Brent Tertahan di 113 Dolar AS, Konflik Timur Tengah Bayangi Pasar Minyak

Rabu, 28 Oktober 2026 | 09:14 WIB
Ilustrasi harga minyak dunia. [Unsplash]
BACA 10 DETIK
  • Harga minyak dunia turun hampir 2 dolar AS per barel pada penutupan perdagangan 28 Oktober 2026.
  • Pejabat Iran menggelar diplomasi regional di Teheran untuk membahas syarat perdamaian dan keamanan kawasan Timur Tengah.
  • Serangan Houthi ke kilang Arab Saudi dan gangguan pelayaran membuat harga minyak bertahan di level tinggi.

Suara.com - Harga minyak mentah dunia melandai hampir 2 dolar AS per barel pada penutupan perdagangan Selasa (28/10/2026) waktu setempat.

Meskipun demikian, tingkat harga masih bertahan dekat dengan posisi tertinggi dalam enam bulan terakhir akibat belum pastinya kesepakatan damai dalam konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran, serta berlanjutnya gangguan navigasi di kawasan Timur Tengah.

Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah acuan Brent merosot 1,93 dolar AS atau 1,67 persen ke level 113,88 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terkoreksi 1,86 dolar AS atau 1,83 persen menjadi 99,90 dolar AS per barel.

Penurunan harga minyak dipengaruhi oleh sentimen diplomasi regional di Timur Tengah. Kepala Dewan Keamanan Iran, Mohsen Rezaei, menggelar pertemuan dengan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei di Teheran, sehari setelah berdiskusi dengan perwakilan dari Arab Saudi, Turki, dan Pakistan.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Ayatollah Khamenei menekankan pentingnya menjaga kepentingan nasional serta mempertahankan syarat-syarat yang diajukan Iran untuk mengakhiri peperangan.

Keempat negara tersebut sepakat melanjutkan dialog guna memperkuat kerja sama keamanan dan perdamaian di kawasan.

Ayatollah Khamenei. (Khamenei.ir)

Meski jalur diplomasi mulai terbuka, ketidakpastian prospek perdamaian tetap tinggi seiring meningkatnya serangan kelompok Houthi dari Yaman ke infrastruktur energi Arab Saudi.

Houthi mengklaim telah meluncurkan rudal balistik ke kilang minyak Ras Tanura milik Saudi Aramco yang merupakan kilang terbesar di negara tersebut.

Analis dari Gelber & Associates menilai bahwa rentetan serangan terhadap Arab Saudi dan meluasnya kehadiran militer di kawasan Teluk tetap memicu risiko gangguan pasokan, sekalipun dorongan diplomasi sempat mengikis premi risiko pada harga minyak.

Data Washington Institute for Near East Policy mencatat bahwa Oktober menjadi bulan dengan tingkat gangguan tertinggi terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz dan perairan sekitarnya.

Lembaga riset UBS menambah, walau lalu lintas kapal di Selat Hormuz sedikit meningkat, insiden serangan masih terus terjadi sehingga risiko distribusi migas diperkirakan kian memuncak apabila dukungan angkatan laut AS melemah.

UBS memproyeksikan harga minyak Brent akan tetap berada di kisaran tinggi dekat 110 dolar AS per barel hingga akhir tahun, naik dari estimasi awal yang berada di tingkat 100 dolar AS per barel.

Di sisi lain, pasar memantau perkembangan politik di Israel terkait pelaksanaan pemilu parlemen, yang dinilai para analis Commerzbank berpotensi mempengaruhi arah kebijakan militer dan eskalasi konflik terhadap Iran.

Dari kawasan Eropa Timur, pasokan minyak mentah Rusia dari pelabuhan Laut Baltik dan Laut Hitam diperkirakan menurun pada bulan depan.

Hal ini dipicu oleh peningkatan aktivitas pengolahan kilang domestik Rusia guna memproduksi lebih banyak diesel setelah berhentinya gelombang serangan drone serta berakhirnya masa pemeliharaan fasilitas kilang.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com