BI Salahkan Kondisi Geopolitik Buat Rupiah Paling Loyo Hari Ini

Senin, 21 September 2026 | 20:23 WIB
Bank Indonesia, Jakarta. [Antara//M Risyal Hidayat/wsj]
BACA 10 DETIK
  • Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Erwin Gunawan Hutapea menyatakan tensi geopolitik Timur Tengah menyebabkan nilai tukar rupiah melemah hingga Rp17.847 per dolar AS.
  • Bank Indonesia merespons tekanan tersebut dengan melakukan intervensi konsisten di pasar domestik dan offshore melalui transaksi spot, NDF, DNDF, serta pembelian SBN.
  • BI mencatat posisi cadangan devisa Indonesia mencapai 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026 di tengah upaya stabilisasi pasar.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) menyalahkan kondisi geopolitik di Timur Tengah yang membuat nilai tukar rupiah. Bahkan, mata uang garuda paling melemah se-Asia

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada ditutup ke level Rp17.847 per dolar AS, melemah 88 poin atau turun 0,50 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang ada di Rp17.731 per dolar AS.  

"Pelemahan nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas 100 dolar AS per barel, sehingga meningkatkan risiko inflasi global dan tekanan pada outlook fiskal," ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea keterangannya, Senin (21/9/2026).

Menurut Erwin, Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap sesuai dengan fundamentalnya.

Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]

Upaya tersebut dilakukan melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dengan memperkuat strategi operasi moneter yang berorientasi pada mekanisme pasar atau pro-market. 

"Intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," ujar Erwin.

BI juga terus melakukan koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar. Langkah ini antara lain diarahkan untuk mendorong arus masuk modal asing dengan mengoptimalkan berbagai insentif yang telah diberikan.

Selain itu, Bank Indonesia mendorong diversifikasi kebutuhan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT).

Di tengah tekanan tersebut, BI mencatat pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan. Secara quarter-to-date (QTD), rupiah tercatat menguat sebesar 0,37 persen.

Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia juga mengalami peningkatan. Pada akhir Agustus 2026, cadangan devisa tercatat mencapai 146,5 miliar dolar AS.

Bank Indonesia menegaskan akan terus melakukan stabilisasi nilai tukar melalui berbagai instrumen di pasar domestik dan offshore, sekaligus menjaga kecukupan likuiditas serta kelancaran mekanisme pasar.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com