Jaga Cadangan Devisa, BI Kurang Intervensi di Pasar Spot

Senin, 28 September 2026 | 18:18 WIB
Bank Indonesia mengurangi intervensi spot menjadi 30 persen demi menghemat cadangan devisa. [Suara.com/Dicky Prastya]
BACA 10 DETIK
  • Bank Indonesia mengurangi intervensi spot menjadi 30 persen demi menghemat cadangan devisa.
  • Bank Indonesia meningkatkan penggunaan instrumen derivatif DNDF dan NDF yang terbukti lebih efektif menjaga stabilitas rupiah.
  • Bank Indonesia bersama pemerintah memperkuat sektor eksternal dan memberikan insentif hedging cost untuk menarik investasi portofolio.

Suara.com - Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan bank sentral mengurangi intervensi melalui transaksi spot dengan porsinya kini sekitar 30 persen dari total intervensi yang dilakukan. Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga cadangan devisa.

Destry menjelaskan intervensi spot  lebih mahal dan menguras cadangan devisa dan karenanya BI kini lebih fokus memperluas penggunaan instrumen lain seperti Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF).

“Kita intervensi pun sekarang kita sudah sangat mengurangi intervensi yang mahal. Intervensi yang mahal itu adalah melalui spot. Melalui spot sekarang jumlahnya sudah tinggal sekitar 30 persen dari total intervensi yang kami lakukan,” ujar Destry dalam rapat kerja (raker) bersama Komisi XI DPR RI, di Jakarta, Senin (28/9/2026).

Dalam transaksi spot, BI melakukan transaksi valuta asing (valas) secara langsung di pasar untuk meredam tekanan terhadap rupiah.

Berbeda dengan spot, DNDF dan NDF merupakan instrumen derivatif valas yang penyelesaiannya tidak dilakukan lewat penyerahan dolar AS secara langsung.

Karena itu, penggunaan instrumen tersebut memungkinkan BI melakukan stabilisasi nilai tukar tanpa mengandalkan transaksi dolar Amerika Serikat (AS) secara langsung sebesar intervensi spot.

Destry menjelaskan penggunaan DNDF dan NDF yang semakin dikembangkan ternyata bisa memberikan efektivitas yang lebih baik dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"Jadi kalau dulu dominannya spot karena kita langsung jual dolar dan itu langsung menggerus (cadev) kita. Tapi dengan kita mulai mengembangkan pertama di DNDF dulu, kemudian NDF, nah ini ternyata bisa lebih efektif," ujarnya lagi.

Meski demikian, Destry menegaskan tekanan terhadap rupiah masih ada, karena terdapat sejumlah persoalan struktural dari sisi eksternal.

Untuk itu, BI bersama pemerintah melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus membahas upaya memperkuat sektor eksternal, termasuk melalui peningkatan ekspor dan investasi.

Destry menuturkan upaya menarik investasi tak hanya diarahkan pada investasi portofolio, tetapi juga investasi langsung.

Sementara itu, BI memberikan insentif berupa hedging cost untuk mendorong masuknya investasi portofolio ke dalam negeri. Insentif itu kini juga dapat digunakan untuk pinjaman luar negeri yang mendukung kegiatan kredit maupun investasi.

"Kalau untuk portfolio investment itu kami sudah melakukan dengan apa yang kami berikan hedging cost tersebut. Bahkan sekarang underlying-nya pun kalau dia digunakan untuk melakukan investasi, bukan hanya di portfolio tapi juga dalam bentuk pinjaman luar negeri yang bisa digunakan untuk mereka untuk kredit ataupun untuk investasi itu juga kita berikan hedging cost," ujarnya pula.

Kebijakan tersebut masih bersifat sementara dan penerapannya akan terus dievaluasi berdasarkan perkembangan data serta kebutuhan stabilisasi nilai tukar.

"Tapi memang ini kebijakan yang temporary. Kita akan data dependent, lihat seberapa besar ini masih diperlukan dan dampaknya juga keseluruhan," katanya lagi.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com