Produktivitas Tenaga Kerja RI Terancam Tertinggal di Era AI, Kompetensi SDM Jadi Kunci

Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:30 WIB
Media Day IHCBS 2026 di Wayang Bistro, Jakarta, Rabu (12/8/2026). [dok. pribadi]
  • Produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal, sekitar 10% di bawah rata-rata ASEAN, sehingga peningkatan kompetensi dan adaptasi teknologi menjadi mendesak. [1]
  • AI dan digitalisasi diarahkan untuk memperkuat manusia, bukan menggantikannya, melalui upskilling, reskilling, serta pengembangan kemampuan employability dan kewirausahaan. [2]
  • Transformasi SDM harus menghasilkan aksi nyata, dengan kolaborasi pemerintah, industri, akademisi, media, dan komunitas untuk menciptakan produktivitas yang terukur dan berkelanjutan.

Tahun ini, penyelenggara juga menyiapkan buku sebagai salah satu bentuk legacy. Materi dan gagasan yang muncul selama forum akan dirangkum dengan bantuan AI sebelum diverifikasi oleh para ahli.

"Target kita tidak hanya aktivitas, tetapi ada output dan outcome. Setelah acara ini harus ada gerakan-gerakan yang bisa dirasakan," kata Suwardi Luis, Founder and CEO GML serta Founder QuBisa.

IHCBS 2026 mengusung tema Harnessing Human-Centric AI and Digitalization to Unlock Next-Level Productivity.

Tema tersebut menempatkan AI dan digitalisasi bukan sebagai pengganti manusia, melainkan instrumen untuk meningkatkan kapasitas dan produktivitas manusia.

Suwardi menjelaskan, terdapat tiga elemen utama yang hendak dipertemukan, yakni people, technology, dan purpose.

Teknologi harus diarahkan pada tujuan yang jelas, yakni meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan, dengan tetap ditopang kemampuan SDM.

"AI dan digitalisasi harus berorientasi dan digawangi dengan human capital capability," katanya.

Pendekatan itu juga menjadi penting karena dunia kerja menghadapi kemunculan berbagai teknologi baru, mulai dari AI assistant, augmented AI hingga agentic AI. Tanpa peningkatan kompetensi, pekerja berisiko hanya menjadi penonton dalam perubahan teknologi.

Karena itu, IHCBS 2026 akan memperluas agenda dari tujuh menjadi delapan track, menghadirkan sesi yang membahas keterampilan praktis, serta menyediakan Digitalization Zone yang melibatkan sekitar 100 penyedia solusi di bidang HR, AI, dan digitalisasi.

Format spotlight stage juga disiapkan untuk menghadirkan paparan singkat selama 10–15 menit yang berisi solusi dan tips praktis agar peserta dapat langsung mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh.

Transformasi IHCBS juga terlihat dari semakin luasnya ekosistem yang dilibatkan. Tahun ini, penyelenggara menargetkan keterlibatan 102 komunitas dan asosiasi HR dari berbagai wilayah Indonesia.

Komunitas tersebut akan menjadi bagian dari Indonesia Human Resources Ecosystem, yang diharapkan menjadi wadah kolaborasi para pengelola SDM lintas sektor.

Yunus mengatakan pentahelix juga diperkuat melalui keterlibatan pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan komunitas. "Kita ingin membangun unity dari para pengelola HR," ujarnya.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menjawab persoalan yang selama ini belum tuntas, termasuk kesenjangan antara kebutuhan industri dengan kompetensi lulusan SMK, politeknik, dan perguruan tinggi.

Di tengah perkembangan AI, menurut Yunus, persoalan upskilling, reskilling, dan link and match harus dijawab melalui aksi yang lebih konkret.

Dukungan terhadap IHCBS 2026 juga datang dari sektor kesehatan dan pengembangan kompetensi. Associate Director Marketing & Sales Mayapada Hospital Group, Michelle C. Tjindarbumi, mengatakan produktivitas SDM tidak dapat dilepaskan dari kesehatan fisik dan mental.

Menurut dia, perusahaan membutuhkan SDM yang sehat agar produktivitas dapat dipertahankan. Karena itu, Mayapada Hospital Group akan membawa isu pemanfaatan AI dalam layanan kesehatan, termasuk sistem AI dalam pemeriksaan kesehatan.

"Kami ingin menjadi partner bagi corporate dan human capital, bukan hanya kuratif, tetapi juga preventif dan dengan AI bisa predictive, supaya produktivitas tetap terjaga," ujarnya.

Sementara itu, GM Business Support International Test Center, Yeni Widiyasari, menilai kompetensi bahasa Inggris tetap penting di tengah perkembangan AI.

Menurut dia, kemampuan berbahasa Inggris dan sertifikasi berstandar internasional tetap diperlukan agar tenaga kerja mampu beradaptasi dengan teknologi dan lingkungan kerja global.

Rangkaian agenda tersebut memperlihatkan arah IHCBS 2026 yang tidak hanya membahas masa depan pekerjaan, tetapi mendorong ekosistem SDM untuk mengambil peran dalam membentuknya.

Dengan target 6.000 peserta, keterlibatan 102 komunitas HR, delapan track, dan sekitar 100 penyedia solusi HR, AI, serta digitalisasi, IHCBS 2026 diarahkan menjadi ruang untuk mengubah diskusi tentang SDM menjadi aksi yang terukur dan berkelanjutan.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com