- Produk bebas asap dinilai berpeluang tekan prevalensi merokok.
- Studi soroti potensi nikotin lindungi saraf dan fungsi kognitif.
- Sejumlah negara pakai tobacco harm reduction kurangi beban penyakit.
Suara.com - Kajian mengenai produk tembakau alternatif kembali menjadi perhatian di tengah upaya berbagai negara menekan prevalensi merokok. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa pemanfaatan produk berbasis nikotin tanpa proses pembakaran dinilai dapat menjadi salah satu pendekatan tobacco harm reduction atau pengurangan bahaya tembakau bagi perokok dewasa yang belum berhasil berhenti merokok.
Perkembangan riset tersebut juga memunculkan perspektif baru terhadap nikotin. Selama ini senyawa tersebut identik dengan sifat adiktif rokok, namun berbagai studi di bidang ilmu saraf justru menemukan potensi terapeutik nikotin dalam mendukung fungsi otak hingga melindungi sel saraf.
Assistant Clinical Professor University of Colorado School of Medicine, Mitchell B. Liester, mengatakan nikotin memiliki potensi besar dalam penanganan berbagai gangguan neurologis dan kognitif.
"Nikotin, senyawa yang membuat tembakau bersifat adiktif, juga memiliki potensi terapeutik yang sangat besar sebagai pengobatan untuk gangguan neurologis dan kognitif," ujar Mitchell dalam publikasi bidang neuroscience yang dikutip Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, nikotin bekerja dengan mengaktifkan reseptor asetilkolin nikotinik di otak yang berperan dalam proses belajar, memori, perhatian, hingga perlindungan saraf.
Aktivasi reseptor tersebut membantu menjaga kelangsungan hidup neuron serta mendorong pembentukan protein pelindung yang berfungsi mempertahankan sel-sel otak dari berbagai tekanan biologis.
Mitchell menjelaskan salah satu temuan yang paling banyak diteliti adalah potensi nikotin dalam penyakit Parkinson. Sejumlah penelitian menunjukkan nikotin mampu melindungi neuron dopaminergik, yakni sel otak yang mengalami kerusakan pada penderita Parkinson.
Selain itu, nikotin juga disebut memiliki efek antiinflamasi melalui aktivasi jalur antiinflamasi kolinergik sehingga dapat membantu menekan produksi molekul penyebab peradangan kronis.
Di sisi lain, penelitian Vanderbilt University Medical Center menemukan nikotin berpotensi meningkatkan perhatian, daya ingat, dan kemampuan pemrosesan kognitif baik pada individu sehat maupun mereka yang mengalami gangguan kognitif ringan. Efek tersebut bahkan dinilai lebih besar pada kelompok yang memiliki risiko penyakit Alzheimer.
Baca Juga: Survei: 78,6% Konsumen Nilai Haknya Diabaikan dalam Aturan Rokok Terbaru
Mitchell menambahkan berbagai penelitian klinis juga tengah mengeksplorasi potensi nikotin dalam penanganan depresi, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), sindrom Tourette, hingga skizofrenia.
Dalam pengembangannya, para peneliti kini lebih banyak mengkaji metode penghantaran nikotin yang tidak melalui proses pembakaran tembakau, seperti plester nikotin maupun produk nikotin bebas asap. Pendekatan ini bertujuan mengurangi paparan berbagai zat berbahaya yang dihasilkan dari pembakaran rokok.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep tobacco harm reduction yang mulai diterapkan di sejumlah negara. Berdasarkan berbagai kajian ilmiah, sebagian besar risiko kesehatan akibat merokok berasal dari asap hasil pembakaran tembakau yang mengandung ribuan zat kimia berbahaya, termasuk tar dan karbon monoksida, bukan semata-mata dari nikotin.
International Agency for Research on Cancer (IARC) tidak menggolongkan nikotin sebagai zat karsinogen. Sementara National Health Service (NHS) Inggris menyebut nikotin tidak menghasilkan tar maupun berbagai zat beracun yang muncul akibat pembakaran tembakau.
Mantan Direktur WHO, Tikki Pangestu, mengatakan produk nikotin bebas asap memang tidak sepenuhnya bebas risiko, namun memiliki tingkat risiko yang lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.
"Kendati tidak sepenuhnya bebas risiko, risiko relatif dari produk bebas asap ini secara substansial lebih rendah dibandingkan risiko merokok," ujar Tikki dalam tulisannya bersama Robert Beaglehole dan Ruth Bonita yang dipublikasikan di Nature Health.
Ia mencontohkan sejumlah negara seperti Swedia, Jepang, Amerika Serikat, dan Selandia Baru yang mulai mengadopsi pendekatan tobacco harm reduction. Menurutnya, penggunaan produk tembakau alternatif di negara-negara tersebut dikaitkan dengan penurunan prevalensi merokok serta berkurangnya beban penyakit akibat konsumsi rokok.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Adendum AMDAL Baru Jadi Jalan Keluar Polemik Tambang DPM
-
Industri Kripto Makin Tumbuh, OJK Perkuat Regulasi Keuangan Digital
-
Asing Kabur Bawa Duit 5 Miliar Dolar, Investor Ritel Jadi Pahlawan IHSG
-
Pertamina Marine Engineering Cetak Laba Bersih Rp 13,32 Miliar
-
Purbaya Akan Tambah Perusahaan Pemungut Pajak Toko Online di Ecommerce
-
DPR Siap Cecar Tiktok yang Dituding Tahan Duit UMKM hingga Triliunan Rupiah
-
Potongan Aplikasi Ojol 8 Persen Tak Untungkan Mitra Pengemudi
-
Minyak Dunia Anjok, Mengapa Harga Pertamax Tak Ikut Turun?
-
Kapal Tanker Pertamina Berhasil Lolos dari Selat Hormuz, Sisanya Menunggu Aman
-
Rupiah Menuju Rp18.000 per Dolar AS Lagi, Akan Menguat Jika Investor Asing Kembali ke Indonesia