- Badan Pusat Statistik mencatat sektor pertambangan Indonesia terkontraksi 1,64 persen pada triwulan II 2026.
- Kontraksi tersebut dipicu penurunan produksi bijih logam, penataan kuota batu bara, serta turunnya produktivitas migas.
- Ekonomi nasional tetap tumbuh positif sebesar 5,29 persen dengan industri pengolahan sebagai penyumbang terbesar.
Suara.com - Sektor pertambangan menjadi satu-satunya lapangan usaha yang mengalami kontraksi pada triwulan II 2026, di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lapangan usaha pertambangan terkontraksi 1,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, mengatakan, seluruh lapangan usaha mencatat pertumbuhan positif kecuali sektor pertambangan.
"Pada triwulan II-2026, secara year-on-year seluruh lapangan usaha tumbuh positif kecuali lapangan usaha pertambangan," kata Edy dalam konferensi pers di Kantor BPS RI, Selasa (5/8/2026).
Menurut dia, kontraksi sektor pertambangan dipicu oleh penurunan produksi di sejumlah komoditas tambang. Pertambangan bijih logam tercatat menyusut 9,42 persen akibat turunnya produksi bijih bauksit, bijih timah, dan bijih nikel.
Selain itu, operasi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave di Papua Tengah juga belum pulih sepenuhnya setelah insiden longsor atau aliran lumpur yang terjadi pada September 2025.
"Pertambangan bijih logam terkontraksi sebesar 9,42 persen akibat penurunan produksi beberapa komoditas tambang seperti bijih bauksit, bijih timah, bijih nikel. Selain itu juga belum pulihnya operasi tambang bawah tanah di Grasberg Block Cave di Provinsi Papua Tengah pascainsiden longsor atau aliran lumpur pada September tahun 2025," ujarnya.
BPS juga mencatat pertambangan batu bara dan lignit terkontraksi 1,41 persen. Kondisi tersebut dipengaruhi penataan kuota produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025-2027 sebagai upaya menjaga keseimbangan pasokan dan mendukung perbaikan harga batu bara di pasar internasional.
Sementara itu, pertambangan minyak, gas, dan panas bumi mengalami kontraksi 2,15 persen akibat penurunan alami produktivitas sumur migas serta minimnya penemuan cadangan migas baru.
Baca Juga: Dear Pak Prabowo: 22,93 Juta Warga RI Masih Hidup Miskin
"Pertambangan minyak, gas, dan panas bumi terkontraksi sebesar 2,15 persen disebabkan penurunan tingkat alamiah produktivitas sumur migas, serta minimnya penemuan cadangan migas baru," ucap Edy.
Di sisi lain, BPS mencatat sejumlah lapangan usaha justru mencatat pertumbuhan tinggi pada triwulan II 2026.
Pengadaan listrik dan gas tumbuh 10,81 persen, penyediaan akomodasi dan makan minum meningkat 10,60 persen, sedangkan sektor informasi dan komunikasi tumbuh 6,97 persen.
Adapun dari sisi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar dengan sumber pertumbuhan sebesar 0,90 persen.
Disusul sektor perdagangan sebesar 0,83 persen, konstruksi 0,62 persen, serta informasi dan komunikasi sebesar 0,48 persen.
Berita Terkait
-
Transisi Ekonomi Hijau Dinilai Mustahil Tanpa Kolaborasi Lintas Sektor
-
Tak Hanya Penggerak Ekonomi, Industri Juga Jadi Motor Konservasi Laut
-
Bantu Ekonomi Negara, Tapi Hilirisasi Industri Agro Masih Minim
-
Purbaya Bakal Lebih Aktif Tagih Pajak, Tapi Janji Tak Ada Kenaikan
-
Sensus Ekonomi 2026 Jadi Kunci Kebijakan dan Investasi, Data Akurat Cegah Salah Ambil Keputusan
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
IDI Desak Audit RS dan BPJS Usai Tragedi Yusrizal: Pelayanan Kesehatan Tak Boleh Diefisiensi
-
Kekalahan Memalukan Timnas Indonesia dari Vietnam Jadi Pembahasan Unik Media Korea
-
Dukung Generasi Emas, BRI Peduli Bawa Program Desa BRILiaN 1.000 HPK ke Kaliurang
-
Sektor Pertambangan Jadi Satu-satunya Terkontraksi pada Kuartal II 2026, Ini Penyebabnya
-
Hakim Banding Kabulkan Permintaan Nadiem Makarim, Lima Saksi Termasuk Eks Bos GoTo Akan Diperiksa
-
Berangkat Kerja Malah Jadi Korban Begal, Pria di Sleman Ditodong Sajam dan Motor Digasak
-
Dear Pak Prabowo: 22,93 Juta Warga RI Masih Hidup Miskin
-
Samsung Galaxy A27 5G vs Galaxy A25 5G, Apa Saja Bedanya? Ini 4 Alasan Layak Upgrade
-
Pendaftaran Upacara 17 Agustus 2026 di Istana Dibuka Sampai Kapan? Ini Batas Waktunya
-
Pemutihan Pajak Kendaraan 2026 Sampai Kapan? Simak Jadwal Lengkap Tiap Provinsi