Hilirisasi Nikel Mulai Mengubah Ekonomi Warga Kawasi

Senin, 28 September 2026 | 11:02 WIB
Delila Nomor, Koordinator UMKM Obi Jaya Mandiri (kiri), bersama anggota kelompok menyiapkan olahan makanan ringan di rumahnya di Desa Kawasi, Pulau Obi, pada Rabu, 2 Juli 2026, untuk memenuhi permintaan pasar lokal di sekitar kawasan industri. (Foto Hadi Ahdiana)
BACA 10 DETIK
  • Hilirisasi nikel membuka pasar baru bagi UMKM perempuan di Kawasi.
  • Akses air bersih menopang kesehatan warga dan aktivitas UMKM.
  • Warga perlu diperkuat agar tak sekadar menjadi penonton pertumbuhan industri.

Suara.com - Sebuah peradaban tak pernah lahir dalam satu malam. Kemajuan sejati tak diukur dari megahnya bangunan.

Di Pulau Obi gelombang hilirisasi nikel mengubah wajah geografi. Lebih dari itu ia mengalirkan denyut baru bagi kehidupan sosial dan ekonomi warga Desa Kawasi.

Dari sanalah lahir pertanyaan yang paling jujur dan paling puitis: mungkinkah kemajuan industri dan kemandirian masyarakat berjalan beriringan, saling menjaga, dan tumbuh bersama dengan bumi yang melestarikannya di masa depan?

Pagi itu rumah Delila Nomor di Desa Kawasi riuh. Ibu-ibu Kelompok UMKM Obi Jaya Mandiri cekatan mengolah bahan lokal di teras rumah. Pisang jadi keripik, pala jadi abon, jahe jadi air guraka, cabai jadi sambal.

Delila mengoordinir UMKM Obi Jaya Mandiri yang menaungi 31 perempuan di Desa Kawasi. Sejak 2019 kelompok ini ia rintis dan kini omzetnya mencapai ratusan juta rupiah per bulan.

"Kelompok ibu-ibu UKM ada 31 orang anggota. Dari awal berdiri tahun 2019 sampai sekarang, ibu-ibu buat snack kemudian dijual di lingkungan perusahaan, yaitu di Nyala Cafe dan HopMart," ujar Delila pada Kamis, 2 Juli 2026.

Geliat UMKM ini bagian dari program pemberdayaan ekonomi. Kehadiran industri nikel di Pulau Obi membuka peluang bagi perempuan Kawasi untuk masuk ke rantai pasok ekonomi tanpa meninggalkan peran di keluarga.

Agar mutu dan kuantitas pasokan terjaga, UMKM di Pulau Obi mendapat pendampingan intensif. Tim lapangan industri nikel setempat rutin memastikan kontinuitas dan standar mutu produk. Kunjungan dan dialog hangat dengan warga menjadi jembatan kemitraan.

"Pendampingan ini memberi kesempatan bagi ibu-ibu di sini untuk punya pendapatan tambahan dan tidak menganggur. Ibu-ibu senang karena usaha di Nyala Cafe dan HopMart berjalan lancar," tutur Delila.

Menjaga Air Baku di Tengah Industri

Kemandirian ekonomi membutuhkan lingkungan yang sehat. Bagi warga Desa Kawasi, kunci utamanya adalah air bersih.Mata Air Kawasi terletak dekat area operasional tambang. Sumber ini memasok air baku untuk kebutuhan domestik dan UMKM.

Warga mencuci bahan makanan dan sayuran serta mengonsumsi air jernih yang mengalir dari keran di tiap rumah.

Guna memastikan air baku aman dikonsumsi, pemantauan kualitas air dilakukan berkala, ketat, dan konsisten. Pengukuran parameter fisik dan kimia — seperti derajat keasaman, suhu, hingga kadar oksigen terlarut — berlangsung rutin di lokasi mata air.

"Kalau membersihkan bahan seperti cabai, kami pakai air bersih dari Kawasi sini. Mata airnya sudah bagus sekarang karena diperbaiki dan terjaga," ungkap Delila.

Akademisi Universitas Hasanuddin Eymal Bahsar Demmallino mengamati langsung perubahan kualitas hidup terkait akses air bersih ini.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com