Laba MNC Bank Tergerus, Dana Deposito Kabur dan Kredit Bermasalah Membengkak

Selasa, 03 November 2026 | 12:58 WIB
Ilustrasi. Kinerja PT Bank MNC Internasional Tbk. (BABP) menghadapi tekanan berlapis sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Foto ist.
BACA 10 DETIK
  • DPK MNC Bank anjlok 17,12 persen, sementara LDR melonjak menjadi 105,83 persen.
  • NPL gross naik menjadi 4,64 persen, rasio kredit berkualitas rendah mencapai 34,84 persen.
  • Laba bersih BABP turun 22,78 persen menjadi Rp46,63 miliar hingga September 2026.

Suara.com - Kinerja PT Bank MNC Internasional Tbk. (BABP) menghadapi tekanan berlapis sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Bukan hanya laba yang merosot, bank milik konglomerat Hary Tanoesoedibjo ini juga dibayangi penyusutan dana masyarakat, memburuknya kualitas kredit, hingga meningkatnya risiko likuiditas.

Salah satu persoalan yang mencolok adalah menyusutnya dana pihak ketiga (DPK) di tengah ekspansi penyaluran kredit. Berdasarkan laporan keuangan kuartal III/2026, DPK MNC Bank tercatat Rp11,32 triliun, turun 17,12 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) dari Rp13,66 triliun.

Penyusutan paling dalam terjadi pada simpanan deposito yang anjlok 24,35 persen YoY menjadi Rp8,50 triliun dari sebelumnya Rp11,24 triliun. Sementara itu, giro tercatat Rp1,20 triliun dan tabungan sebesar Rp1,62 triliun.

Ironisnya, di tengah keluarnya dana nasabah tersebut, penyaluran kredit justru tumbuh 8,38 persen YoY menjadi Rp12,02 triliun dari Rp11,09 triliun.

Kondisi ini membuat rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) melonjak dari 80,87 persen menjadi 105,83 persen. Angka tersebut mengindikasikan penyaluran kredit telah melampaui total dana pihak ketiga yang dihimpun bank, sehingga kebutuhan pengelolaan likuiditas menjadi semakin besar.

Tekanan terhadap likuiditas itu juga terjadi bersamaan dengan memburuknya kualitas aset produktif. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross meningkat dari 4 persen menjadi 4,64 persen, sedangkan NPL net naik dari 2,80 persen menjadi 3,50 persen.

Tak hanya itu, rasio kredit berkualitas rendah turut melonjak dari 24,41 persen menjadi 34,84 persen. Kondisi tersebut menjadi sinyal tambahan bahwa risiko kredit yang harus dihadapi perseroan semakin besar.

Tekanan juga terlihat pada kemampuan bank menghasilkan pendapatan dari aktivitas intermediasi. Beban bunga MNC Bank melonjak 51,05 persen YoY, jauh melampaui pertumbuhan pendapatan bunga yang hanya mencapai 6,52 persen.

Akibatnya, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) tertekan 44,52 persen menjadi Rp389,76 miliar. Margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) pun menyusut dari 3,20 persen menjadi 2,76 persen.

Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) juga mengalami penurunan dari 24,50 persen menjadi 20,68 persen. Meski demikian, rasio tersebut masih berada di atas ketentuan minimum yang berlaku.

Rentetan tekanan tersebut akhirnya tercermin pada laba bersih perseroan. MNC Bank hanya mampu mengantongi laba bersih Rp46,63 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2026, turun 22,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pembengkakan beban operasional turut memperberat kinerja. Beban tenaga kerja meningkat 9,51 persen YoY menjadi Rp184,45 miliar, beban promosi naik 3,83 persen menjadi Rp17,93 miliar, sementara beban lainnya tumbuh 7,82 persen menjadi Rp248,08 miliar.

Padahal, perseroan sebenarnya mencatatkan pertumbuhan pendapatan komisi sebesar 56,59 persen YoY menjadi Rp100,3 miliar. Namun, tambahan pendapatan tersebut belum cukup menahan tekanan dari bisnis inti perbankan.

Laba operasional MNC Bank pun menyusut 18,12 persen YoY menjadi Rp52,42 miliar. Di sisi lain, total aset perseroan juga turun 8,29 persen YoY menjadi Rp18,79 triliun dari Rp20,49 triliun.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com