Bisnis / Makro
Rabu, 05 Agustus 2026 | 12:51 WIB
BPS mencatat sebanyak 22,93 juta penduduk masih hidup dalam kondisi miskin, sementara kesenjangan antara wilayah perkotaan dan perdesaan tetap lebar. Foto ist.
Baca 10 detik
  • 22,93 juta warga masih miskin meski angka nasional turun.
  • Kemiskinan desa masih jauh lebih tinggi dibanding perkotaan.
  • Lebih dari separuh penduduk miskin masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) memang melaporkan angka kemiskinan Indonesia kembali menurun hingga Maret 2026. Namun, di balik perbaikan statistik tersebut, pekerjaan rumah pemerintah masih sangat besar. Sebab, sebanyak 22,93 juta penduduk masih hidup dalam kondisi miskin, sementara kesenjangan antara wilayah perkotaan dan perdesaan tetap lebar.

BPS mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 mencapai 22,93 juta orang atau 8,07% dari total penduduk. Angka itu turun sekitar 430 ribu orang dibandingkan September 2025, dengan tingkat kemiskinan menyusut 0,18 poin persentase.

"Pada Maret 2026, jumlah penduduk miskin di Indonesia sebanyak 22,93 juta orang, atau turun sebanyak 0,43 juta orang dibandingkan dengan bulan September tahun 2025," ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Meski demikian, penurunan tersebut dinilai belum cukup menghapus fakta bahwa puluhan juta masyarakat Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan. Artinya, hampir satu dari setiap 12 penduduk Indonesia masih hidup dalam kondisi ekonomi yang rentan.

BPS juga mengungkapkan bahwa ketimpangan kesejahteraan antara desa dan kota masih menjadi tantangan serius. Tingkat kemiskinan di perkotaan tercatat 6,34%, sedangkan di perdesaan mencapai 10,67% atau hampir dua kali lebih tinggi.

Ironisnya, laju penurunan kemiskinan di desa juga jauh lebih lambat. Dibandingkan September 2025, tingkat kemiskinan di perkotaan turun 0,26 poin persentase, sementara di perdesaan hanya turun 0,05 poin persentase. Kondisi ini menunjukkan manfaat pemulihan ekonomi belum dirasakan secara merata oleh masyarakat di wilayah pedesaan.

"Berdasarkan tren pada grafik sejak Maret 2023 sampai dengan Maret 2026, jumlah dan tingkat kemiskinan terus mengalami penurunan," kata Edy.

Masalah lainnya adalah konsentrasi penduduk miskin yang masih bertumpu di Pulau Jawa. BPS mencatat sebanyak 12,02 juta orang atau 52,42% dari seluruh penduduk miskin nasional berada di pulau tersebut. Dengan kata lain, lebih dari separuh masyarakat miskin Indonesia masih terkonsentrasi di pusat aktivitas ekonomi nasional.

Sebaliknya, Kalimantan menjadi wilayah dengan jumlah penduduk miskin paling sedikit, yakni sekitar 870 ribu orang atau 3,79% dari total nasional.

Baca Juga: Pengangguran Memang Turun, Tapi Cuma 24 Ribu Orang! Masih Ada 7,22 Juta Warga Indonesia Menganggur

BPS menyebut penurunan tingkat kemiskinan terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Pulau Jawa mencatat penurunan terdalam sebesar 0,21 poin persentase dibandingkan September 2025.

Load More