- Menteri Keuangan Suahasil Nazara berencana membenahi Bea Cukai untuk memperkuat pengawasan impor ilegal di Jakarta pada Selasa (22/9/2026).
- Upaya pembenahan tersebut mencakup peningkatan integritas sumber daya manusia, penguatan teknologi, serta efisiensi cara kerja petugas di lapangan.
- Hasil dari pembenahan ini diharapkan mampu melindungi masyarakat serta mendukung perekonomian nasional tanpa memperlambat arus masuk barang.
Suara.com - Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengakui ingin membenahi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) demi memperkuat pengawasan terhadap barang impor ilegal.
Menkeu Suahasil menyebut, elemen pertama yang untuk memperkuat pengawasan tersebut adalah sumber daya manusia (SDM). Ia menilai tidak mungkin membersihkan barang impor ilegal jika SDM justru tidak bersih.
"Nomor satu, yang paling penting adalah sumber daya manusia. Tidak mungkin membersihkan kalau yang membersihkan itu tidak bersih," katanya dalam konferensi pers Penindakan Impor Ilegal Beras, Garam, dan Balpres di Kantor Bea Cukai, Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Bendahara Negara meminta semua petugas Bea Cukai yang ada di lapangan bisa memastikan bekerja dengan tertib, disiplin, meningkatkan kompetensi, hingga memiliki integritas.
"Kita akan memastikan bahwa aturan yang ada bisa mendukung Anda melakukan hal tersebut. Jadi nomor satu, saya selalu percaya nomor satu adalah orangnya, orangnya mesti berintegritas," timpal dia.
Elemen kedua untuk memperkuat pengawasan impor ilegal adalah memperkuat teknologi yang dimiliki Bea Cukai. Jika petugas sudah memiliki integritas, hal itu menjadi sia-sia jika mereka tidak memanfaatkan teknologi.
Ia menilai teknologi diperlukan jika skala pekerjaan untuk pengawasan impor semakin besar. Suahasil meminta pegawai Bea Cukai untuk tak sekadar mengecek kontainer secara manual, tapi juga memperkuat teknologi seperti X-ray.
"Ini kombinasi antara SDM dengan teknologi dengan sistem. Seperti tadi kita dengarkan salah satu cara melakukan penyelundupan masuk ini adalah dengan mengganti nomor HS (Harmonized System Code), mengganti jenis barang. Dan itu merupakan alert dari teman-teman di lapangan karena ada teknologinya, alert: 'Wah ini diganti nih. Pemberitahuan impornya diubah.' Nah kalau diubah, itu alert, lalu lakukan pengecekan," bebernya.
Elemen ketiga yakni efisiensi cara kerja. Suahasil mendesak pengawasan yang diperlakukan petugas Bea Cukai justru tidak memperlambat arus barang yang masuk ke Indonesia.
Ia mengatakan, sebagian besar dari arus barang yang masuk adalah komoditas yang diperlukan untuk perekonomian Indonesia, baik untuk produksi maupun konsumsi masyarakat.
"Nah ketika memfasilitasi ini dilakukan dengan proses bisnis yang baik. Tidak boleh memperlama proses pengawasan, tetapi harus tetap aman. Karena itu kombinasi dari sumber daya manusia, teknologi, dan cara kerja yang terus kita perbaiki menjadi kunci dari pengawasan yang makin baik ke depannya. Tetap menumbuhkan ekonomi, tetapi juga tetap melindungi masyarakat kita," jelas Suahasil.