Bisnis / Keuangan
Jum'at, 03 Juli 2026 | 07:27 WIB
Beberapa sample produk dari STIG POD ditampilkan pada acara "Vape Fair" di JCC, Jakarta, Sabtu (7/9). (Suara.com/Angga Budhiyanto)
Baca 10 detik
  • Produk bebas asap dinilai berpeluang tekan prevalensi merokok.
  • Studi soroti potensi nikotin lindungi saraf dan fungsi kognitif.
  • Sejumlah negara pakai tobacco harm reduction kurangi beban penyakit.

Suara.com - Kajian mengenai produk tembakau alternatif kembali menjadi perhatian di tengah upaya berbagai negara menekan prevalensi merokok. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa pemanfaatan produk berbasis nikotin tanpa proses pembakaran dinilai dapat menjadi salah satu pendekatan tobacco harm reduction atau pengurangan bahaya tembakau bagi perokok dewasa yang belum berhasil berhenti merokok.

Perkembangan riset tersebut juga memunculkan perspektif baru terhadap nikotin. Selama ini senyawa tersebut identik dengan sifat adiktif rokok, namun berbagai studi di bidang ilmu saraf justru menemukan potensi terapeutik nikotin dalam mendukung fungsi otak hingga melindungi sel saraf.

Assistant Clinical Professor University of Colorado School of Medicine, Mitchell B. Liester, mengatakan nikotin memiliki potensi besar dalam penanganan berbagai gangguan neurologis dan kognitif.

"Nikotin, senyawa yang membuat tembakau bersifat adiktif, juga memiliki potensi terapeutik yang sangat besar sebagai pengobatan untuk gangguan neurologis dan kognitif," ujar Mitchell dalam publikasi bidang neuroscience yang dikutip Kamis (2/7/2026).

Menurutnya, nikotin bekerja dengan mengaktifkan reseptor asetilkolin nikotinik di otak yang berperan dalam proses belajar, memori, perhatian, hingga perlindungan saraf.

Aktivasi reseptor tersebut membantu menjaga kelangsungan hidup neuron serta mendorong pembentukan protein pelindung yang berfungsi mempertahankan sel-sel otak dari berbagai tekanan biologis.

Mitchell menjelaskan salah satu temuan yang paling banyak diteliti adalah potensi nikotin dalam penyakit Parkinson. Sejumlah penelitian menunjukkan nikotin mampu melindungi neuron dopaminergik, yakni sel otak yang mengalami kerusakan pada penderita Parkinson.

Selain itu, nikotin juga disebut memiliki efek antiinflamasi melalui aktivasi jalur antiinflamasi kolinergik sehingga dapat membantu menekan produksi molekul penyebab peradangan kronis.

Di sisi lain, penelitian Vanderbilt University Medical Center menemukan nikotin berpotensi meningkatkan perhatian, daya ingat, dan kemampuan pemrosesan kognitif baik pada individu sehat maupun mereka yang mengalami gangguan kognitif ringan. Efek tersebut bahkan dinilai lebih besar pada kelompok yang memiliki risiko penyakit Alzheimer.

Baca Juga: Survei: 78,6% Konsumen Nilai Haknya Diabaikan dalam Aturan Rokok Terbaru

Mitchell menambahkan berbagai penelitian klinis juga tengah mengeksplorasi potensi nikotin dalam penanganan depresi, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), sindrom Tourette, hingga skizofrenia.

Dalam pengembangannya, para peneliti kini lebih banyak mengkaji metode penghantaran nikotin yang tidak melalui proses pembakaran tembakau, seperti plester nikotin maupun produk nikotin bebas asap. Pendekatan ini bertujuan mengurangi paparan berbagai zat berbahaya yang dihasilkan dari pembakaran rokok.

Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep tobacco harm reduction yang mulai diterapkan di sejumlah negara. Berdasarkan berbagai kajian ilmiah, sebagian besar risiko kesehatan akibat merokok berasal dari asap hasil pembakaran tembakau yang mengandung ribuan zat kimia berbahaya, termasuk tar dan karbon monoksida, bukan semata-mata dari nikotin.

International Agency for Research on Cancer (IARC) tidak menggolongkan nikotin sebagai zat karsinogen. Sementara National Health Service (NHS) Inggris menyebut nikotin tidak menghasilkan tar maupun berbagai zat beracun yang muncul akibat pembakaran tembakau.

Mantan Direktur WHO, Tikki Pangestu, mengatakan produk nikotin bebas asap memang tidak sepenuhnya bebas risiko, namun memiliki tingkat risiko yang lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.

"Kendati tidak sepenuhnya bebas risiko, risiko relatif dari produk bebas asap ini secara substansial lebih rendah dibandingkan risiko merokok," ujar Tikki dalam tulisannya bersama Robert Beaglehole dan Ruth Bonita yang dipublikasikan di Nature Health.

Ia mencontohkan sejumlah negara seperti Swedia, Jepang, Amerika Serikat, dan Selandia Baru yang mulai mengadopsi pendekatan tobacco harm reduction. Menurutnya, penggunaan produk tembakau alternatif di negara-negara tersebut dikaitkan dengan penurunan prevalensi merokok serta berkurangnya beban penyakit akibat konsumsi rokok.

Load More