Harga Logam Mulia Diprediksi Fluktuatif, Simak Rentang Proyeksi Harga Emas

Senin, 28 September 2026 | 08:29 WIB
Ilustrasi - Petugas menata emas batangan di Setiabudi, Jakarta. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc)
BACA 10 DETIK
  • Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas berfluktuasi tinggi pada akhir September 2026.
  • Harga emas lokal diprediksi bergerak pada kisaran Rp2.520.000 hingga Rp2.720.000 per gram.
  • Harga emas dunia diperkirakan berada pada level support 3.948 dolar AS dan resistance 4.654 dolar AS per troy ons.

Suara.com - Akhir September 2026, pergerakan harga instrumen investasi safe haven atau logam mulia diperkirakan masih akan diselimuti oleh bayang-bayang volatilitas yang cukup tinggi. Dinamika harga di pasar komoditas ini terus menjadi sorotan utama bagi para pelaku pasar, investor institusional, maupun investor ritel yang menjadikan emas sebagai salah satu aset pelindung nilai andalan di tengah ketidakpastian iklim ekonomi.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memaparkan bahwa arah pergerakan harga logam mulia pada pekan ini memiliki probabilitas yang seimbang antara potensi mengalami fase koreksi penurunan maupun peluang untuk melanjutkan tren kenaikan.

Tarik-ulur arah pergerakan aset lindung nilai ini sangat bergantung pada tarik-menarik berbagai sentimen yang berasal dari dalam negeri (domestik) maupun gejolak indikator makroekonomi eksternal.

Dari sisi pasar domestik, fluktuasi harga logam mulia sangat sensitif terhadap perubahan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta proyeksi inflasi nasional. Sementara dari sisi eksternal, dinamika geopolitik global dan arah kebijakan moneter yang diambil oleh bank-bank sentral utama di dunia akan menjadi motor penggerak utama sentimen pasar.

Mengacu pada data penutupan perdagangan pada akhir pekan lalu, Ibrahim memberikan rincian kalkulasi teknikal terkait proyeksi pergerakan harga emas lokal.

“Untuk logam mulia sendiri, saya melihat bahwa di hari Sabtu pagi logam mulia ditutup di Rp2.653.000 per gram. Apabila terkoreksi, ada kemungkinan turun Rp10.000 menjadi Rp2.643.000 per gram,” kata Ibrahim dalam risetnya, Senin (28/9/2026).

Lebih lanjut, dalam analisis risetnya, Ibrahim memproyeksikan adanya skenario pelemahan lanjutan yang perlu diwaspadai oleh para pelaku pasar.

Jika tekanan jual terhadap pasar komoditas ini terus berlanjut secara masif dan konsisten selama satu pekan penuh, maka harga logam mulia berpotensi tergelincir lebih dalam dari posisi saat ini. Titik terendah yang mungkin disentuh akibat tekanan koreksi ini diproyeksikan bisa merosot hingga menyentuh level Rp2.520.000 per gram.

Sebaliknya, apabila sentimen pasar secara mendadak berbalik arah dan memberikan angin segar bagi instrumen safe haven—misalnya akibat meningkatnya permintaan atas aset aman—maka harga logam mulia memiliki ruang untuk kembali merangkak naik. Dalam skenario penguatan (bullish) tersebut, emas diperkirakan dapat mengalami kenaikan sekitar Rp10.000 dari titik penutupan, yang akan mendorong level harga jualnya menyentuh angka Rp2.673.000 per gram.

Mempertimbangkan kedua skenario kemungkinan tersebut, rentang pergerakan harga emas secara keseluruhan untuk satu pekan ke depan diperkirakan akan cukup lebar, yang sekaligus memberikan ruang bagi tingginya volatilitas jangka pendek di pasar fisik maupun digital.

“Jadi, untuk logam mulia dalam perdagangan pekan depan kemungkinan besar rangenya itu di Rp2.520.000 per gram sampai Rp2.720.000 per gram,” ujar Ibrahim.

Dengan demikian, batas bawah dan batas atas yang ditetapkan oleh sang pengamat mengindikasikan bahwa para pelaku pasar harus bersiap menghadapi fluktuasi harga dalam kisaran yang direntang antara Rp2,52 juta hingga titik resistensi tertingginya di level Rp2,72 juta per gram.

Beralih dari pasar domestik, sorotan juga diarahkan secara langsung pada pergerakan harga emas di bursa internasional. Harga emas dunia selalu menjadi barometer fundamental yang secara langsung mendikte pembentukan harga logam mulia di tingkat lokal. Ibrahim turut memetakan level penopang (support) dan level resistensi (resistance) yang akan menjadi titik-titik krusial bagi pergerakan harga emas global di pasar komoditas internasional pada pekan ini.

“Untuk harga emas dunia sendiri kemungkinan diperdagangkan di support-nya 3.948 dolar AS, resistance-nya adalah 4.654 dolar AS per troy ons,” tegasnya.

Pemetaan level support di angka 3.948 dolar AS per troy ounce ini mengindikasikan batas psikologis bawah yang kemungkinan besar akan menjadi area bertahannya harga dari tekanan aksi jual yang lebih dalam. Jika harga menyentuh atau mendekati level ini, para analis teknikal biasanya mengantisipasi adanya aksi beli balik (rebound) dari pelaku pasar.

Sementara itu, level resistance yang diproyeksikan berada di angka 4.654 dolar AS per troy ounce akan menjadi ujian berat bagi komoditas ini untuk melanjutkan reli penguatan.

Level resistensi tersebut mewakili area langit-langit di mana aksi ambil untung (profit taking) biasanya terjadi secara masif, yang berpotensi menahan laju eskalasi harga emas lebih lanjut di panggung perdagangan global.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com