Toko Kelontong Hadapi Persaingan Ritel Modern, Adaptasi Jadi Kunci Bertahan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 09:44 WIB
Ilustrasi Toko Kelontong.
BACA 10 DETIK
  • Pemilik toko perlu memperbaiki pengelolaan usaha, menata produk, serta memahami kebutuhan dan perilaku pelanggan di tengah perubahan pola belanja masyarakat.
  • Berbagi pengalaman dan pengetahuan antarpemilik toko menjadi sarana belajar bersama untuk mengembangkan usaha dan menghadapi tantangan bisnis.
  • SRC tercatat hadir di 38 provinsi dengan lebih dari 250.000 Toko SRC terdaftar dan lebih dari 10.000 Paguyuban SRC.1

Suara.com - Toko kelontong menghadapi tantangan untuk mempertahankan usaha di tengah perubahan pola belanja masyarakat dan perkembangan industri ritel. Agar tetap bertahan, pemilik toko perlu beradaptasi, mulai dari memperbaiki pengelolaan usaha hingga memahami kebutuhan pelanggan.

Direktur PT SRC Indonesia Sembilan (SRCIS), Romulus Sutanto, mengatakan pertumbuhan UMKM tidak hanya bergantung pada kemampuan masing-masing pemilik usaha, tetapi juga pada kesempatan untuk belajar dan berkembang bersama.

"Penguatan UMKM tidak hanya bergantung pada kemampuan masing-masing pemilik usaha, tetapi juga pada kesempatan untuk belajar dan berkembang bersama. Ketika pengalaman dan pengetahuan dibagikan di dalam komunitas, manfaat pendampingan dapat menjangkau lebih luas dan membuka peluang bagi mereka untuk tumbuh bersama, ujar Romulus seperti dikutip, Rabu (21/10/2026).

Menurut Romulus, penguatan komunitas menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas usaha dan daya saing UMKM. Saat ini, SRC hadir di 38 provinsi dengan lebih dari 250.000 Toko SRC terdaftar dan lebih dari 10.000 Paguyuban SRC di berbagai wilayah Indonesia.

SRC Ungkap Strategi Kembakang UMKM.

Ia mengatakan pengembangan ekosistem tersebut akan terus diarahkan untuk meningkatkan kapasitas usaha sekaligus menciptakan nilai tambah bagi para pelaku UMKM.

“Ke depan, kami akan terus memperkuat ekosistem UMKM berbasis komunitas ini. Fokus kami bukan hanya pada peningkatan kapasitas usaha, tetapi juga bagaimana menciptakan nilai tambah agar daya saing UMKM terus meningkat dan memberikan dampak yang lebih luas, baik bagi perekonomian daerah maupun nasional,” imbuhnya.

Sementara, Sukmawati, pemilik Toko SRC ACDC di Tegalrejo, Yogyakarta. Ia mengembangkan usaha kelontongnya dengan terus belajar mengelola toko, menata produk, serta menyesuaikan layanan dengan kebutuhan konsumen.

"Dulu saya mengira toko kelontong ya hanya berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ternyata, kalau kita mau belajar dan terus berkembang, toko juga punya banyak peluang. Saya sendiri merasakan bagaimana pendampingan dan kebersamaan dengan sesama pemilik toko membantu saya mengembangkan usaha," katanya.

Sukmawati bergabung dengan Sampoerna Retail Community (SRC) sejak 2011. Melalui komunitas tersebut, ia memperoleh pengetahuan dan pendampingan untuk mengelola toko serta beradaptasi dengan perkembangan usaha.

"Bersama SRC, saya banyak mendapatkan arahan dan pembinaan untuk mengembangkan toko. Saya belajar bagaimana menata usaha dengan lebih baik, memahami kebutuhan pelanggan, dan terus melakukan perubahan supaya toko bisa berkembang," bebernya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan toko menjadi salah satu aspek yang diperhatikan pemilik usaha kelontong dalam menghadapi perubahan pasar.

Selain menyediakan kebutuhan sehari-hari, pemilik toko perlu memahami perilaku pelanggan agar dapat menyesuaikan produk dan pelayanan.

Di tengah tantangan tersebut, pertukaran pengalaman antarpemilik usaha juga menjadi salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan baru. Sukmawati, misalnya, aktif dalam paguyuban SRC dan berbagi pengalaman dengan pemilik toko lain.

"Selama bersama-sama, saya melihat banyak perubahan dan banyak kebaikan yang kami rasakan. Kami bukan hanya belajar bagaimana mengembangkan toko, tetapi juga belajar untuk saling membantu dan saling menguatkan. Buat saya, paguyuban ini sudah seperti keluarga," kata Sukma.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com