Bisnis / Energi
Rabu, 01 Juli 2026 | 10:10 WIB
Ilustrasi ketegangan politik di Timur Tengah setelah Iran menolak untuk bertemu langsung dengan utusan Amerika Serikat (AS). [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Harga minyak dunia naik pada 1 Juli 2026 akibat meningkatnya ketegangan politik antara Iran dan Amerika Serikat.
  • Harga minyak Brent dan WTI meningkat setelah Iran menolak pertemuan langsung dengan utusan Amerika Serikat di Doha.
  • Kenaikan harga dipicu oleh penurunan stok minyak Amerika Serikat serta ketidakpastian gencatan senjata di Timur Tengah tersebut.

Suara.com - Harga minyak dunia bergerak naik pada perdagangan Rabu 1 Juli 2026, akibat meningkatnya ketegangan politik di Timur Tengah setelah Iran menolak untuk bertemu langsung dengan utusan Amerika Serikat (AS).

Penolakan ini dinilai memperkeruh ketegangan di tengah kesepakatan gencatan senjata sementara dari perang yang telah berlangsung selama empat bulan terakhir.

Mengutip dari Reuters harga minyak mentah Brent naik 50 sen atau 0,69 persen menjadi 73,45 dolar AS per barel pada pukul 12.08 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat 63 sen atau 0,91 persen ke posisi 70,13 dolar AS per barel.

Sebelumnya, menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, bersama utusan Steve Witkoff tiba di Doha untuk melakukan pertemuan tingkat tinggi.

Namun, pihak Iran dan Qatar selaku tuan rumah menyatakan bahwa utusan AS tersebut hanya akan bertemu dengan pihak mediator, bukan langsung dengan perwakilan Iran.

Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani, dilaporkan menjadi salah satu pihak yang menemui Witkoff dan Kushner. Kenaikan harga hari ini terjadi setelah pasar minyak sempat mengalami penurunan tajam.

Iran menggempur 18 pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain menggunakan armada drone. (Anadolu)

Sepanjang kuartal pertama dan kedua tahun ini, harga Brent jatuh sekitar 45 dolar AS per barel, mencatat kerugian kuartalan terbesar sejak krisis keuangan 2008.

Minyak mentah AS juga merosot sekitar 31 dolar AS, penurunan kuartalan terdalam sejak pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Penurunan tersebut sempat terjadi seiring adanya kemajuan dalam upaya penghentian konflik di Timur Tengah.

Hasil survei Reuters pada Selasa kemarin, menunjukkan bahwa para analis telah memangkas perkiraan harga minyak untuk tahun 2026 untuk pertama kalinya sejak perang Iran dimulai.

Baca Juga: Stok Minyak AS Ambles ke Level Terendah Sejak Era Perang Dingin

Langkah ini diambil setelah harga minyak naik selama lima bulan berturut-turut, mengingat pembukaan kembali Selat Hormuz telah mengurangi kekhawatiran akan gangguan pasokan jangka panjang.

Terkait jalur pelayaran tersebut, Wakil Presiden AS, JD Vance, menegaskan bahwa Iran tidak akan diizinkan untuk memungut biaya atau tol terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Vance juga menyatakan bahwa lalu lintas kapal tanker di jalur krusial tersebut mulai pulih dan aliran minyak mentah telah kembali ke tingkat sebelum perang.

Di sisi lain, pergerakan harga minyak juga dipengaruhi oleh menyusutnya stok di AS. Berdasarkan data dari American Petroleum Institute (API), persediaan minyak mentah AS turun 6,1 juta barel untuk pekan yang berakhir pada 26 Juni, diikuti dengan penurunan stok bensin.

Saat ini, pelaku pasar tengah menunggu rilis data cadangan minyak resmi dari Badan Informasi Energi (EIA) AS yang dijadwalkan keluar pada Rabu pagi waktu setempat.

Load More