Indonesia Geser China, Kini Jadi Produsen Nikel Olahan Terbesar Dunia

Senin, 28 September 2026 | 16:23 WIB
Ilustrasi Indonesia kini menjadi produsen nikel olahan terbesar di dunia. Foto Antara.
BACA 10 DETIK
  • Indonesia kuasai 41% produksi nikel olahan dunia.
  • Investasi hilirisasi tembus Rp300,1 triliun pada semester I 2026.
  • Tantangan berikutnya: kuasai teknologi dan nilai tambah nikel.

Suara.com - Indonesia kini menjadi produsen nikel olahan terbesar di dunia. Namun, status sebagai "raja nikel" belum otomatis membuat Indonesia menjadi negara yang paling menikmati nilai ekonomi dari komoditas tersebut.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai kebijakan hilirisasi yang konsisten telah mengubah posisi Indonesia dalam industri nikel global.

Menurut Yusuf, larangan ekspor bijih nikel berhasil mendorong masuknya investasi smelter sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri. Indonesia pun bertransformasi dari sekadar pengekspor bijih menjadi salah satu pusat produksi nikel olahan dunia.

Pangsa produksi nikel olahan Indonesia bahkan melonjak dari sekitar 1% menjadi 41% dari total produksi dunia dalam satu dekade terakhir, hingga mampu menggeser China sebagai produsen terbesar.

Besarnya pangsa tersebut memberikan Indonesia modal tawar yang semakin kuat di pasar global. Namun, Yusuf mengingatkan kekuatan itu harus dikelola dengan hati-hati, terutama melalui pengaturan produksi.

Menurut dia, kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) menjadi penting untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan nikel.

"Pengurangan volume dapat meningkatkan penerimaan negara jika mampu mengangkat harga, tetapi kuota tidak boleh terlalu ketat hingga smelter kekurangan bahan baku," kata Yusuf saat dihubungi, Senin (28/9/2026).

Ia menilai pengendalian produksi dapat membantu menjaga harga sekaligus mengoptimalkan penerimaan negara. Di sisi lain, pemerintah tetap harus memastikan kebutuhan bahan baku industri pengolahan di dalam negeri terpenuhi agar smelter dapat beroperasi optimal.

Yusuf mengatakan manfaat hilirisasi mulai terlihat dari peningkatan investasi, ekspor, penerimaan negara hingga penciptaan lapangan kerja di kawasan industri.

Namun, menurut dia, dominasi Indonesia dalam produksi nikel baru akan menjadi kekuatan ekonomi yang lebih besar apabila dibarengi dengan penguasaan teknologi, perluasan pasar, stabilitas harga, serta kemampuan mempertahankan lebih banyak nilai tambah di dalam negeri.

"Pangsa 41% merupakan modal tawar yang besar, tetapi baru menjadi kekuatan ekonomi jika Indonesia menguasai teknologi, memperluas pembeli, menjaga harga, dan mempertahankan lebih banyak nilai tambah di dalam negeri," ujarnya.

Analis senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution Ronny P. Sasmita melihat hilirisasi telah menghasilkan perubahan struktural dalam industri nikel nasional.

Mengacu pada data Our World in Data berbasis British Geological Survey, produksi nikel olahan Indonesia melonjak lebih dari 60 kali lipat, dari sekitar 22 ribu ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada 2023.

"Jadi, kalau parameternya adalah kemampuan mengubah bijih menjadi produk olahan di dalam negeri, hilirisasi jelas menghasilkan transformasi struktural," ujar Ronny.

Dampak investasinya juga semakin besar. Pada semester I 2026, investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7% dari total investasi nasional. Sementara sepanjang 2025, investasi hilirisasi tercatat Rp584,1 triliun.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com