IHSG Rawan Koreksi, Duo Sekuritas Raksasa Bocorkan 9 Saham Pilihan Hari Ini

Kamis, 15 Oktober 2026 | 08:27 WIB
Ilustrasi pergerakan saham hari ini di IHSG BEI [Antara]
BACA 10 DETIK
  • Pada perdagangan Kamis (15/10/2026), IHSG diproyeksikan melemah akibat aksi jual asing sebesar Rp1,13 triliun.
  • Wall Street dan bursa saham Asia mengalami tekanan signifikan akibat rilis data inflasi Amerika Serikat.
  • Data inflasi AS yang meleset dari ekspektasi memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pergerakan teknikal yang rentan pada awal perdagangan Kamis (15/10/2026). Setelah berhasil mencatatkan technical rebound pada perdagangan sehari sebelumnya dengan ditutup naik 22,85 poin (0,39%) ke level 5.948,83, indeks domestik kembali dihantui oleh potensi koreksi.

Analis BNI Sekuritas mencatat bahwa kegagalan IHSG menembus (breakout) level psikologis 6.000 menjadi indikator teknikal yang memicu proyeksi tren pelemahan (bearish) pada hari ini. IHSG diperkirakan akan bergerak pada rentang dukungan (support) di level 5.830-5.900 dan rentang resistansi (resistance) di 5.970-6.000.

Meskipun IHSG berhasil mendarat di zona hijau pada Rabu (14/10), fundamental pasar belum sepenuhnya stabil. Volume perdagangan mencapai 313,03 juta lot dengan perputaran nilai transaksi sebesar Rp11,26 triliun.

Namun, statistik perdagangan menunjukkan sentimen yang cukup menekan, di mana sebanyak 321 saham bergerak melemah, berbanding dengan 280 saham yang menguat, dan 194 saham lainnya stagnan.

Tekanan paling terasa datang dari aktivitas arus modal asing yang mencatatkan aksi jual bersih (net sell) berskala jumbo, yakni menembus angka Rp1,13 triliun secara keseluruhan di pasar.

Rincian distribusi pelarian modal ini tercatat sebesar Rp104,01 miliar di pasar reguler dan meroket hingga Rp1,03 triliun di pasar negosiasi dan tunai. Jajaran saham blue chip yang mendominasi aksi obral oleh investor asing meliputi nama-nama besar seperti BBRI, BMRI, ADMR, ITMG, dan PTBA.

Rekomendasi Saham Pilihan dari BNI dan BRI Danareksa Sekuritas

Di tengah proyeksi pasar yang cenderung volatil, BNI Sekuritas menyarankan investor untuk mencermati trading idea pada saham TLKM, AKRA, RAJA, ULTJ, CMRY, dan INTP. Sementara itu, kajian teknikal dan fundamental dari BRI Danareksa Sekuritas merilis rekomendasi beli untuk tiga emiten spesifik:

TAPG (PT Triputra Agro Persada Tbk): Harga saham di level 2.080 mulai menembus neckline 2.040, membentuk potensi pola Inverse Head and Shoulders. Indikator MACD menunjukkan bullish crossover dengan histogram positif. Jika breakout terkonfirmasi, target harga berpeluang menuju rentang 2.141-2.200. Sentimen positif ini turut didukung oleh aksi pembelian 50.000 lembar saham di harga Rp1.900 oleh Presiden Direktur George Oetomo pada awal Oktober lalu.

BSDE (PT Bumi Serpong Damai Tbk): Saham properti ini mulai mengalami pantulan teknikal (rebound) dari area support 525-540. Dengan MACD yang mengindikasikan peluang bullish crossover, penembusan area MA20 di 560 akan membuka jalan menuju level 575-589. Secara fundamental, pencapaian prapenjualan (marketing sales) perseroan mencapai Rp5,12 triliun pada semester pertama, mengamankan 51% dari target tahunan dengan BSD City sebagai tulang punggung kontribusi utama (66%).

MEDC (PT Medco Energi Internasional Tbk): Melonjak 6,55% ke level 1.545 dan mantap bertengger di atas MA20 (1.453) setelah fase V-shape recovery. Tren kelanjutan bullish memproyeksikan target pergerakan ke rentang 1.575-1.643 dengan area support mayor di wilayah Fibonacci 1.300-1.400. Posisi perseroan makin kokoh pasca pengumuman akuisisi 10% hak partisipasi lapangan gas raksasa Jangkrik dan Geliga dari perusahaan energi Italia, Eni.

Bursa Global Berdarah: Wall Street dan Asia Tertekan Rilis Data Inflasi AS

Dari kancah internasional, sentimen makroekonomi tidak kalah muram. Bursa saham Wall Street babak belur pada akhir perdagangan Rabu usai rilis data inflasi Amerika Serikat yang meleset dari ekspektasi.

Menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) Departemen Tenaga Kerja AS, Indeks Harga Konsumen pada bulan September melesat lebih cepat akibat lonjakan harga bahan bakar minyak dan perluasan inflasi inti di luar sektor energi.

Data yang meresahkan ini seketika menyulut kekhawatiran pelaku pasar bahwa bank sentral The Fed akan dipaksa untuk mempertahankan rezim kenaikan suku bunga lebih lama.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com