- Potensi akuakultur Indonesia 100 juta ton, baru dimanfaatkan 18,4 persen.
- Kredit perikanan cuma 0,35 persen dari total kredit bank 2024.
- Ekspor perikanan masih US$6,27 miliar dan bergantung 5 komoditas.
Suara.com - Indonesia punya potensi ekonomi laut yang sangat besar, tetapi pemanfaatannya masih jauh dari maksimal. Di tengah pertumbuhan akuakultur global, sektor perikanan Indonesia justru masih terbentur pembiayaan, teknologi, produktivitas rendah, hingga persoalan tata kelola.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University Rokhmin Dahuri mengungkapkan, Indonesia memiliki potensi produksi akuakultur berkelanjutan mencapai 100,06 juta ton per tahun. Namun pada 2025, produksi yang terealisasi baru 18,41 juta ton atau sekitar 18,4 persen dari potensi tersebut.
Padahal, nilai ekonomi 11 sektor ekonomi biru Indonesia ditaksir lebih dari US$1.148 miliar. "Potensi budidaya pesisir dan laut saja mencapai sekitar US$210 miliar per tahun," kata dia dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).
Masalahnya, sektor ini masih kekurangan modal. Mengutip data Bank Dunia 2024, suku bunga pinjaman di Indonesia mencapai 8,8 persen, tertinggi kedua di ASEAN setelah Vietnam 9,3 persen. Sementara itu, dari total kredit bank komersial nasional Rp5.688 triliun, sektor perikanan hanya memperoleh Rp19,78 triliun atau 0,35 persen.
Kondisi tersebut menjadi ironi ketika Indonesia berambisi menjadi produsen akuakultur nomor satu dunia. Sekitar 75 persen usaha perikanan dan akuakultur nasional masih bersifat tradisional, dengan skala usaha kecil, teknologi terbatas dan rantai pasok yang belum terintegrasi.
Akibatnya, potensi besar tersebut belum otomatis berubah menjadi produktivitas dan nilai tambah. Sektor perikanan juga masih menghadapi kenaikan harga pakan, penyakit, keterbatasan pasar, polusi, illegal fishing, kerusakan ekosistem hingga persoalan perizinan dan iklim investasi.
Dari sisi perdagangan, nilai ekspor perikanan Indonesia pada 2025 baru mencapai US$6,27 miliar. Sebanyak 74 persen ekspor bahkan masih bergantung pada lima komoditas, yakni udang, tuna-cakalang, cumi-sotong-gurita, kepiting dan rumput laut. Pasarnya pun terkonsentrasi di Amerika Serikat dan China.
Padahal, tren global menunjukkan akuakultur semakin penting. Data FAO 2026 mencatat produksi perikanan dan akuakultur global mencapai 235 juta ton. Untuk pertama kalinya, akuakultur menyumbang 53 persen produksi hewan akuatik dunia dan 59 persen pangan hewan akuatik.
Rokhmin menilai Indonesia memiliki modal alam yang sangat besar untuk mengejar peluang tersebut. Namun, keunggulan ekologis harus diubah menjadi kemampuan kompetitif melalui hilirisasi, teknologi, ketertelusuran, jaminan kualitas dan bioteknologi.
Salah satu konsep yang ditawarkan adalah Tropical Ecological Marine Ranching (TEMR), yakni pengelolaan kawasan laut berbasis teluk yang menggabungkan konservasi, rehabilitasi ekosistem, penebaran benih, marikultur dan rantai dingin.
Model tersebut sebelumnya telah diuji melalui program Sea Farming di Kepulauan Seribu sejak 2005. Program itu mengubah pola mata pencaharian nelayan dan mengembangkan budidaya kerapu berbasis pengelolaan bersama masyarakat.