- Cau Chocolates meminta Pemerintah Bali memberikan insentif bagi pengusaha cokelat lokal karena suku bunga kredit masih tinggi.
- CEO Cau Chocolates menyatakan industri bangkit perlahan setelah terdampak buruk signifikan akibat pandemi Covid-19.
- Insentif yang diusulkan meliputi suku bunga rendah dan pengurangan pajak bagi petani dan industri kakao nasional.
Suara.com - Perusahaan kakao asal Bali, Cau Chocolates, meminta Pemerintah untuk memberikan insentif ke pengusaha cokelat lokal.
CEO Cau Chocolates, I Kadek Surya Prasetya Wiguna mengatakan kalau mereka perlu insentif karena suku bunga kredit perbankan masih cukup tinggi.
“Kita masih terima itu paling tinggi di 8-12 persen sekarang. Dan itu dibandingkan negara lain masih cukup tinggi,” katanya saat ditemui di Bali, Selasa (25/11/2025).
Wiguna mengaku kalau industri kakao sempat babak belur dihantam Covid-19. Barulah saat ini pelaku usaha pelan-pelan mulai bangkit lagi.
“Kita jangan ditakut-takuti. Kami minta didukung,” pinta dia.
“Justru didukung, kalau perlu diberi insentif. Insentif dari sisi hulu, petani diberi insentif, industri dibantu, dengan cara katakanlah suku bunga yang rendah, katakanlah insentif pajak,” jelasnya.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, kontribusi kakao kepada APBN pada 2024 bersumber dari sektor pajak mencapai Rp3,7 triliun dan bea keluar mencapai Rp240 miliar.
Sedangkan pada 2025, realisasi bea keluar periode Januari-September mencapai Rp150,7 miliar dan pungutan ekspor yang mulai diberlakukan pada 22 Oktober 2025 sudah mencapai Rp48,8 juta.
Adapun luas perkebunan kakao di Indonesia saat ini mencapai sekitar 1,3 juta hektare. 99 persen dar perkebunan itu merupakan lahan perkebunan yang dikelola rakyat.
Baca Juga: Gaji Petani Kakao Indonesia Bisa Tembus Rp 10 Juta per Bulan, Ini Rahasianya
Menurut data Organisasi Internasional Kakao (ICCO), produksi biji kakao Indonesia per tahun mencapai kisaran 180 ribu hingga 200 ribu ton per tahun.
Berita Terkait
-
Gaji Petani Kakao Indonesia Bisa Tembus Rp 10 Juta per Bulan, Ini Rahasianya
-
Kemenkeu Siapkan Peremajaan Lahan Kakao 5.000 Hektar di 2026
-
Pengusaha Adukan Penyidik KPK ke Bareskrim: Klaim Aset Rp700 Miliar Disita Tanpa Prosedur
-
Kakao Indonesia di Mata Dunia: Dihantam Black Campaign, Dianggap Mematikan Orang Utan
-
5 Parfum Aroma Cokelat di Indomaret yang Wangi dan Terjangkau
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Bergerak di Tengah Tantangan Global, Armada Kapal Pertamina Topang Distribusi Energi
-
Mulai dari Tuban, Pertamina Gulirkan Pasar Murah Bantu Warga Penuhi Kebutuhan Pokok
-
Energi Terbarukan Kian Digenjot, Teknologi Baterai Jadi Kunci Atasi Fluktuasi Listrik
-
ASDP Tunda Alihkan Rute Kapal Ferry Bajoe-Kolaka, Ini Penyebabnya
-
Pertamina Raih Efisiensi Setelah Ubah Sistem Distribusi FAME Lewat Pipa
-
Perhatian! 18 Emiten Diusir BEI dari Pasar Modal RI, Ini Daftarnya
-
OJK Masih Telusuri Pelanggaran Kasus Debt Collector Mandiri Tunas Finance
-
Siap-siap! Pergi ke Stadion JIS Bisa Naik KRL Mulai Juni
-
Awas, Kendaraan 'STNK Only' Bisa Jadi Awal Petaka! Ini Penjelasan OJK
-
IHSG Tertekan Rekor Teburuk Kurs Rupiah, BBRI Jadi Salah Satu Rekomendasi Analis