Cerita Ngeri Kapten Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026: Diberondong 4 Peluru Koma 3 Hari

Kamis, 24 September 2026 | 16:33 WIB
Kapten Timnas Bangladesh, Jamal Bhuiyan, memiliki perjalanan hidup yang tidak biasa sebelum tampil di FIFA ASEAN Cup 2026 di Inodnesia. [Instagram Jamal Bhuiyan]
BACA 10 DETIK
  • Kapten Timnas Bangladesh Jamal Bhuiyan selamat dari penembakan di Kopenhagen dua dekade lalu yang membuatnya koma.
  • Insiden penembakan tersebut terjadi saat Jamal sedang membangun karier gemilang bersama tim kelompok umur FC Copenhagen.
  • Saat ini, pemain berusia 36 tahun itu tetap aktif membela Timnas Bangladesh menjelang Piala ASEAN 2026.

Suara.com - Kapten Timnas Bangladesh, Jamal Bhuiyan, memiliki perjalanan hidup yang tidak biasa sebelum tampil di FIFA ASEAN Cup 2026 di Inodnesia.

Dua dekade lalu, nyawanya hampir berakhir setelah empat peluru bersarang di tubuhnya dan membuatnya koma selama tiga hari.

Dalam wawancara dengan FIFA menjelang laga perdana Bangladesh di Piala ASEAN FIFA 2026, Jamal mengisahkan kembali pengalaman traumatis yang mengubah perjalanan hidupnya.

"Saya lahir dan besar di Kopenhagen. Suatu sore, saya ditembak di sana. Saya berada di dekat sekolah dengan tas masih di punggung. Seseorang berlari dan meminta kami meninggalkan daerah itu. Saya berpikir, apa yang sedang dia bicarakan?"

Tidak lama kemudian, suara tembakan terdengar. Jamal menjadi korban dan empat peluru mengenai tubuhnya hingga ia harus menjalani perawatan panjang.

"Beberapa saat kemudian, tembakan datang satu demi satu dan empat peluru mengenai tubuh saya. Saya koma selama tiga hari dan harus menghabiskan beberapa bulan lagi di rumah sakit untuk pemulihan."

Peristiwa tersebut terjadi ketika karier sepak bola Jamal sedang berada dalam fase perkembangan.

Saat itu, ia merupakan bagian dari tim kelompok umur FC Copenhagen dan tengah berada dalam performa yang baik.

"Bagi saya, itu benar-benar situasi yang sangat tragis. Karena saat itu saya sedang berada dalam performa yang sangat baik bersama tim kelompok umur FC Copenhagen."

Bahkan setelah sadar dari koma, pikiran Jamal masih tertuju pada sepak bola.

Ia mengira hanya melewatkan satu hari sehingga perlu memberi tahu pelatih bahwa dirinya tidak dapat bermain pada pertandingan berikutnya.

"Setelah bangun dari koma, saya mengatakan kepada perawat bahwa saya harus menelepon pelatih untuk memberi tahu bahwa saya tidak bisa bermain pada pertandingan besok."

Setelah melewati masa sulit tersebut, Jamal melanjutkan karier sepak bolanya. Pemain yang kini berusia 36 tahun itu memiliki pengalaman bermain di Denmark, Bangladesh, India, hingga Argentina.

Di level internasional, Jamal kemudian menjadi salah satu pemain paling berpengalaman Bangladesh.

Ketika tim nasional membutuhkannya, ia mengaku selalu siap menjalankan tugas selama kondisi fisiknya masih memungkinkan.

"Tentu saja, segala sesuatu pasti memiliki akhir. Namun, saat ini saya merasa tubuh saya berada dalam kondisi yang baik. Saya memiliki ikatan khusus dengan tim nasional dan Bangladesh."

"Saya tahu ada banyak harapan dari masyarakat terhadap saya dan tim. Terutama di negara seperti Bangladesh yang memiliki hampir 180 juta penduduk, ketika Anda masuk dalam skuad 23 pemain, tanggung jawabnya menjadi jauh lebih besar."

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com