menurut para peneliti, keberhasilan fashion berkelanjutan tidak hanya bergantung pada inovasi teknologi, tetapi juga pada kemampuan mengurangi konsumsi berlebihan agar manfaat lingkungan benar-benar dapat dirasakan.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
- 4 Zodiak Paling Beruntung pada 27 Juni 2026, Siap-siap Jadi Magnet Uang
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
Pilihan
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
Terkini
-
5 Ide Seru Isi Liburan Sekolah Anak di Jakarta, Ada Wahana Bermain hingga Kelas Kreatif
-
Kenapa Muharram Identik dengan Anak Yatim? Ini Sejarah dan Keutamaannya
-
Siap-Siap Cuan! 6 Shio Ini Diprediksi Paling Beruntung dan Sukses Finansial di Akhir Juni 2026
-
Lipstik Glossy yang Awet Merek Apa? Ini 4 Pilihan Tahan Lama hingga 36 Jam
-
3 Rekomendasi Setrika Uap yang Cepat Panas, Daya Mulai 800 Watt
-
3 Produk Skincare yang Cukup Dipakai Seminggu Sekali, Terlalu Sering Justru Merusak Kulit
-
3 Rekomendasi Bedak Tabur di Alfamart yang Bikin Makeup Lebih Awet
-
5 Urutan Shio yang Ditakdirkan Kaya Sejak Muda hingga Tua, Apakah Kamu Salah Satunya?
-
Apakah Bedak Sachet Viva Bagus? Cek Harga dan Ulasan Jujur Pengguna
-
5 Cafe yang Buka Jam 7 Pagi di Jogja, Hidden Gem Coffee Shop Cocok Buat Sarapan dan Ngopi