- Pada Kamis, 20 Agustus 2026, harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi akibat ancaman sanksi baru dari Presiden AS Donald Trump.
- Konflik dan blokade di Timur Tengah menyebabkan jutaan barel minyak terdampar serta mengganggu pasokan energi global secara signifikan.
- Lonjakan harga minyak mentah ini memicu pengetatan pasar global serta penurunan cadangan bahan bakar distilat di Amerika Serikat.
Suara.com - Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga minggu pada perdagangan Kamis (20/8/2026).
Lonjakan ini dipicu oleh peringatan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengenai ancaman sanksi bagi negara-negara yang membantu Iran, di tengah konflik Timur Tengah yang menyebabkan jutaan barel minyak terdampar dan tidak dapat didistribusikan.
Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent naik 1,94 dolar AS atau 2,1 persen menjadi 93,56 dolar AS per barel pada pukul 13:49 EDT, angka ini menjadi posisi tertinggi sejak 24 Juli.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman September menguat 2,18 dolar AS atau 2,5 persen ke level 88,01 dolar AS per barel.
Kontrak WTI bulan Oktober juga mencatat kenaikan 2,7 persen ke harga 86,68 dolar AS per barel.
Eskalasi pasar ini dipicu oleh pernyataan Trump yang mengancam akan menerapkan "perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya" terhadap Teheran.
Peringatan tersebut ditujukan kepada negara mana pun yang memberikan bantuan atau jalur ekonomi bagi Iran.
Menyikapi hal itu, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bakal menggelar konferensi pers pada Senin mendatang guna memaparkan rincian langkah tegas yang akan diambil pemerintah AS.
Konflik militer yang telah berlangsung selama hampir enam bulan sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran ini telah merenggut ribuan korban jiwa.
Blokade Teheran di Selat Hormuz serta serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Timur Tengah mengganggu pasokan minyak dan gas global secara signifikan.
Analyst UBS, Giovanni Staunovo, menilai ketegangan di Timur Tengah terus membuka celah bagi gangguan pasokan lanjutan, yang pada akhirnya memperketat kondisi pasar minyak global.
"Ekspor minyak yang lebih rendah dari Timur Tengah sekali lagi memperketat pasar minyak," katanya.
Analis energi dari StoneX, Alex Hodes, menyoroti bahwa ancaman Trump berpotensi memicu ketegangan baru dalam hubungan AS-China, mengingat Beijing merupakan pengimpor minyak mentah Iran terbesar.
Di sisi lain, Uni Emirat Arab melangkah lebih jauh dengan membekukan seluruh transaksi keuangan dan ekonomi dengan Iran sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Hingga saat ini, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz masih berada jauh di bawah volume normal sebelum perang, padahal jalur tersebut sebelumnya dilalui oleh sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia.
Kelangkaan minyak mentah juga berdampak pada pasokan bahan bakar hasil olahan dan menguras cadangan energi.
Menurut data Energy Information Administration (EIA), stok bahan bakar distilat AS, termasuk diesel dan minyak pemanas, mengalami penurunan selama tiga minggu berturut-turut, meskipun cadangan minyak mentah AS secara tak terduga mengalami kenaikan sebesar 4,4 juta barel.