Indonesia Bantah Kongkalikong dengan China untuk Perdagangan ke AS

Kamis, 20 Agustus 2026 | 17:14 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membantah tudingan AS soal pengalihan barang dari China untuk perdagangan ke AS. [Suara.com/Fakhri Fuadi Muflih].
  • Menko Perekonomian Airlangga Hartarto membantah tudingan Pemerintah AS bahwa Indonesia terlibat praktik pengalihan barang China pada Kamis (20/8/2026).
  • Gedung Putih menempatkan Indonesia dalam laporan transshipment karena dinilai memiliki keterkaitan erat dengan rantai pasok China.
  • Airlangga menegaskan kawasan industri domestik memproduksi bahan baku sendiri dan produk plastik digunakan untuk kebutuhan dalam negeri.

Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membantah Pemerintah Amerika Serikat (AS) atas tudingan Indonesia terlibat dalam praktik transshipment atau pengalihan barang dari China ke Amerika Serikat (AS).

Airlangga mengatakan pemerintah Indonesia tidak pernah dilibatkan ataupun diberi tahu mengenai studi tersebut.

"Pertama, Indonesia tidak pernah terlibat ataupun diberitahu mengenai adanya studi ini. Dan kedua, Indonesia dituduh bersama Brazil, Malaysia, Thailand, Turki, Vietnam yang masuk di dalam global untuk transshipment. Kami katakan bahwa tuduhan tersebut tidak benar," kata Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat. [Shutterstock]

Adapun, dalam laporan The Great Transshipment Scam yang dikeluarkan Gedung Putih AS, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang dinilai memiliki keterkaitan erat dengan rantai pasok China dan berpotensi menjadi jalur pengalihan barang menuju AS.

Indonesia masuk kelompok kedua bersama Brasil, Malaysia, Thailand, Turki, dan Vietnam. Kelompok ini dinilai memiliki keterkaitan lebih erat dengan rantai pasok China, mulai dari sumber bahan baku, basis manufaktur, sistem logistik hingga jalur pengalihan regional.

Airlangga menyatakan posisi Indonesia dalam rantai pasok global tidak serta-merta menunjukkan adanya praktik transshipment.

Ia mencontohkan kawasan industri Batam dan Bekasi yang disebut dalam laporan tersebut. Menurut Airlangga, kedua kawasan industri itu sudah berkembang sejak 1990-an dan mayoritas industri yang beroperasi merupakan industri manufaktur.

"Dan untuk bahan baku plastik kita sudah punya bahan baku sendiri yang diproduksi oleh Chandra Asri dan bahkan yang terakhir oleh Lotte Chemicals. Jadi tidak benar ini menggunakan sebuah transshipment dari negara lain untuk memproses," jelasnya.

Airlangga juga membantah dugaan adanya pengalihan produk plastik melalui Indonesia untuk kemudian diekspor ke AS.

Menurut dia, sebagian besar produk plastik packaging yang dihasilkan industri di Indonesia digunakan untuk kebutuhan dalam negeri atau diekspor ke negara-negara sekitar Indonesia.

"Dan kedua, plastik packaging-nya sebagian besar digunakan sendiri di dalam negeri ataupun diekspor ke sekitaran, tetapi bukan ke Amerika Serikat," kata dia.

Karena itu, Airlangga meminta publik tidak perlu khawatir dengan laporan tersebut. Ia menilai kesimpulan dalam laporan itu dibangun berdasarkan anggapan dan asumsi.

"Jadi kita tidak perlu khawatir dengan studi, namun kami juga tegaskan bahwa studi ini merupakan studi yang berdasarkan anggapan atau asumsi. Jadi apa yang terjadi sebetulnya tidak seperti apa yang mereka asumsikan," tuturnya.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com