- IHSG sebelumnya menguat 0,31 persen dengan aksi beli bersih asing senilai sekitar Rp258 miliar.
- The Fed mempertahankan suku bunga acuan dan Wall Street ditutup menguat merespons keputusan tersebut.
- Bursa saham Asia mayoritas mencatatkan penguatan yang didorong oleh reli sektor teknologi dan kecerdasan buatan.
Dari faktor eksternal, keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga acuan (Fed Funds Rate) di kisaran 3,75%–4,00% sesuai ekspektasi pasar memberikan sentimen penopang bagi ekuitas global.
Kendati demikian, inflasi AS yang masih tinggi serta adanya pandangan ketat (hawkish) dari sejumlah pejabat The Fed mengindikasikan risiko pengetatan moneter belum sepenuhnya usai. Investor kini mencermati publikasi data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) dan estimasi awal PDB kuartal ketiga AS.
Bursa Wall Street merespons positif keputusan tersebut dengan penutupan menguat: Dow Jones naik 0,19 persen, S&P 500 bertambah 0,28 persen, dan Nasdaq Composite terkerek 0,27 persen.
Saham sektor teknologi mencatatkan dinamika beragam, di mana Vertiv melesat 16,5 persen dan Micron Technology naik 5,9 persen, sementara Alphabet terkoreksi lebih dari 7 persen pasca-rilis laporan keuangan.
Di kawasan Asia, bursa saham mayoritas mencatatkan rebound didorong oleh reli sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Indeks KOSPI Korea Selatan melonjak lebih dari 6 persen menyusul lonjakan laba operasional raksasa semikonduktor SK Hynix.
Indeks Taiex Taiwan melesat 2,04 persen, Nikkei Jepang menguat 1,08 persen, CSI 300 China naik 0,85 persen, dan Hang Seng Hong Kong terangkat 0,23 persen.
Dari dalam negeri, perhatian investor tetap tertuju pada pengumuman laporan keuangan emiten periode kuartal III-2026 sebagai petunjuk arah kinerja fundamental di tengah fase pemulihan pasar.
DISCLAIMER: Artikel ini disajikan murni untuk pemenuhan hak informasi publik mengenai dinamika pasar modal, indikator teknikal, dan perkembangan ekonomi global. Seluruh data angka, proyeksi teknikal, serta rekomendasi saham disadur secara presisi dari hasil riset BNI Sekuritas, MNC Sekuritas, Binaartha Sekuritas, dan BRI Danareksa Sekuritas. Artikel ini bukan merupakan rekomendasi atau ajakan untuk melakukan transaksi investasi saham.