Bos CFX Ungkap Biang Kerok Penyebab Pasar Kripto RI Loyo

Senin, 02 November 2026 | 09:55 WIB
Direktur Utama CFX, Subani. [Suara.com/Alfian Winanto].
BACA 10 DETIK
  • Pasar kripto RI tertekan sejak akhir 2025, penurunan mulai terjadi pada kuartal IV-2025 dan berlanjut hingga kuartal III 2026, seiring gejolak ekonomi dan geopolitik global.
  • CFX menilai perang dagang, kebijakan ekonomi Amerika Serikat, konflik Iran, serta penutupan Selat Hormuz turut memengaruhi pasar kripto Indonesia melalui pergerakan pasar global.
  • Pada kuartal III 2026, pasar kripto mulai mengalami sedikit recovery. Harga Bitcoin disebut kembali bergerak di kisaran 70.000-80.000 dolar AS.

Suara.com - Bursa aset kripto, PT Central Finansial X (CFX) mengungkapkan, pasar kripto Indonesia memang alami tekanan sejak kuartal IV-2025. Penurunan tersebut dinilai tidak terlepas dari gejolak ekonomi dan geopolitik global, mulai dari perang tarif dagang hingga konflik Iran yang turut memengaruhi pergerakan pasar aset kripto dunia.

Direktur Utama CFX, Subani, mengatakan kondisi pasar kripto di Indonesia sangat berkaitan dengan perkembangan pasar global. Menurut dia, berbagai kebijakan ekonomi negara besar, khususnya Amerika Serikat, ikut memengaruhi pergerakan harga aset kripto.

Ia menjelaskan, tekanan pasar mulai terasa pada kuartal IV 2025, ketika perang tarif dagang terjadi. Kondisi tersebut kemudian berlanjut hingga 2026, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Sebuah koin Bitcoin di atas smartphone yang menampilkan grafik pasar. (Pexels)

"Jadi kalau kita lihat pasarnya Marketnya memang betul di kuartal keempat itu sudah mengalami penurunan yang cukup luar biasa Dan itu memang semata-mata karena di Indonesia itu pasti mirorring dengan apa yang terjadi di global Jadi sangat berkaitan dengan apa yang terjadi Dan makro ekonomi global seperti apa itu akan mengaruhi Dan juga kebijakan-kebijakan terutama negara besar seperti Amerika," ujar Subani dalam Executive Talk bersama Suara.com, yang dikutip, Senin (2/11/2026).

Subani melanjutkan, konflik Iran dan penutupan Selat Hormuz turut menjadi faktor yang memengaruhi kondisi pasar global. Dampaknya tidak hanya dirasakan di pasar internasional, tetapi juga merembet ke perdagangan kripto di Indonesia.

"Terjadi ada perang tarif dagang Lalu masuk di 2026 sudah mulai ada perang di Iran, Penutupan Selat Hormuz itu semua mempengaruhi keadaan market global untuk crypto di dunia Itu akan langsung mempengaruhi juga dengan market yang ada di Indonesia Jadi tidak terpengaruh dengan apa yang terjadi di negara kita," bebernya.

Menurut Subani, tekanan pasar kripto tersebut berlanjut hingga memasuki kuartal III-2026. Dengan demikian, pergerakan pasar domestik tidak bisa dilepaskan dari dinamika ekonomi dan geopolitik internasional.

Meski demikian, pasar kripto mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada kuartal III-2026. Subani menyebut harga Bitcoin mulai mengalami kenaikan dan kembali bergerak di kisaran 70.000 hingga 80.000 dolar AS.

"Namun kita melihat ada sedikit recovery di kuartal ketiga di tahun 2026, Dimana level harga bitcoin juga sudah sedikit naik, Sudah di level 80 ribuan. Sampai sekarang masih di level 70-80 ribuan," pungkasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com