Bisnis / Makro
Kamis, 09 April 2026 | 18:47 WIB
Managing Director Stakeholders Management Danantara, Rohan Hafas, mengungkapkan 50 persen dibuang secara sembarangan, sehingga WTE bisa jadi solusi. [Suara.com/Achmad Fauzi].
Baca 10 detik
  • Sekitar 50 persen sampah tidak terkoordinir dan banyak dibuang di jalan maupun sungai, memperparah pencemaran lingkungan.
  • Sebagian masyarakat tidak mampu membayar iuran pengangkutan sampah Rp 10.000–Rp 15.000 per bulan, sehingga memilih membuang sampah sembarangan.
  • Program waste to energy dirancang agar sampah diangkut secara terintegrasi dan gratis dari rumah, sekaligus mengurangi beban biaya pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah.

Suara.com - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) terus menggeber proyek Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WTE). Hal ini karena banyak sampah yang menumpuk di jalan hingga di sungai, akhirnya membuat pencemaran.

Managing Director Stakeholders Management Danantara, Rohan Hafas, mengungkapkan 50 persen sampah di Indonesia tidak pernah terkordinir, bahkan banyak orang yang membuangnya di jalan dan sungai.

"50 persen sampah di Indonesia lari, ayo di mana? Di jalanan dan di kali. Based on survei-nya World Bank," ujarnya dalam konferensi pers di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menginvestasikan Rp3 triliun untuk membangun fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Antang yang mampu mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari menjadi energi listrik berkapasitas 20-25 MW sebagai upaya mengatasi krisis sampah. ANTARA FOTO/Hasrul Said/kye

Menurut Rohan, salah satu alasannya, karena sebagian masyarakat tidak mampu untuk membayar iuan jasa pengangkutan sampah rutin setiap bulan.

"Kenapa? Hanya karena Rp 10.000 sampai dengan Rp 15.000 rupiah per rumah tangga tidak mampu membayar iuran bulanan ke tukang angkut sampah yang dikelola RT, RW atau Kelurahan. That's kehidupan yang bener, maksudnya fakta yang terjadi seperti itu. Jadi dia buang aja diem-diem di pinggir jalan, di kali, di ini. Itu sebabnya kita punya problem sampah," jelasnya.

Maka dari itu, tutur Rohan, Danantara sebagai pelaksana proyek terus memantau perkembangan jalannya proyek WTE. Sebab, tujuannya agar mengkordinir sampah yang selama ini dibuang secara sembarang.

"Konsep waste to energy, supaya orang buang sampah di tempatnya, artinya akan pasti diangkut, berarti yang angkut gratis dari rumah. Mulainya dari situ, itu dilakukan oleh Pemda," ucapnya.

"Pemda kenapa mau? Karena Pemda tidak lagi di-charge bayar sewa lahan tempat sampah yang Bantar Gebang itu, nggak di-charge lagi dia, yang mana lebih mahal bayar sewa daripada dia harus bayar ongkos ngangkut itu. Itu yang dibenahi itunya dulu," pungkas Rohan.

Baca Juga: Beban Utang Whoosh Ditanggung APBN, Purbaya Siap Ambil Alih Operator Kereta Cepat?

Load More