Bisnis / Energi
Kamis, 16 Juli 2026 | 14:42 WIB
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menegaskan bahwa minyak yang diimpor dari Rusia tidak ditujukan untuk kebutuhan konsumsi harian, melainkan sebagai bagian dari cadangan. Foto Yaumal-Suara.com
Baca 10 detik
  • Minyak Rusia disiapkan jadi cadangan energi nasional RI.
  • Lemigas ditunjuk impor minyak lewat skema kerja sama negara.
  • ESDM cek kabar minyak Rusia masuk melalui Teluk Balikpapan.

Suara.com - Pemerintah mulai menyiapkan strategi baru untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan impor minyak mentah dari Rusia sebagai cadangan penyangga energi. Langkah ini menjadi tindak lanjut dari kesepakatan kerja sama energi yang terjalin setelah pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menegaskan bahwa minyak yang diimpor dari Rusia tidak ditujukan untuk kebutuhan konsumsi harian, melainkan sebagai bagian dari cadangan strategis nasional guna mengantisipasi potensi gangguan pasokan energi di masa depan.

"Itu (minyak dari Rusia) menjadi cadangan penyangga energi nasional," ujar Yuliot saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Kebijakan tersebut didukung oleh terbitnya Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2026 tentang Pengadaan Minyak Bumi, BBM, dan/atau LPG untuk Ketahanan Energi Nasional. Regulasi ini memberikan kewenangan kepada Badan Layanan Umum (BLU) sektor energi, yakni Lemigas, untuk melakukan pengadaan minyak dalam rangka memperkuat stok energi nasional.

Menurut Yuliot, mekanisme impor dilakukan dalam kerangka kerja sama antarpemerintah sehingga berbeda dengan skema impor komersial yang biasa dilakukan oleh perusahaan migas.

"Kalau untuk ini kerja sama antarnegara, mekanismenya melalui BLU sektor energi. Untuk BLU sektor energi itu ada Lemigas," jelasnya.

Meski demikian, pemerintah belum dapat memastikan kabar yang menyebutkan minyak asal Rusia telah masuk ke Indonesia melalui Teluk Balikpapan.

Yuliot mengatakan pihaknya masih melakukan pengecekan karena minyak yang diterima Indonesia umumnya telah melalui proses pencampuran (blending) dari berbagai sumber sebelum dipasarkan di dalam negeri.

"Pengadaan minyak itu kan ada Indonesia Blend. Minyak yang diterima berasal dari supplier dalam bentuk blending atau Nusantara Blending. Jadi apakah ada yang berasal dari Rusia dan berapa jumlahnya, kami cek dulu," ujarnya.

Baca Juga: Kelangkaan Pertalite Meluas, ESDM Turunkan Tim Usut Masalah Distribusi BBM

Pemanfaatan minyak Rusia sebagai cadangan strategis dinilai menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi di tengah dinamika geopolitik global dan fluktuasi harga minyak dunia.

Dengan adanya cadangan penyangga yang lebih kuat, pemerintah memiliki ruang lebih besar untuk menjaga stabilitas pasokan BBM domestik apabila terjadi gangguan distribusi maupun lonjakan harga di pasar internasional.

Kebijakan ini juga menandai semakin aktifnya pemerintah mencari sumber pasokan energi alternatif melalui kerja sama bilateral, sekaligus memperluas diversifikasi sumber impor minyak guna mengurangi risiko ketergantungan pada kawasan tertentu.

Load More