Strategi Perum Jasa Tirta II Jaga Pasokan Air ke Sawah saat Kemarau

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:54 WIB
Bendungan Jatiluhur. Sumber: Dok Kementerian PUPR
BACA 10 DETIK
  • Perum Jasa Tirta II bersama instansi terkait melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca di Jawa Barat pada tahun 2026.
  • Operasi tersebut berhasil menambah cadangan air sebesar 60,1 juta meter kubik pada sistem tiga bendungan Waduk Kaskade Citarum.
  • Perusahaan menerapkan skema Gilir Giring untuk mendistribusikan tambahan air secara merata hingga ke irigasi pertanian.

Suara.com - Perum Jasa Tirta II (PJT II) bersama pengelola Waduk Kaskade Citarum berhasil mengamankan tambahan cadangan air hingga 60,1 juta meter kubik selama musim kemarau 2026 di Jawa Barat melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Upaya ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan air bagi masyarakat, kebutuhan air baku, serta pasokan irigasi pertanian di tengah ancaman berkurangnya ketersediaan air selama musim kemarau.

Dalam pelaksanaannya, PJT II berkolaborasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, serta pengelola Waduk Saguling dan Cirata. Tambahan pasokan air tersebut diamankan di tiga bendungan utama dalam sistem Waduk Kaskade Citarum, yakni Saguling, Cirata, dan Jatiluhur.

Direktur Utama Perum Jasa Tirta II, Imam Santoso, menegaskan pentingnya langkah proaktif untuk menjaga pasokan air sejak dari wilayah hulu.

Ilustrasi sawah. [ist].

"Kondisi kemarau menuntut aksi nyata di hulu. Kami bertindak cepat mengamankan pasokan air sejak dari awan sebelum kekeringan meluas," ujarnya seperti dikutip, Minggu (25/10/2026).

Imam menjelaskan, pelaksanaan OMC dilakukan dalam dua tahapan. Tahap pertama berlangsung pada 30 Juli hingga 5 Agustus 2026. Sementara tahap kedua dilaksanakan pada 18 hingga 26 September 2026 serta 29 September hingga 5 Oktober 2026.

Melalui operasi tersebut, tim gabungan melakukan penyemaian awan menggunakan garam halus pada awan yang berpotensi menghasilkan hujan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.

Berdasarkan data yang disampaikan perusahaan, tambahan pasokan air di Bendungan Saguling mencapai 19,6 juta meter kubik dari tahap pertama dan kedua. Bendungan Cirata memperoleh tambahan pasokan sebanyak 28,1 juta meter kubik.

Sementara itu, Bendungan Jatiluhur berhasil mengamankan tambahan pasokan air sebesar 12,6 juta meter kubik. Dengan demikian, total tambahan cadangan air di sistem Waduk Kaskade Citarum mencapai 60,1 juta meter kubik.

Ketersediaan air dari ketiga bendungan tersebut menjadi penopang bagi kebutuhan masyarakat, pasokan air baku, serta irigasi pertanian di wilayah Jawa Barat.

Distribusi Air Jadi Tantangan Berikutnya

Meski tambahan cadangan air berhasil diamankan, PJT II menegaskan bahwa upaya menjaga ketahanan air tidak berhenti pada peningkatan volume air di waduk. Perusahaan juga perlu memastikan air dapat disalurkan secara merata hingga ke pengguna akhir, termasuk petani yang berada di ujung jaringan irigasi.

Untuk itu, PJT II menerapkan skema Gilir Giring dalam pengelolaan distribusi air di tingkat hilir. Skema ini menggabungkan pengaturan alokasi air secara bergiliran pada bangunan dan pintu air utama serta pengawasan langsung oleh petugas di sepanjang jaringan irigasi.

Imam Santoso menekankan bahwa tambahan pasokan air harus diikuti pengawasan distribusi agar pemanfaatannya berjalan efektif.

"Penambahan pasokan air di Kaskade Citarum merupakan hasil konkret dari aksi kolaborasi mitigasi hulu melalui OMC. Namun ini bukan sebatas memancing hujan atau menambah pasokan, melainkan perihal menjaga ketahanan air bagi keberlangsungan hidup masyarakat. Tugas kami selanjutnya adalah memastikan tabungan air di waduk ini terdistribusi secara adil, efisien, dan sampai ke petak sawah paling ujung," tambahnya.

Dalam pelaksanaan skema Gilir Giring, tim teknis PJT II melakukan pemantauan selama 24 jam untuk mengevaluasi kesesuaian debit dan elevasi air dengan jadwal alokasi. Petugas juga membersihkan saluran dari sedimen lumpur dan sampah serta mengawasi pintu air untuk mencegah pengambilan air di luar jadwal.

PJT II menyatakan kombinasi penambahan pasokan air di hulu melalui OMC dan pengawasan distribusi di hilir menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman kekeringan. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga ketersediaan air dan mendukung keberlanjutan irigasi pertanian di Jawa Barat.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com