Bisnis / Keuangan
Rabu, 01 Juli 2026 | 10:51 WIB
Bank BCA
Baca 10 detik
  • Saham BBCA di Bursa Efek Indonesia kembali menguat ke level Rp5.725 pada perdagangan Rabu, 1 Juli 2026.
  • Kenaikan harga terjadi setelah adanya penyesuaian bobot saham BBCA dalam indeks IHSG oleh pihak Bursa Efek.
  • Analis menilai saham BBCA saat ini sangat murah dan memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp9.480 per lembar.

Suara.com - Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menunjukkan dinamika menarik pada perdagangan tengah pekan, Rabu (1/7/2026). Sempat berjalan di tempat pada awal perdagangan sesi pertama, saham perbankan dengan kapitalisasi pasar jumbo ini berhasil membalikkan keadaan menjelang siang hari.

Saat pasar dibuka pukul 09.00 WIB, BBCA bertengger di posisi stagnan pada level Rp 5.550 per lembar saham tanpa mengalami perubahan poin (0,00%).

Kendati demikian, aksi beli yang kuat membuat grafik saham ini merangkak naik. Hingga pukul 10.35 WIB, saham BBCA terpantau melesat 2,70% ke level Rp 5.725 per lembar, menepis lesunya pembukaan pagi tadi.

Untuk diketahui, hingga Selasa kemarin, total nilai kapitalisasi pasar (market cap) BBCA kini tercatat berada di angka Rp 698 triliun.

Analisis Proyeksi Teknikal dan Area Pivot harian

Dalam kalkulasi riset untuk perdagangan hari ini, CGS International Sekuritas melihat adanya batas bawah harian (support) pertama BBCA di level 5.458 dan support kedua di 5.367 jika tekanan jual kembali muncul.

Namun, peluang pembalikan arah atau rebound terbuka lebar jika saham ini mampu melewati titik pivot di 5.642. Keberhasilan melewati titik tersebut berpotensi membawa BBCA menguji batas atas (resistance) pertama di 5.733 dan resistance kedua di 5.917.

Peluang bangkitnya BBCA hari ini sekaligus menjadi penahan koreksi tajam yang terjadi pada perdagangan Selasa (30/6) kemarin. Kemarin, saham BBCA ditutup merosot 3,38% ke level Rp 5.725 setelah sempat ambles akibat terbentuknya celah penurunan (gap down) sesaat setelah pembukaan.

Tekanan tersebut dipicu oleh aksi jual massal saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) oleh investor asing, serta respons pasar menjelang pemberlakuan pemotongan bobot saham BBCA di dalam keranjang IHSG.

Baca Juga: Dana Asing Rp449,83 M Minggat dari Pasar Saham di Sesi I, BBCA Banyak Dilepas

Sesuai dengan hasil evaluasi minor Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mulai berlaku efektif per 1 Juli ini, bobot indeks untuk BBCA resmi dipangkas dari semula 9,53% menjadi 9%.

Selain itu, jumlah saham BBCA yang diperhitungkan dalam formulasi indeks disesuaikan menjadi 38,39 miliar lembar dari sebelumnya 41,79 miliar lembar.

Secara fundamental, penurunan harga yang terjadi belakangan ini dinilai sejumlah analis sudah tidak mencerminkan kinerja riil perusahaan.

KB Valbury Sekuritas menyebut harga pasar BBCA saat ini tergolong sangat murah (undervalued) karena sudah diperdagangkan di bawah level minus dua standar deviasi (-2SD) dari rata-rata historisnya.

Saat ini, rasio harga terhadap nilai buku atau Price to Book Value (P/B) BBCA untuk tahun 2026 berada di angka 2,5 kali.

Guna mengukur batas aman terbawah dari nilai saham ini, KB Valbury Sekuritas melakukan simulasi menggunakan metode Gordon Growth Model (GGM) dengan pendekatan yang sangat ketat, yakni menaikkan tingkat imbal hasil bebas risiko (risk-free rate) sebesar 100 bps serta premi risiko ekuitas (equity risk premium) sebesar 240 bps.

Meskipun menggunakan simulasi dengan asumsi risiko yang tinggi, hasil hitungan menunjukkan nilai intrinsik jangka panjang BBCA masih sangat kuat.

Atas dasar tersebut, KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi Beli (Buy) untuk saham BBCA dengan target harga jangka panjang mencapai Rp 9.480 per lembar saham, yang mencerminkan potensi P/B sebesar 3,8 kali untuk tahun 2026.

Disclaimer: Pemberitaan, analisis, grafik, serta data pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan saham-saham terkait yang dimuat dalam artikel ini disajikan murni sebagai bentuk penyediaan informasi jurnalisme ekonomi finansial untuk konsumsi publik. Konten ini sama sekali bukan merupakan bentuk rekomendasi investasi formal, ajakan komersial, panduan transaksi, ataupun arahan final untuk membeli atau menjual instrumen finansial maupun saham tertentu. Setiap keputusan penempatan dana, transaksi pasar modal, dan risiko investasi yang diambil oleh pembaca sepenuhnya merupakan wujud tanggung jawab personal secara mandiri. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan hasil di masa depan.

Load More