- Industri besi dan baja nasional memproyeksikan nilai ekspor mendekati US$28 miliar pada tahun 2025 dengan tujuan utama Tiongkok, Taiwan, India, Vietnam, dan Italia.
- Pemerintah bersama pelaku industri menghadapi tantangan global seperti kebijakan karbon Uni Eropa dan produk impor murah melalui strategi hilirisasi serta efisiensi produksi.
- PT Auri Steel Metalindo di Jawa Tengah merealisasikan ekspor perdana 60.000 batang baja ringan ke Australia senilai Rp132 miliar pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Suara.com - Kinerja ekspor industri besi dan baja nasional pada periode 2025 hingga 2026 diproyeksikan mencatatkan tren pertumbuhan dengan perkiraan nilai mendekati US$28 miliar pada tahun 2025. Pasar utama tujuan ekspor masih didominasi oleh Tiongkok, Taiwan, India, Vietnam, dan Italia.
Dari sisi harga komoditas, penawaran harga Hot-Rolled Coil (HRC) dari produsen Indonesia menguat di kisaran US$525 hingga US$534 per ton Cost, Insurance, and Freight (CFR) Vietnam pada paruh kedua tahun 2026.
Meskipun nilai perdagangan tercatat relatif tinggi, sektor ini masih dihadapkan pada sejumlah tantangan eksternal dan internal. Kebijakan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) yang diterapkan Uni Eropa menjadi hambatan tarif terkait sertifikasi emisi karbon untuk produk baja konvensional.
Selain itu, industri dalam negeri masih mengalami tekanan dari masuknya produk impor berbiaya rendah, ketergantungan bahan baku impor, serta pelemahan permintaan di beberapa kawasan akibat ketegangan geopolitik global.
Untuk meredam dampak hambatan global, pemerintah dan pelaku industri memfokuskan strategi pada hilirisasi, perluasan pasar non-tradisional, serta efisiensi biaya produksi melalui skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT).
Langkah ini diarahkan untuk menggeser struktur ekspor dari bahan mentah atau setengah jadi menuju produk baja jadi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Implementasi strategi hilirisasi tersebut salah satunya ditunjukkan oleh pelaku usaha Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Kawasan Industri Kendal (KIK), Jawa Tengah. PT Auri Steel Metalindo mencatatkan ekspor perdana produk jadi baja ringan ke pasar Australia pada Jumat (2/10/2026).
Pengiriman tahap awal tersebut mencakup 60.000 batang baja ringan, dengan potensi volume ekspor tahunan diperkirakan mencapai 6.000 ton atau setara dengan nilai Rp132 miliar.
Perkembangan Kapasitas dan Penguatan Modal Dalam Negeri
Perusahaan yang berdiri sejak 28 September 2016 ini memulai operasional produksi baja ringan dan atap galvalum dengan kapasitas awal sekitar 5 ton per hari, sebelum meningkat menjadi 120 ton per hari pada akhir 2022. Seiring peningkatan kapasitas produksi, nilai investasi perusahaan tercatat tumbuh dari skala Rp180 miliar menjadi Rp1 triliun.
Peningkatan skala usaha tersebut diikuti oleh perluasan penyerapan tenaga kerja lokal, yang berkembang dari 7 karyawan pada 2016 menjadi 100 orang pada 2022, dan kini mencapai 480 orang. Perusahaan menargetkan penyerapan tenaga kerja dapat mencapai 1.500 orang pada 2028.
Perkembangan usaha PMDN di KEK Kendal ini tidak lepas dari fasilitasi kementerian dan lembaga teknis, termasuk Kementerian Perindustrian, Kementerian Investasi/BKPM, Administrator KEK, serta Direktorat Jenderal Bea Cukai dan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan.
Direktur PT Auri Steel Metalindo, Auripallas Pramana, menyatakan bahwa keberhasilan menembus pasar luar negeri menjadi indikator bahwa industri manufaktur dalam negeri mampu memenuhi kualifikasi teknis pasar internasional.
“Seluruh tim Auri Steel tentu bangga karena hari ini produk yang kami produksi di Kendal bisa sampai ke Australia. Ini menjadi pencapaian penting bagi PT Auri Steel Metalindo dan sekaligus membuktikan bahwa perusahaan PMDN di Indonesia dapat tumbuh dan membawa produk dalam negeri ke pasar internasional. Kami berharap capaian ini dapat menjadi motivasi bagi perusahaan PMDN lainnya untuk terus berkembang dan berani membawa produknya ke kancah global,” ungkap Auripallas Pramana.
Executive Director Kawasan Industri Kendal, Juliani Kusumaningrum, menilai pengiriman produk baja jadi ini memberikan sinyal positif bagi perubahan struktur ekspor manufaktur nasional yang selama ini didominasi bahan baku primer.
“Pencapaian hari ini merupakan buah dari kerja keras, komitmen terhadap kualitas, dan visi strategis Auri Steel. Terlebih lagi, PT Auri Steel Metalindo menjadi perusahaan PMDN pertama yang berhasil mengekspor produk jadi baja ke luar negeri. Selama ini, ekspor sektor baja Indonesia banyak didominasi bahan mentah atau setengah jadi. Langkah ini menunjukkan bahwa industri manufaktur dalam negeri memiliki daya saing global, standar mutu internasional, dan kapasitas untuk menembus pasar seperti Australia,” ujar Juliani.
Merespon perkembangan tersebut, Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mengawal kebijakan hilirisasi, penguatan ekosistem industri logam, serta perluasan akses pasar guna meningkatkan penerimaan devisa dan dampak berganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional.