- Badan Pusat Statistik mencatat Nilai Tukar Petani nasional naik 1,13 persen pada Oktober 2026.
- Subsektor hortikultura mencetak kenaikan NTP tertinggi sebesar 6,88 persen yang didorong lonjakan harga panen.
- Nilai tukar nelayan tangkap justru mengalami penurunan sebesar 0,99 persen akibat anjloknya harga ikan.
Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) secara nasional pada Oktober 2026 mengalami peningkatan sebesar 1,13 persen. Namun nasib yang petani justru berbanding terbalik dengan nelayan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mulanya memaparkan bahwa subsektor hortikultura mencetak kenaikan NTP paling tinggi dibandingkan subsektor pertanian lainnya.
"Subsektor yang mengalami kenaikan NTP tertinggi yaitu hortikultura. Mengalami kenaikan NTP-nya sebesar 6,88 persen," kata Ateng dalam konferensi pers yang dipantau virtual, Senin (2/11/2026).
Kenaikan ini terjadi karena indeks harga hasil panen yang dinikmati petani melonjak jauh melampaui indeks harga barang yang harus mereka bayarkan. Komoditas utama yang mendongkrak keuntungan petani hortikultura ini didominasi oleh cabai merah, tomat, dan cabai rawit.
"Hal ini terutama disebabkan indeks harga yang diterima oleh petani hortikultura naik cukup tinggi yaitu naik 7,12 persen. Sedangkan indeks harga yang dibayar petani hortikultura hanya mengalami kenaikan sebesar 0,23 persen," lanjut dia.
Di sisi lain, Ateng melaporkan bahwa kesejahteraan nelayan tangkap tertekan karena harus menghadapi beban ganda berupa penurunan harga ikan.
"Untuk nilai tukar nelayan atau NTN mengalami penurunan sebesar 0,99 persen," ungkapnya.
Penurunan harga yang diterima oleh nelayan ini paling banyak dipengaruhi oleh anjloknya harga komoditas ikan tongkol, layang, dan cakalang.
"Penurunan nilai tukar nelayan terutama karena indeks harga yang diterima oleh nelayan turun sebesar 0,51 persen. Sedangkan indeks harga yang dibayar mengalami peningkatan 0,49 persen," pungkas Ateng.