Harga Minyak Turun Didorong Prospek Pembukaan Selat Hormuz

Kamis, 27 Agustus 2026 | 09:09 WIB
Harga minyak dunia turun akibat kemungkinan Selat Hormuz dibuka. [Suara.com/Iqbal]
  • Harga minyak dunia turun pada Kamis akibat potensi pembukaan kembali Selat Hormuz melalui perundingan.
  • Perdana Menteri Qatar dijadwalkan ke Iran pada Kamis untuk merundingkan penghentian konflik di Timur Tengah.
  • Badan Informasi Energi AS melaporkan stok produk sulingan turun 2,2 juta barel pada pekan lalu.

Suara.com - Harga minyak mentah dunia kembali terkoreksi pada perdagangan Kamis, melanjutkan tren pelemahan dalam beberapa hari terakhir. 

Penurunan ini dipicu oleh ekspektasi bahwa perundingan antara Iran dan Qatar dapat membuka kembali Selat Hormuz sehingga mengurangi gangguan pasokan akibat perang di Timur Tengah.

Mengutip dari Reuters, minyak mentah berjangka Brent turun 60 sen atau 0,7 persen menjadi 87,24 dolar AS per barel, mencatat pelemahan hari keempat berturut-turut.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 56 sen atau 0,7 persen ke 81,67 dolar AS per barel, yang merupakan pelemahan hari kelima.

Seorang sumber senior Iran pada Rabu menyebutkan bahwa Iran dan Oman tengah menyelesaikan rincian kesepakatan untuk mengelola Selat Hormuz. 

Hal ini menyusul pernyataan Garda Revolusi Iran terkait kesepakatan pembagian jalur air strategis tersebut.

Selat Hormuz yang berada di antara Iran, Qatar dan Uni Emirat Arab. [Google Maps]

Sebelum perang AS-Israel terhadap Iran meletus pada 28 Februari, Selat Hormuz dilewati oleh pengiriman minyak dan gas alam yang setara dengan sekitar seperlima dari total konsumsi global. 

Menurut data pelacakan kapal, upaya Iran untuk menutup jalur tersebut membuat aliran minyak anjlok hingga tersisa seperempat dari volume sebelum perang.

"Harga minyak mentah melemah karena prospek pembukaan kembali Selat Hormuz membaik di tengah perundingan yang berlangsung," kata Daniel Hynes, analis komoditas senior di ANZ. 

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kekhawatiran atas kekurangan pasokan di pasar masih membayangi.

Perdana Menteri Qatar dijadwalkan bertolak ke Iran pada Kamis untuk memulai kembali perundingan diplomatik guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan tersebut.

Di sisi lain, AS telah menghentikan serangannya terhadap Iran selama sekitar satu bulan dan beralih pada upaya tekanan ekonomi. Langkah ini meningkatkan ekspektasi investor akan meredanya gangguan pasokan di Teluk.

Namun, kesepakatan akhir masih menghadapi kendala. Tuntutan masing-masing negara untuk mengakhiri pertempuran masih jauh dari titik temu, dan Iran terus menargetkan kapal-kapal di Teluk untuk mempertahankan kendalinya. 

Pejabat Iran juga menegaskan bahwa selat tersebut tidak akan dibuka kecuali AS mematuhi kesepakatan gencatan senjata sementara yang sebelumnya dibuat pada bulan Juni.

Selain isu Selat Hormuz, Hynes juga menyoroti dampak perang Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina terhadap pasar diesel. Kerusakan pada sejumlah kilang di Timur Tengah dan Rusia telah memangkas ekspor dari wilayah-wilayah pemasok utama tersebut.

Ketatnya produksi diesel global ini tercermin pada data persediaan. Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Rabu melaporkan stok produk sulingan (termasuk diesel dan minyak pemanas) turun 2,2 juta barel pada pekan yang berakhir 21 Agustus menjadi 103,4 juta barel. 

Ilustrasi fasilitas minyak mentah. [Pexels]

Menurut Hynes, angka ini merupakan tingkat persediaan terendah yang pernah tercatat pada periode waktu ini.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com