Kontak Tembak Pecah di Dekai Yahukimo, 7 Pucuk Senjata Api OPM Disita TNI

Sabtu, 07 November 2026 | 12:26 WIB
Senjata milik OPM yang berhasil disita Koop Habema TNI di kawasan Kali Senami, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua.
BACA 10 DETIK
  • Koops Habema TNI menyita tujuh senjata api milik OPM usai baku tembak di Yahukimo, Sabtu (7/11/2026).
  • Barang bukti yang diamankan meliputi dua senjata laras pendek, lima laras panjang, amunisi, serta perlengkapan lain.
  • Penyitaan tersebut bertujuan untuk mempersempit ruang gerak kelompok bersenjata dan menjaga keamanan masyarakat di Papua Pegunungan.

Suara.com - Personel Komando Operasi (Koops) Habema TNI menyita tujuh senjata api yang diduga milik anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) setelah terlibat baku tembak di kawasan Kali Senami, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Sabtu (7/11/2026).

Penyitaan itu bermula saat personel gabungan TNI melakukan patroli dan menemukan sebuah tempat yang diduga menjadi lokasi persinggahan anggota OPM. Ketika mendekati lokasi, prajurit berhadapan dengan kelompok tersebut hingga terjadi baku tembak.

Setelah kontak tembak, personel berhasil mendekati tempat itu dan menemukan tujuh pucuk senjata api beserta sejumlah perlengkapan lainnya.

Pangkoops TNI Habema Brigjen Riyanto mengatakan, senjata yang disita terdiri atas dua senjata laras pendek dan lima senjata laras panjang. Personel juga mengamankan sejumlah amunisi, alat bidik, teropong, serta perlengkapan lain.

"Tim gabungan menemukan tujuh pucuk senjata api, terdiri atas dua senjata laras pendek dan lima senjata laras panjang, serta sejumlah amunisi, alat bidik, teropong, dan perlengkapan lainnya. Jenis serta kondisi senjata masih dalam proses identifikasi," kata Riyanto dalam keteranggnya di Jakarta.

Seluruh senjata dan perlengkapan tersebut telah diamankan ke markas untuk pemeriksaan lebih lanjut.

TNI menyatakan penyitaan itu dilakukan untuk mempersempit ruang gerak kelompok bersenjata di wilayah Yahukimo.

"Setiap senjata yang berhasil diamankan berarti berkurangnya potensi ancaman terhadap keselamatan manusia. Prajurit harus tetap tegas, profesional, dan terukur dalam menjalankan tugas, dengan mengutamakan perlindungan masyarakat," ujar Riyanto.

Ia menegaskan, operasi tersebut bertujuan menjaga keamanan warga agar dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa ancaman.

"Tindakan ini dilakukan agar masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan aman menuju Papua yang damai berkelanjutan," pungkasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com