- Pemerintah Iran pada 1 Juni 2026 resmi menghentikan jalur komunikasi diplomatik dengan Amerika Serikat melalui pihak ketiga.
- Teheran mengancam memblokade Selat Hormuz sebagai balasan atas operasi militer Israel dan kegagalan gencatan senjata di Libanon.
- Dampak ancaman tersebut menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak tajam hingga lebih dari tujuh persen di pasar global.
Suara.com - Eskalasi geopolitik di Timur Tengah kembali berada dalam titik kritis. Pemerintah Iran melalui utusan diplomasinya mengumumkan bakal menghentikan total pertukaran pesan dengan Amerika Serikat (AS) yang selama ini dijembatani oleh pihak ketiga.
Tidak hanya itu, Teheran mengancam akan menutup secara penuh Selat Hormuz sebagai bentuk pembalasan atas apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan oleh Israel dan AS.
Pernyataan keras tersebut disiarkan oleh media afiliasi resmi pemerintah Iran, Tasnim, pada Senin (1/6/2026) waktu setempat.
Laporan tersebut menyoroti agresivitas operasi militer Israel di Libanon yang ditekankan pada kelompok milisi Hizbullah sokongan Teheran.
"Tidak akan ada dialog apa pun yang terjadi sampai Israel menarik penuh pasukannya dari wilayah pendudukan di Libanon dan menghentikan seluruh serangan, baik di Libanon maupun di Gaza," tegas laporan resmi Tasnim.
Lebih lanjut, pihak Tasnim menyatakan bahwa front perlawanan bersama Iran telah membulatkan tekad untuk memblokade total Selat Hormuz serta mengaktifkan perlawanan di front lain, termasuk Selat Bab al-Mandeb di Laut Merah, guna memberikan efek jera bagi Israel dan para sekutunya.
Harga Minyak Dunia Langsung Meroket
Pengumuman sepihak dari Teheran ini langsung mengirimkan gelombang kejut ke pasar komoditas global. Harga minyak mentah dunia dilaporkan melonjak tajam hingga lebih dari 7% sesaat setelah laporan Tasnim dirilis.
Lonjakan ini merefleksikan kepanikan investor atas potensi mandeknya pasokan energi global, sekaligus sinyal runtuhnya upaya diplomasi yang telah berjalan selama empat bulan terakhir.
Baca Juga: Timnas Iran Minta Visa Khusus di Piala Dunia 2026, Otoritas AS Masih Cuek Bebek
Padahal, tiga hari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan akan menggelar pertemuan khusus di Situation Room Gedung Putih guna memutuskan kesepakatan damai sementara (pause conflict) dengan Iran. Namun, pertemuan tingkat tinggi tersebut berakhir buntu tanpa ada keputusan final dari Trump.
Pasca-kebuntuan tersebut, militer AS dan Iran justru terlibat saling serang dalam beberapa hari terakhir, yang secara otomatis menghancurkan sisa-sisa kesepakatan gencatan senjata di lapangan. Di saat bersamaan, PM Israel Benjamin Netanyahu justru menginstruksikan perluasan serangan udara ke basis Hizbullah di pinggiran Beirut.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui unggahannya menegaskan bahwa kesepakatan yang sempat diupayakan dengan AS seharusnya mengikat di semua lini pertempuran tanpa pengecualian.
"Gencatan senjata antara Iran dan AS secara mutlak berarti gencatan senjata di semua front, termasuk di Libanon. Pelanggaran di satu front adalah pelanggaran di semua front. AS dan Israel bertanggung jawab penuh atas segala konsekuensi yang timbul," tulis Araghchi.
Hingga saat ini, pihak Gedung Putih belum memberikan respons resmi terkait laporan pembekuan jalur komunikasi oleh Tasnim, sementara Komando Sentral AS (US CENTCOM) memilih menolak memberikan komentar.
Ancaman penutupan total Selat Hormuz memastikan bahwa keran ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia tidak akan mengalami pemulihan dalam waktu dekat.
Berita Terkait
-
Bukan Emas, Ini Komoditas yang Diprediksi 'Cuan' di Tengah Perang AS-Iran-Israel
-
Khianati Gencatan Senjata AS, Penjajah Israel Minta Restu Bom Ibu Kota Lebanon
-
Konflik Israel - Lebanon Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 2 persen
-
Negosiasi Memanas! Trump Ubah Syarat Damai, Iran Belum Mau Mengalah
-
Kasih Paham: Dolar Naik Gila-gilaan, Kenapa Rupiah Kita Kalah?
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Harga LNG Global Melonjak, Ekonom Ingatkan Industri dan Pemerintah Hadapi Dilema Ketahanan Energi
-
Rupiah Diramal Bergerak Fluktuatif Hari Ini, Cenderung Melemah ke Level Rp17.850
-
IHSG Hari Ini Rawan Koreksi, Analis Beri Rekomendasi Saham: Jangan Asal Serok!
-
Bukan Emas, Ini Komoditas yang Diprediksi 'Cuan' di Tengah Perang AS-Iran-Israel
-
Neraca Pembayaran Indonesia Defisit USD9,1 Miliar, Terburuk Sejak Pandemi
-
Ekspansi Layanan Produk Ekosistem Bisnis Digital Utilitas Kian Diminati
-
Rute Transjakarta Dialihkan Imbas Kebakaran Kemayoran, Cek Jalur Alternatifnya
-
Jangan Asal Investasi! Pahami 3 Hal Ini Sebelum Uang Anda Ludes di Pasar Berjangka
-
Perkuat PT GMM, Bulog Fokus Jaga Kepercayaan dan Kemitraan dengan Petani Tebu Blora
-
Influencer Tak Lagi Dapat PPh UMKM 0,5 Persen, Purbaya: Tak Ada Lapangan Kerja