- Kantor Grand Chamberlain Brunei Darussalam mengumumkan pencabutan seluruh gelar kerajaan Pengiran Raabi'atul Adawiyyah pada 8 Agustus 2026.
- Pencabutan gelar tersebut diputuskan oleh Sultan Hassanal Bolkiah karena Raabi'atul dinilai menunjukkan perilaku tidak pantas sebagai bangsawan.
- Meskipun gelar istrinya dicabut, posisi Pangeran Abdul Malik sebagai Menteri di Jabatan Perdana Menteri tetap tidak berubah.
Suara.com - Nama Pengiran Raabi'atul Adawiyyah mendadak ramai diperbincangkan setelah Sultan Brunei Darussalam, Sultan Hassanal Bolkiah, secara resmi mencabut seluruh gelar kerajaan yang disandangnya.
Berdasarkan pengumuman resmi dari Kantor Grand Chamberlain pada tanggal 8 Agustus 2026, pencabutan gelar bangsawan tersebut dilakukan karena adanya perilaku yang dinilai tidak pantas bagi seorang anggota keluarga kerajaan.
Sebelum insiden ini, Raabi'atul dikenal luas dengan gelar kebangsawanan penuh, yakni Yang Amat Mulia Pengiran Anak Isteri Pengiran Raabi'atul 'Adawiyyah binti Pengiran Haji Bolkiah.
Meski gelar istrinya dicabut secara penuh, posisi strategis kementerian yang dipegang oleh sang suami, Pangeran Abdul Malik, sama sekali tidak mengalami perubahan.
Pernikahan Mewah yang Pernah Menjadi Sorotan Dunia
Pangeran Abdul Malik dan Raabi'atul Adawiyyah resmi bertunangan pada 11 Januari 2015. Pernikahan mereka yang digelar pada bulan April 2015 mencuri perhatian global karena dirayakan dengan sangat meriah selama sepuluh hari berturut-turut, mulai dari tanggal 5 hingga 16 April.
Rangkaian upacara megah tersebut melibatkan Majlis Istiadat Berbedak Pengantin Diraja di Istana Nurul Iman, di mana keluarga memberikan berkah dengan bedak dan minyak wangi tradisional.
Prosesi akad nikah dilangsungkan dengan khidmat di Masjid Omar Ali Saifuddien. Resepsi puncaknya dihadiri oleh jajaran tamu kehormatan luar negeri, termasuk penguasa dari Malaysia seperti Sultan Pahang, Sultan Terengganu, Sultan Johor, Sultan Perak, Sultan Selangor, hingga Pangeran Saud bin Abdul Muhsin Al Saud dari Arab Saudi.
Selama masa pernikahan mereka yang menetap di Istana Nurul Iman, pasangan ini dikaruniai empat orang putri yang semuanya menyandang gelar Yang Amat Mulia Pengiran Anak.
Keempat putri tersebut adalah Muthee'ah Raayatul Bolqiah (lahir 2016), Fathiyyah Rafaahul Bolqiah (lahir 2018), Khaalishah Mishbaahul Bolqiah (lahir 2020), dan Nabeelah Najmul Bolqiah (lahir 2025). Raabi'atul sebelumnya juga kerap mendampingi suaminya dalam berbagai acara resmi kerajaan maupun pertemuan diplomatik.
Profil Pangeran Abdul Malik
Dilahirkan pada 30 Juni 1983, Pangeran 'Abdul Malik ibni Hassanal Bolkiah Mu'izzaddin Waddaulah adalah putra ketiga dan anak keenam dari Sultan Hassanal Bolkiah dengan istri pertamanya, Ratu Saleha.
Ia menerima pendidikan awalnya secara privat di Istana Nurul Iman dan Brunei Malay Teachers Association School, sebelum akhirnya meraih gelar Bachelor of Arts in Educational Studies dengan predikat second upper class honours dari Universiti Brunei Darussalam pada 30 Oktober 2008.
Di balik statusnya sebagai pangeran, Abdul Malik merupakan figur sentral dalam roda pemerintahan dan pengelolaan kekayaan negara.
Sejak April 2011, ia telah diangkat menjadi anggota Privy Council (Dewan Penasihat Raja). Ia juga menduduki posisi sebagai Wakil Ketua 1 di Jabatan Adat Istiadat Negara.