Bisnis / Ekopol
Sabtu, 04 Juli 2026 | 09:44 WIB
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Ekonom CORE memprediksi kinerja ekspor Indonesia pada semester kedua 2026 akan tertekan akibat kebijakan tarif impor Amerika Serikat.
  • Tantangan ekspor nasional diperberat oleh penurunan harga komoditas global serta persaingan ketat dari negara pesaing seperti Vietnam.
  • Pemerintah Indonesia sedang berupaya melakukan negosiasi tarif dengan Amerika Serikat agar produk domestik tetap kompetitif di pasar global.

Pemerintah Indonesia saat ini masih terus melakukan negosiasi dengan pemerintah AS agar tarif yang dikenakan terhadap produk Indonesia bisa lebih kompetitif. Bahkan, pemerintah mendorong agar beberapa komoditas strategis memperoleh tarif 0 persen.

Ilustrasi ekspor barang nonmigas. [ANTARA]

Data BPS: Ekspor Nonmigas Masih Tertekan

Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor nonmigas Indonesia pada Mei 2026 mencapai 22,45 miliar dolar AS, atau turun 4,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan tersebut dipicu melemahnya ekspor logam mulia dan perhiasan, bijih logam, besi, serta baja.

Secara sektoral, industri pengolahan masih menjadi penyumbang terbesar ekspor nonmigas dengan nilai 19,05 miliar dolar AS, meski mengalami kontraksi 3,59 persen secara tahunan.

Di sisi lain, ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 20,43 persen menjadi 500 juta dolar AS, sedangkan ekspor sektor pertambangan dan sektor lainnya menyusut 7,03 persen menjadi 2,89 miliar dolar AS.

Load More