Bisnis / Makro
Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:59 WIB
Ilustrasi Kakao. [Suara.com/Dicky Prastya]
Baca 10 detik
  • Kementerian Perdagangan menetapkan kenaikan harga referensi dan patokan ekspor biji kakao mulai Agustus 2026.
  • Lonjakan harga disebabkan gangguan pasokan global di Afrika Barat akibat cuaca buruk, hama, dan El Nino.
  • Pemerintah memberlakukan bea keluar dan pungutan ekspor biji kakao masing-masing sebesar 7,5 persen.

Suara.com - Cuaca ekstrem, fenomena El Nino, dan serangan hama di negara-negara produsen utama Afrika Barat memicu lonjakan harga kakao dunia, yang berdampak pada kenaikan harga referensi dan harga patokan ekspor (HPE) Indonesia mulai Agustus 2026.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menetapkan Harga Referensi (HR) biji kakao periode 1–31 Agustus 2026 sebesar 5.424,96 dolar AS per metrik ton (MT). Nilai tersebut melonjak 1.455,41 dolar AS atau 36,66 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Seiring kenaikan tersebut, Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao juga meningkat menjadi 5.064 dolar AS per MT, naik 1.418 dolar AS atau 38,90 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Tommy Andana, mengatakan penetapan harga referensi dan HPE dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar global, biaya logistik internasional, serta perkembangan perdagangan komoditas dunia.

"Penetapan HR dan HPE tersebut mempertimbangkan kondisi pasar, perkembangan biaya logistik internasional, serta dinamika perdagangan global. Peningkatan HR dan HPE biji kakao dipengaruhi gangguan pasokan di negara-negara produsen utama Afrika Barat akibat serangan hama, cuaca buruk, dan penurunan produksi yang dipicu fenomena El Nino," jelas Tommy dilansir dari laman Antara, Sabtu (1/8/2026).

Gangguan Pasokan Global Dorong Harga Kakao

Afrika Barat selama ini menjadi pusat produksi kakao dunia. Namun, kombinasi cuaca buruk, serangan hama, dan dampak El Nino telah menekan produksi di kawasan tersebut sehingga memicu kenaikan harga di pasar internasional.

Kondisi itu ikut memengaruhi kebijakan ekspor Indonesia. Untuk periode 1–31 Agustus 2026, pemerintah menetapkan bea keluar (BK) biji kakao sebesar 7,5 persen, sesuai ketentuan dalam PMK Nomor 38 Tahun 2024 yang telah diperbarui melalui PMK Nomor 68 Tahun 2025.

Selain itu, pungutan ekspor (PE) biji kakao juga tetap berada di level 7,5 persen, mengacu pada PMK Nomor 69 Tahun 2025 sebagaimana telah diubah melalui PMK Nomor 9 Tahun 2026.

Baca Juga: Minat Investasi Turun, Harga Acuan Emas Merosot

Sejumlah Komoditas Kehutanan Ikut Berubah

Selain kakao, Kemendag juga melakukan penyesuaian terhadap sejumlah komoditas kehutanan.

Harga Patokan Ekspor getah pinus untuk Agustus 2026 naik menjadi 1.013 dolar AS per MT, meningkat 11 dolar AS atau 1,10 persen dibandingkan Juli 2026.

Sementara itu, HPE beberapa produk kayu mengalami kenaikan, terutama untuk veneer dari hutan alam serta sejumlah produk kayu olahan dari jenis rimba campuran, jati, balsa, dan eucalyptus.

Sebaliknya, beberapa produk kayu lain mengalami penurunan HPE, antara lain veneer dari hutan tanaman, wooden sheet for packing box, wood in chips or particle, serta kayu olahan berbahan meranti, merbau, eboni, akasia, pinus, gmelina, sengon, dan karet.

Adapun HPE untuk beberapa produk seperti chipwood dan sejumlah kayu olahan lainnya tercatat tidak mengalami perubahan dibandingkan periode Juli 2026.

Penetapan harga referensi dan harga patokan ekspor tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 1667 Tahun 2026 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Layanan Badan Layanan Umum.

Fenomena alam El Nino dengan kekuatan super ekstrem (Freepik)

Kenaikan harga kakao dunia diperkirakan masih akan menjadi perhatian pelaku industri makanan dan minuman, eksportir, serta investor komoditas.

Selama gangguan produksi di negara-negara pemasok utama belum sepenuhnya pulih, volatilitas harga kakao diperkirakan tetap tinggi dan berpotensi memengaruhi biaya produksi berbagai industri berbasis kakao di pasar global.

Load More