Kondisi Rupiah Terus Ambruk, Dolar AS Makin Naik ke Level Rp17.894

Selasa, 22 September 2026 | 09:35 WIB
Rupiah dan dolar Amerika Serikat. [Antara]
BACA 10 DETIK
  • Mata uang rupiah melemah ke level Rp17.895 per dolar AS di pasar keuangan pada Selasa, 22 September.
  • Pelemahan rupiah dipicu oleh penguatan dolar AS akibat ekspektasi suku bunga tinggi dan kekhawatiran kebijakan Bank Indonesia.
  • Dampak tekanan tersebut menjadikan rupiah sebagai mata uang yang mengalami pelemahan paling dalam di kawasan Asia.

Suara.com - Rupiah masih belum berbalik menguat pada pagi ini.  Adapun, mata uang Garuda  mengalami tekanan di pasar keuangan.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada Selasa 22 September dibuka ke level Rp17.895 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini melemah 48 poin atau turun 0,27 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang ada di Rp17.847 per dolar AS.  

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, pelemahan disebabkan oleh dolar AS yang mulai rebound. Sebab, peningkatan suku bunga AS akan bertahan lama.

"Rupiah diperkirakan masih tertekan terhadap dolar AS menyusul pernyataan hawkish pejabat The Fed, Goolsbee, yang kembali meningkatkan ekspektasi suku bunga AS akan bertahan lebih tinggi," katanya saat dihubungi Suara.com.

Dia melanjutkan, adanya kekhawatiran investor mengenai suku bunga yang segera diumumkan oleh Bank Indonesia pada esok hari. Hal ini memberikan sentimen negatif pada rupiah.

"Di sisi lain, keputusan RDG BI besok yang diperkirakan mempertahankan suku bunga juga dapat membatasi dukungan terhadap rupiah. Range rupiah ada di sekitar Rp17.800-Rp17.900," jelasnya.

Ilustrasi Yen. [Pixabay]

Sementara itu, rupiah menjadi mata uang paling lemah di Asia. Diikuti oleh yen Jepang berada satu level lebih baik dari rupiah setelah anjlok 0,1 persen.

Selanjutnya, ada yuan China yang terkoreksi 0,03 persen. Disusul, baht Thailand dan dolar Singapura yang sama-sama tergelincir 0,02 persen. Kemudian ada dolar Hong Kong yang melemah tipis 0,005 persen terhadap the greenback.

Sedangkan, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 1 persen. Lalu ada dolar Taiwan yang menanjak 0,18 persen. Berikutnya, peso Filipina terkerek 0,12 persen dan ringgit Malaysia menguat tipis 0,02 persen pada pagi ini.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com