- Selandia Baru percepat penurunan perokok lewat pendekatan pengurangan bahaya.
- Laju penurunan prevalensi merokok naik dari 3,5% menjadi 17,9% per tahun.
- Indonesia didorong menerapkan regulasi tembakau berbasis risiko dan sains.
Menurut dia, Selandia Baru mampu mengombinasikan pengendalian rokok dengan strategi pengurangan bahaya tembakau melalui regulasi yang mempertimbangkan perkembangan ilmu pengetahuan.
“Regulasi berbasis sains itu penting karena kebijakan kesehatan publik tidak boleh hanya dibangun atas persepsi dan opini publik. Kebijakan harus bertumpu pada data, kajian ilmiah, pemantauan pasar, dan evaluasi berkala,” kata Ariyo.
Dia menegaskan regulasi berbasis sains bukan berarti pemerintah memberikan kebebasan tanpa batas terhadap produk tembakau alternatif.
Sebaliknya, pemerintah tetap perlu menetapkan standar yang jelas dan terukur agar produk yang beredar memenuhi aspek keamanan, kualitas, serta perlindungan konsumen.
Salah satu bentuk pengawasan tersebut, kata Ariyo, adalah memastikan produk tembakau alternatif tidak dapat diakses oleh kelompok yang belum diperbolehkan menggunakannya, terutama anak-anak.
“Regulasi berbasis sains berarti pemerintah perlu menetapkan standar yang terukur. Misalnya larangan penjualan pada anak,” jelasnya.
Menurut Ariyo, pengalaman Selandia Baru memberikan pelajaran bahwa kebijakan terhadap produk tembakau alternatif tidak harus berada pada dua pilihan ekstrem, yakni pelarangan total atau pembiaran.
“Idealnya, yang perlu digarisbawahi adalah regulasi berbasis risiko. Jadi bukan pelarangan total, bukan pula pembiaran total,” tegas Ariyo.