- Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.996 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 2 Juli 2026.
- Pelemahan terjadi setelah Fitch Ratings memperingatkan terkait penyusutan cadangan devisa serta defisit neraca perdagangan domestik Indonesia.
- Sentimen negatif investor terhadap kebijakan pemerintah memicu arus keluar modal sehingga rupiah melemah dibanding mata uang Asia.
Suara.com - Nilai tukar rupiah terus kehilangan daya setelah lembaga pemeringkat Fitch Rating memperingatkan soal semakin susutnya cadangan devisa dan terus kaburnya investor dari Indonesia.
Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah pada Kamis 2 Juli 2026 ditutup ke level Rp 17.996 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini artinya nilai tukar melemah 43 poin atau 0,24 persen dari hari sebelumnya yang ada di Rp17.520 per dolar AS.
Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan pelemahan ini disebabkan sentimen domestik. Pasalnya lembaga Fitch Rating memperingatkan tentang cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya akan cukup untuk membiayai impor selama 4,9 bulan - lebih rendah dari negara-negara yang setara dengan Indonesia.
"Penurunan cadangan devisa dalam jangka panjang dapat memberikan tekanan terhadap profil peringkat kredit Indonesia. Selain itu, defisit neraca perdagangan pertama sejak April 2020 pada Mei, di tengah penurunan ekspor yang tidak terduga turut memberikan tekanan terhadap rupiah," kata Lukman kepada Suara.com.
Tidak hanya itu Fitch Rating juga menekankan bahwa kredibilitas kebijakan pemerintah juga membuat para investor semakin takut untuk menaruh duit mereka di Tanah Air.
"Rupiah melemah terhadap dolar AS seiring sentimen domestik yang memburuk setelah Fitch Ratings memperingatkan bahwa arus keluar modal yang berkelanjutan," jelas dia.
Pelemahan rupiah berbanding terbalik dengan mayoritas mata uang Asia yang menguat terhadap dolar AS. Yen jepang mengalami penguatan terbesar di Asia dengan naik 0,48 persen.
Diikuti ringgit Malaysia melesat 0,48 persen, baht Thailand yang terkerek 0,25 persen dan dolar Singapur yang menanjak 0,19 persen.
Won Korea juga naik 0,14 persen, Peso Filipina melesat 0,12 persen dan yuan China terangkat 0,06 persen.
Baca Juga: Rupiah Kembali Loyo Lawan Dolar AS Lemas ke Level Rp17.888
Menemani rupiah ada dolar Taiwan yang melemah 0,13 persen.
Berita Terkait
-
Rupiah Ambruk Lawan Dolar AS ke Level Rp17.984
-
Cara Menakar Nilai Wajar Mata Uang, Analis Ungkap Kunci Baca Arah Rupiah hingga Dolar
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Cek Harga Dolar AS di Bank Himbara dan Swasta, Ada yang Jual Rp18.050
-
Awal Bulan Juli, Rupiah Tertekan Lawan Dolar AS ke Level Rp17.980
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Pupuk Indonesia dan Pertamina Perkuat Hilirisasi, Gas Bumi Jadi Andalan
-
Purbaya Usul RUU PFII ke DPR, Targetkan Indonesia Jadi Pusat Keuangan Internasional
-
Asuransi Syariah Mulai Bidik Seluruh Segmen Masyarakat RI
-
Wisatawan Indonesia Kini Lebih Mudah Pesan Hotel di Luar Negeri, Cukup Pakai Aplikasi
-
Catat Tanggalnya! Danamon Siapkan "Hujan Kejutan" Sambut HUT ke-70
-
Saham Dinilai Sudah Terlalu Murah, Gimana Nasib BBNI?
-
Astra Perkuat Desa Sejahtera Kemiren, Budaya Osing Jadi Penggerak Ekonomi Warga
-
Peserta JKN Tembus 282,7 Juta Jiwa, BPJS Kesehatan Perkuat Fondasi SDM Unggul Indonesia
-
B50 Resmi Jalan, Ekonom UGM Ingatkan Ancaman APBN, Minyak Goreng hingga Deforestasi
-
Danantara Belum Juga Rilis Laporan Keuangan 2025