Bisnis / Energi
Selasa, 21 Juli 2026 | 15:11 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi kedatangan impor minyak mentah Rusia sebagai tahap awal kerja sama energi antarnegara. [Suara.com/Yaumal Asri Adi Hutasuhut]
Baca 10 detik
  • Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi kedatangan impor minyak mentah Rusia sebagai tahap awal kerja sama energi antarnegara.
  • Pengiriman 770.000 barel minyak telah tiba di Pelabuhan Balikpapan pada 29 Juni untuk menjaga stok cadangan BBM nasional.
  • Pemerintah menargetkan total impor mencapai 150 juta barel hingga akhir 2026 melalui skema kerja sama G2G dan B2B.

Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi impor minyak mentah asal Rusia telah tiba di Indonesia. Bahlil menyebut pengiriman tersebut sebagai tahap awal kerja sama energi kedua negara yang difasilitasi melalui Badan Layanan Umum (BLU) Lemigas.

"Sudah kita lakukan tahap pertama. Dilakukan oleh Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan diperintahkan lewat Lemigas karena kedaulatan bangsa enggak boleh diintervensi oleh negara lain," kata Bahlil saat ditemui wartawan di Kementerian ESDM, Jakarta pada Selasa (21/7/2026).

Bahlil menegaskan bahwa impor minyak tersebut dilakukan guna memastikan ketersedian BBM nasional. Dipastikannya proses impor berjalan tidak melanggar aturan.

"Pemerintah dalam hal ini Menteri ESDM berkepentingan untuk menjaga stok cadangan daripada BBM kita. Saya enggak mau pusing mau ambil dari mana, yang penting tidak melanggar aturan," tegasnya.

Namun ketika ditanya soal harga yang dipatok oleh Rusia, Bahlil enggan merincinya.

"Sudah jangan tanya hargalah yang jelas lebih baik," katanya.

Berdasarkan data bea cukai yang dihimpun Big Trade Data dan dilaporkan Bloomberg News, kapal tanker Sierra mengirimkan hampir 770.000 barel minyak mentah asal Kozmino, Rusia, ke Pelabuhan Balikpapan pada 29 Juni. Nilai pengiriman tersebut diperkirakan mencapai US$75 juta.

Adapun kesepakatan impor minyak tersebut, setelah pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin yang berlangsung pada April lalu.

Adapun total minyak yang akan diimpor mencapai 150 juta barel hingga akhir tahun 2026. Kerja sama dilakukan melalui skema Government to Government (G2G) dan Business to Business (B2B).

Baca Juga: Minyak Rusia Masuk Cadangan Energi RI, Pemerintah Siapkan Tameng Hadapi Gejolak Pasokan Global

Load More