Wong Cilik Mulai Rasakan Dampak Lemahnya Rupiah: Harga Sembako Naik, Dana Sekolah Ikut Terpakai

Selasa, 27 Oktober 2026 | 16:41 WIB
Pelemahan rupiah hingga menembus Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai membayangi daya beli masyarakat wong cilik. Foto Fika Nur Rizki-Suara.com
BACA 10 DETIK
  • Rupiah menembus Rp18.100, menambah tekanan biaya impor dan harga kebutuhan pokok.
  • Pedagang mengeluhkan kenaikan harga kulakan dan penurunan omzet hingga 20%.
  • Dana transportasi, pendidikan anak, dan tabungan mulai tersedot untuk belanja harian.

Sebagai gantinya, ia mulai membeli barang secukupnya, membandingkan harga antarpedagang, serta memilih produk yang lebih murah selama kualitasnya masih baik.

Jika harga kembali naik, Ami akan terlebih dahulu memangkas pengeluaran tambahan. Namun, penyesuaian itu tidak berhenti pada perubahan pilihan barang belanja.

Ia mengaku dana yang semestinya digunakan untuk transportasi, pendidikan anak, atau tabungan kini ikut terpakai untuk memenuhi kebutuhan harian.

Kondisi tersebut memperlihatkan tekanan daya beli bukan hanya soal berapa mahal harga barang di pasar, tetapi juga bagaimana rumah tangga mengalihkan anggaran dari kebutuhan lain untuk mempertahankan konsumsi pokok.

Ketika sebagian anggaran pendidikan, mobilitas, dan simpanan harus digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari, ruang keuangan keluarga menjadi semakin terbatas. Jika berlangsung terus-menerus, rumah tangga akan memiliki lebih sedikit dana untuk menghadapi pengeluaran tak terduga.

Pelemahan rupiah hingga menembus Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai membayangi daya beli masyarakat wong cilik. Foto Fika Nur Rizki-Suara.com

Meski pelemahan rupiah meningkatkan biaya barang impor dalam nilai rupiah, dampaknya terhadap harga pangan domestik tidak selalu berlangsung secara langsung atau dengan persentase yang sama.

Gandum, salah satu bahan baku tepung terigu, seluruhnya bergantung pada impor. Data Bank Dunia menunjukkan harga gandum Hard Red Winter AS meningkat sekitar 27,4%, dari rata-rata US$243,3 per ton pada 2025 menjadi sekitar US$310 per ton pada Juli 2026.

Namun, harga tepung di dalam negeri juga dipengaruhi kontrak pembelian, persediaan distributor, biaya pengiriman, serta strategi harga produsen. Karena itu, perubahan harga komoditas dunia dan kurs tidak otomatis diteruskan seluruhnya kepada konsumen.

Di tingkat kebijakan, analis Doo Financial Lukman Leong memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp18.100-Rp18.200 per dolar AS. Arus keluar dana asing dari pasar saham dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah menjadi sejumlah faktor yang membebani mata uang domestik.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan bank sentral terus memantau perkembangan pasar dan tidak mengubah strategi intervensinya.

Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 21 Oktober, BI menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate menjadi 5,75%. Suku bunga deposit facility juga dinaikkan dari 4,75% menjadi 5,00%.

Reporter: Fika Nur Rizki

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com