Bisnis / Makro
Selasa, 04 Agustus 2026 | 11:34 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (23/7/2026). [Suara.com/Novian]
Baca 10 detik
  • Purbaya: "Mereka salah, saya pintar", bantah kritik ekonom asing.
  • RI lolos empat guncangan, ekonomi tetap tumbuh 5,61%.
  • Purbaya klaim fiskal kuat meski dihantam tekanan global.

Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan pernyataan keras kepada para ekonom dan lembaga internasional yang selama ini mengkritik kebijakan fiskal Indonesia. Menurutnya, berbagai tudingan bahwa dirinya tidak mampu mengelola ekonomi terbukti keliru setelah pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap melesat di tengah rentetan guncangan global.

Purbaya mengungkapkan, sejak menjabat sebagai Menteri Keuangan dirinya terus menjadi sasaran kritik dari sejumlah ekonom hingga institusi asing yang menilai kebijakan fiskal pemerintah tidak berada di jalur yang benar. Namun, ia menegaskan fakta di lapangan justru menunjukkan hasil sebaliknya.

"Jadi ekonomi membaik secara signifikan tetapi ekonom dan institusi asing selalu bilang saya tidak cukup pintar menjalankan kebijakan ekonomi yang baik. Mereka salah, saya pintar," ujar Purbaya dalam acara GIIAS 2026, Selasa (4/8/2026).

Menurut Purbaya, tugas utamanya bukan sekadar menjaga stabilitas fiskal, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dalam waktu singkat. Hasilnya, ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,61% pada kuartal I-2026, melampaui banyak perkiraan di tengah tekanan ekonomi global.

Ia juga menepis berbagai narasi negatif yang sempat membanjiri media sosial terkait kondisi ekonomi Indonesia. Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia dihadapkan pada empat tekanan besar sekaligus, yakni pengetatan likuiditas, gejolak pasar akibat penilaian MSCI, revisi outlook peringkat kredit Indonesia oleh Fitch Ratings, serta pelemahan nilai tukar rupiah.

Meski dihantam empat guncangan secara bersamaan, Purbaya menilai ekonomi nasional tetap mampu bertahan dengan baik. Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga dan aktivitas ekonomi tidak mengalami gangguan berarti.

"Satu saja sudah cukup, kali ini kita menghadapi empat sekaligus. Namun ekonomi Indonesia tetap kokoh, sistem keuangan tetap stabil, kegiatan ekonomi tetap berjalan. Ini menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia jauh lebih kuat dibandingkan masa-masa krisis sebelumnya," tegasnya.

Purbaya juga mengungkapkan pengalamannya saat bertemu Dana Moneter Internasional (IMF) pada akhir April 2026. Dalam forum tersebut, ia bahkan menyebut dirinya sebagai "menteri keuangan paling tidak beruntung di dunia" karena harus menghadapi serangkaian ujian sejak pertama kali menjabat.

Menurutnya, ketika mulai memimpin Kementerian Keuangan, Indonesia baru saja dilanda demonstrasi besar. Setelah itu, pemerintah harus menghadapi penilaian MSCI, revisi negatif dari Fitch Ratings dan Moody's, hingga pecahnya konflik Iran yang kembali mengguncang pasar global.

Baca Juga: Purbaya Bantah Rumor BI Masuk Kabinet di Bawah Naungan Kemenkeu

"Setelah kami memperbaiki semuanya, datang perang Iran. Setelah itu, mereka tidak menyukai saya. Katanya Menteri Keuangan tidak cukup handal," ujar Purbaya dalam bahasa Inggris.

Meski menghadapi tekanan beruntun dari dalam maupun luar negeri, Purbaya menegaskan kebijakan fiskal pemerintah tetap berjalan secara disiplin dan efektif. Baginya, kemampuan Indonesia mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5% di tengah gejolak ekonomi dan politik global menjadi bukti bahwa fondasi ekonomi nasional semakin kuat.

"Di tengah gejolak ekonomi dan politik, buktinya RI masih bisa tumbuh di atas 5%. Ini capaian yang sangat bagus," pungkasnya.

Load More