Bisnis / Keuangan
Rabu, 22 Juli 2026 | 18:42 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan kredit nganggur atau fasilitas pinjaman perbankan yang belum digunakan mencapai Rp2.490 triliun pada Juni 2026.. [Suara.com/Dicky Prastya]
Baca 10 detik
  • Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan kredit nganggur atau fasilitas pinjaman perbankan yang belum digunakan mencapai Rp2.490 triliun pada Juni 2026.
  • Pertumbuhan kredit perbankan nasional pada Juni 2026 meningkat menjadi 12,67 persen secara tahunan didukung berbagai jenis penggunaan.
  • Bank Indonesia memastikan permodalan dan likuiditas perbankan nasional tetap kuat untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan kredit nganggur atau fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) masih menumpuk di bank-bank Tanah Air. Ia mendorong agar duit ribuan triliun itu digunakan untuk membiayai perekonomian.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan fasilitas pinjaman yang belum digunakan mencapai Rp2.490 triliun atau 21,52 persen di bulan Juni. Jumlah ini lebih sedikit dibandingkan bulan Mei yang tembus Rp2.576 triliun.

"Masih besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan atau sering disebut undisbursed loan yang mencapai Rp 2.490 triliun atau 21,52% dari plafon kredit yang tersedia, sehingga perlu terus didorong realisasinya untuk mendukung pembiayaan ekonomi," kata Pery dalam RDG secara virtual, Rabu (22/7/2026).

Meskipun dana nganggur masih besar, laju kredit perbankan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi terus meningkat. Hal itu terlihat dari pertumbuhan kredit perbankan pada Juni 2026 tercatat sebesar 12,67 persen (yoy), meningkat dari pertumbuhan Mei 2026 sebesar 11,51 persen (yoy).

Berdasarkan kelompok penggunaan, perkembangan ini didukung oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi yang pada Juni 2026 masing-masing tumbuh sebesar 24,90 persen (yoy), 8,94 persen (yoy), dan 5,75 persen (yoy).

"Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8-12 persen," katanya.

Dari sisi penawaran, minat penyaluran kredit (lending appetite) juga masih longgar serta didukung pertumbuhan DPK yang tetap tinggi yaitu mencapai sebesar 10,21 persen (yoy).

Selain itu, perkembangan suku bunga perbankan diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit, termasuk didukung publikasi asesmen transparansi Suku Bunga Dasar Kredit. Perkembangan suku bunga deposito 1 bulan pada Juni 2026 tercatat 4,76 persen, sementara suku bunga kredit per Juni 2026 tercatat sebesar 8,81 persen.

Dia pun memastikan likuiditas perbankan tetap kuat untuk memitigasi ketidakpastian global terhadap sistem keuangan. Kondisi ini ditandai kapasitas permodalan yang terjaga pada level tinggi, risiko kredit yang terjaga rendah, dan likuiditas perbankan secara industri juga tetap memadai.

Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada Mei 2026 tercatat tinggi sebesar 23,74 persen, yang tergolong kuat dalam menyerap risiko dan mendukung pertumbuhan kredit.

Baca Juga: Cicilan KPR Semakin Berat Jika BI Naikkan Suku Bunga Acuan Hari Ini

Lalu rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) perbankan secara agregat tetap rendah sebesar 2,17 persen (bruto) dan 0,84 persen (neto) pada Mei 2026.

Sementara itu, rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) industri perbankan tercatat sebesar 23,08 persen pada Juni 2026 atau turun dari sebesar 24,74 persen pada Mei 2026.

Hasil stress test Bank Indonesia menunjukkan ketahanan perbankan tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, termasuk dampak rambatan berlanjutnya perang di Timur Tengah yang ditopang oleh kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang tetap terjaga baik.

"Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan makroprudensial dan sinergi kebijakan bersama KSSK dalam rangka turut menjaga stabilitas sistem keuangan, termasuk menjaga kecukupan likuiditas dan memitigasi segmentasi likuiditas antar-bank," tegasnya.

Load More