- Aliansi masyarakat sipil menggelar aksi damai di Bundaran UGM, Yogyakarta, pada Jumat, 3 Juli 2026, menuntut pemerintah.
- Demonstran menolak program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis dan Latsarmil karena dinilai koruptif serta tidak berpihak.
- Massa menuntut perbaikan ekonomi, jaminan kebebasan berpendapat, serta penghentian tindakan represif dan kriminalisasi terhadap warga yang berdemonstrasi.
Suara.com - Gelombang keresahan masyarakat sipil terhadap rentetan program prioritas pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat masih bergulir di Yogyakarta.
Alih-alih menikmati masa liburan, aliansi masyarakat yang dimotori oleh kaum ibu, mahasiswa, petani, hingga pengemudi ojek online (ojol) memilih menggelar aksi damai di Bundaran UGM, Jumat (3/7/2026).
Gerakan kolektif ini membawa pesan tentang ekonomi sedang karut-marut, hak-hak publik dikorupsi, dan negara yang tak berpihak pada rakyat.
Perwakilan dari Suara Ibu Yogyakarta, Rikka Iffati, menegaskan bahwa aksi turun ke jalan ini dipicu oleh sikap bebal pemerintah yang tidak kunjung mendengar suara rakyat sejak awal mula kebijakan kontroversial digulirkan.
"Kalau aksi ini sebenarnya sudah cukup sering dilakukan ya beberapa kali dan karena tuntutan kami sejak awal mengenai hentikan MBG itu belum dipenuhi sampai titik hari ini, kami meminta itu adalah salah satu dari tuntutan kami tentu saja," kata Rikka ditemui wartawan di lokasi, Jumat sore.
Mereka menilai kondisi perekonomian rakyat saat ini sedang berada di titik nadir. Sementara anggaran pajak yang dipungut dari rakyat justru dihambur-hamburkan untuk program prioritas yang rawan dikorupsi.
Ia mencontohkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta kebijakan berbau militeristik seperti Latihan Dasar Militer (Latsarmil) pada program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang dinilai tidak tepat sasaran dan justru memakan korban jiwa.
"Tapi selain MBG, kami juga meminta evaluasi dan kalau bisa penghentian seluruh program-program prioritas yang terbukti korup, mudah dikorup. Terbukti itu lebih banyak mudaratnya, lebih banyak kerugiannya daripada manfaatnya," ujarnya.
Aksi kali ini yang membawa tema "Liburan Tetap Melawan" dipilih sebagai bentuk kritik atas kondisi ekonomi yang membuat masyarakat sulit menikmati masa liburan.
Baca Juga: Wamensos Tinjau Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen Kulon Progo, Progres Capai 91 Persen
Menurutnya, banyak warga justru masih dibebani persoalan ekonomi, mulai dari pelaku UMKM, pengemudi ojek online, hingga petani yang mengeluhkan rendahnya harga hasil panen.
Dalam aksi tersebut, petani bahkan membagikan sayuran secara gratis sebagai simbol sulitnya kondisi yang mereka hadapi.
"Jadi kenapa liburan melawan? Karena ini liburan harusnya kita senang-senang tapi ternyata masih sedih gitu, masih masih pusing gara-gara pemerintah. Makanya kami ya daripada liburan ya udah kita melawan aja bergerak aja," tegasnya.
Kritik terhadap ruang aman demokrasi yang kian menyempit pun turut disuarakan dengan lantang dalam aksi ini.
Mereka menuntut jaminan kebebasan berpendapat dan mendesak aparat penegak hukum untuk segera menghentikan kriminalisasi serta tindakan represif terhadap para demonstran di seluruh penjuru tanah air.
Keresahan yang mendalam dari kaum ibu di Yogyakarta ini tidak berjalan sendirian. Melainkan ada pula para pekerja seni yang turut ikut di dalamnya.
Kolaborasi erat terjalin antara warga dengan musisi salah satunya, Leilani Hermiasih atau yang akrab disapa Frau.
Frau menegaskan bahwa musisi dan warga negara tidak boleh terbuai oleh ramalan politik ataupun pasrah pada keadaan. Melainkan harus terus menggalang kekuatan kolektif demi menuntut keadilan.
"Saya pikir yang lebih penting adalah justru bagaimana kita sebagai musisi dan juga warga itu saling menguatkan satu sama lain dan menyemangati satu sama lain bergerak sebisa kita, semampu kita, seberdaya apa pun kita untuk melawan," ujar Frau.
Berita Terkait
-
Wamensos Tinjau Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen Kulon Progo, Progres Capai 91 Persen
-
Mahasiswa Viral Masuk Toilet Cewek? Unisa Yogyakarta: Investigasi Awal Belum Temukan Faktanya
-
Viral Mahasiswa Unisa Yogya Diduga Kenakan Busana Perempuan dan Masuk Toilet Mahasiswi
-
Intip Rahasia Mesin Vario Evo 160 yang Bikin Tarikan Makin Galak, Bukan Evolusi Wajah Saja
-
Hasil MLSC All-Stars 2026: Tekuk Yogyakarta, Surabaya Rebut Tempat Ketiga
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 2 Juli 2026, Ada Kuda hingga Anjing
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Dalami Amplop dari Bupati Kuansing, KPK Buka Peluang Periksa Menhut Raja Juli
-
PLN Klaim Pemadaman Listrik di Kalbar Bukan karena Krisis Batu Bara, Ini Penyebabnya
-
Said Iqbal Beri Deadline Disnakertransgi DKI, Senin Harus Ada Keputusan Soal Kasus Mau Print
-
Pengusaha Kalbar Rugi Akibat Listrik Padam, DPRD Desak PLN Lebih Terbuka
-
PLN Sebut Bukan Karena Batu Bara, DPRD Minta Penyebab Pemadaman Listrik di Kalbar Dibuka ke Publik
-
PAN Tegaskan Kasus Syah Afandin Bukan 'Dosa' Partai: Itu Tanggung Jawab Pribadi!
-
Teka-teki Lokasi Muktamar NU, 5 Provinsi Ini Bersaing Ketat
-
DTKJ Usul Mikrotrans Tak Lagi Gratis, Tarif Rp 2.000 Dinilai Bikin Data Penumpang Lebih Akurat
-
Kenapa Warga Bela Bandar Narkoba? Bedah Kasus Katingan yang Tewaskan Aipda Yudhi Perdana
-
Kasus dr Icha Jadi Titik Balik, Kemenkes Siapkan Perpres Perlindungan Nakes hingga Aturan Sanksi